Hidup Merdeka!

0
69

Oleh: Andi Suwirta

Salah satu slogan yang terkenal pada masa revolusi Indonesia, 1945-1950, adalah “Merdeka atau Mati!”. Slogan ini, umumnya, diucapkan oleh para pemuda Indonesia dengan gagah berani. Dengan slogan ini pula para pemuda Indonesia siap menyabung nyawa dalam pertempuran yang mematikan di mana-mana: mulai dari Medan di Sumatera hingga ke Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya di Jawa.

Chairil Anwar, generasi 1940-an, dalam puisinya menyatakan “Kami mati muda”, yang tinggal tulang-tulang berserakan diliputi debu. Soe Hok Gie, generasi 1960-an, dalam catatan hariannya dengan bangga menyatakan “Nasib baik mati muda, nasib sial mati tua”. Bahkan mahasiswa generasi 1990-an, dalam demonstrasi jalanan, dengan heroik menyatakan “Reformasi atau Mati!”.

Adakah slogan-slogan yang hebat itu sesuai dengan kenyataan? Slogan yang berfungsi sebagai pembangkit semangat, nampaknya adalah satu hal. Implementasi slogan itu, oleh para pelakunya, adalah hal yang lain lagi. Sebagaimana slogan “Merdeka atau Mati!” pada masa revolusi, para pemimpin Indonesia yang tenang dan berpandangan jauh ke depan tidak sepenuhnya setuju dengan slogan itu.

Mohamad Hatta, misalnya, Wakil Presiden pada masa revolusi Indonesia, menyatakan dengan berseloroh bahwa kalau para pemuda itu mati semua, lantas siapa yang akan mewarisi dan meneruskan perjuangan kemerdekaan Indonesia? Karena itu, tokoh yang dianggap sangat tenang, dengan hati panas tapi kepala tetap dingin ini, mengusulkan agar slogan “Merdeka atau Mati!” diubah menjadi “Merdeka dan Hidup Merdeka!”.

Revolusi dan Sumpah Pemuda

Adalah Ben Anderson, seorang Indonesianis dari Amerika Serikat, yang membuat tesis tentang revolusi pemuda di Indonesia. Para pemuda, kata Ben Anderson, memegang peranan penting dalam setiap perubahan sosial-politik di Indonesia. Walaupun tesisnya Ben Anderson ini kemudian dibantah oleh William H. Frederick, yang menyatakan bahwa hanya pemuda yang terdidik, punya visi ke depan, dan memiliki jaringan luas saja, dilabel sebagai “Priyayi Baru”, yang punya peran penting dan signifikan.

Para pemuda memang sering membuat sumpah yang hebat dan spektakuler. Jika generasi 1920-an sangat bangga dengan “Sumpah Pemuda”, yang menyatakan satu Tanah Air, Bangsa, dan Bahasa Indonesia, maka generasi 1940-an pun tidak mau kalah. Mereka membuat sumpah yang aneh-aneh, sabagaimana terekam dalam media massa, seperti: “Saya tidak akan menikah, sebelum Indonesia merdeka” atau “Saya tidak akan mencukur rambut saya, sebelum Belanda angkat kaki dari Indonesia”. Karena dua tahun setelah Indonesia merdeka, Belanda masih tetap bercokol di Indonesia, maka pada tahun 1947, banyak juga para pemuda yang menikah dan mencukur rambut mereka.

Akhirnya, para pemuda yang berhasil mewarisi dan menikmati kemerdekaan Indonesia bukanlah mereka yang memekikkan slogan “Merdeka atau Mati!”. Mereka yang menjadi korban-korban pertempuran di Medan, Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya pada masa revolusi Indonesia memang telah menjadi “pahlawan tak dikenal” dan “kusumah bangsa”. Tapi sejatinya, para pemuda yang akur dengan slogannya Mohamad Hatta lah, yakni “Merdeka dan Hidup Merdeka!”, yang berhasil meneruskan perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia, hingga di hari tua.

Makna Merdeka yang Sejati

Begitu juga dengan generasi 1960-an, yang berhasil menumbangkan regim Orde Lama untuk digantikan oleh pemerintah Orde Baru, pewaris dan penerus sejatinya bukanlah seperti yang dinyatakan oleh Soe Hok Gie, “Nasib baik mati muda, nasib sial mati tua”. Bukan pula seperti nasib mahasiswa UI (Universitas Indonesia), Arif Rahman Hakim, yang mati muda dan menjadi martir bagi kebangkitan zaman Orde Baru. Apakah para pemuda ini mati sia-sia? Tentu tidak. Nama mereka tetap dikenang, dengan diabadikan menjadi nama jalan atau dibuatkan film perjuangan kebangkitan generasi 1966.

Sejatinya, pemuda dengan slogan “Merdeka dan Hidup Merdeka!” pula yang bisa berkiprah dan meneruskan perjuangan Orde Baru, hingga pemerintahan ini pun tumbang oleh gerakan mahasiswa yang masif pada 1998. Tapi kembali lagi, para pemuda dan mahasiswa ini membuat sumpah dalam aksi demonstrasi di jalanan yang juga hebat, yakni “Reformasi atau Mati!”.

Jelas sudah sekarang, pelanjut perjuangan Reformasi bukanlah 4 mahasiswa dari UNSAKTI (Universitas Trisakti) yang gugur dalam aksi demonstrasi. Para pemuda dan mahasiswa yang menjadi motor penggerak Reformasi itu kini menikmati hasil perjuangan mereka dulu, dengan menjadi Menteri, Anggota dan Pimpinan DPR, Pimpinan Partai Politik, Duta Besar, Pengusaha, dan profesi lainnya yang empuk. Mungkin mereka juga menyindir dan membalikkan kata-kata Soe Hok Gie, “Nasib baik mati tua, nasib sial mati muda”.

Dalam konteks menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ini, mungkin relevan bagi kita untuk membuat refleksi kritis: apa makna merdeka yang sejati di era Reformasi? Kembali kepada pernyataan Mohamad Hatta, lebih dari 70 tahun yang lalu, bahwa para pemuda tidak hanya harus berslogan “Merdeka dan Hidup Merdeka!”. Tapi juga, kemerdekaan itu harus dimaknai dengan kemajuan dan kesejahteraan bangsa Indonesia dalam konteks perbandingan dengan kemajuan dan kesejahteraan bangsa-bangsa lain di dunia.

Akhirnya, Indonesia memang sudah merdeka, tapi kalau masyarakat dan bangsanya belum maju dan sejahtera bila dibandingkan dengan negara tetangga, misalnya, yang merdeka belakangan (Malaysia merdeka tahun 1957, Singapura merdeka tahun 1965, dan Brunei Darussalam merdeka tahun 1984), maka kita juga wajib mengkritisi slogan “Merdeka dan Hidup Merdeka?”. Wallahu’alam.

===

Keterangan: Artikel opini ini semula berjudul “Merdeka dan Hidup Merdeka! Refleksi Menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia”. Setelah dikirim ke Redaksi suratkabar Pikiran Rakyat di Bandung, judul mengalami perubahan singkat, yakni “Hidup Merdeka!”, dan diterbitkan dalam suratkabar tersebut pada hari Jum’at, 18 Agustus 2017.

Andi Suwirta adalah Dosen Departemen Pendidikan Sejarah UPI dan Ketua Umum ASPENSI (Asosiasi Sarjana Pendidikan Sejarah Indonesia) di Bandung. Emel: [email protected]

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here