Wara Wiri Seputar Capres Kita

8
412

Oleh: Asma Nadia

Awalnya bisik-bisik. Suara-suara silih berganti. Saya yakin bukan cuma saya yang tersapa, tetapi semua.

“Sebelumnya saya pendukung fanatik. Tetapi ketika daerah yang diurus saja belum beres, dia sudah meninggalkan amanah yang diberikan pemilihnya, saya kecewa. Kesannya kami cuma dijadikan batu loncatan!”

“Saya justru merasa beliau siap mengemban tugas lebih besar untuk negara.”

“Kalau dia yang memimpin, takutnya preman makin merajalela!”

Wah, justru jika dia yang jadi presiden, kita akan dihormati dunia dan tidak diremehkan. Bangsa akan punya harga diri. Tidak jadi boneka bangsa asing. Indonesia butuh pemimpin tegas dan berwibawa!”

“Saya suka, soalnya dia orangnya merakyat!”

“Kenapa ya, kalau dia melakukan kunjungan ke sana kemari, kok kayaknya hanya pencitraan!”

“Cuma dia yang benar-benar membela TKI (Tenaga Kerja Indonesia) dengan tindakan nyata, terbukti, dan bukan sekedar basi-basi!”

Lho, tapi calon saya yang mendukung mobil nasional!”

“Jangan lupa, dia sudah berhasil membuat lembaga yang dipegangnya menjadi lembaga yang dihormati dunia!”

“Dia membuktikan menjadi pemimpin yang mendapat banyak penghargaan internasional!”

“Apakah hukum jadi panglima kalau dia yang terpilih. Takutnya nanti dia hanya melindungi koalisinya?”

“Saya merasa dia justru tidak pandai bekerja sama dengan partai lain, sehingga tidak banyak yang mau berkoalisi!”

“Di keluarganya ada yang bukan Muslim, apakah bisa mewakili aspirasi umat Islam?”

“Justru dengan keluarga plural, ia bisa membuat umat Islam dan yang lain hidup damai dan berdampingan!”

“Keluarganya mempunyai reputasi orang sukses, baik sebagai ilmuwan, pebisnis, atau militer!”

“Kalau calon saya justru contoh pemimpin yang berasal dari bawah!”

“Ada ide yang pernah diterapkan di daerah yang dipimpinnya, yang diadaptasi jadi program nasional, lho!”

“Ide capres saya malah banyak mengadaptasi dan diadaptasi dunia internasional!”

“Saya suka capresnya, tapi kurang cocok dengan wapresnya!”

“Saya malah lebih suka wapresnya, tapi kurang cocok dengan capresnya!”

Semakin berlalu waktu, suara itu tak lagi bisik-bisik. Semua urun bicara. Ya, kalimat-kalimat di atas adalah sederetan pendapat yang berseliweran di sekitar kita, seputar capres (calon presiden) yang akan maju dalam pemilihan presiden nanti.

boxing.prabowo.jokowiYang menarik, rangkaian kalimat tersebut bukan muncul dari politisi, lembaga survey, atau lembaga lain yang mempunyai reputasi tinggi. Celotehan di atas justru saya dapatkan dari obrolan dengan supir taksi, pembantu rumah tangga, remaja yang baru punya hak pilih, pekerja sederhana, dan kelompok masyarakat yang sepintas tidak memiliki latar pendidikan tinggi.

Jujur, ketika berbincang dengan mereka, saya mendapat banyak jawaban yang mencengangkan. Ternyata mereka berpikir sangat kritis dan cerdas menilai dua calon yang ada.

Awalnya sempat terselip kekhawatiran, bahwa rakyat kecil hanya akan menjadi objek dalam pemilihan presiden mendatang.

Awalnya saya takut, mereka hanya menjadi korban janji-janji palsu dan slogan kosong, atau penerima “sogokan” dari oknum yang memiliki kepentingan tertentu, yang hanya bersifat sementara.

Akan tetapi kini saya optimis. Menyaksikan berbagai lapisan masyarakat, termasuk yang sering dianggap kalangan bawah, ternyata cukup melek politik.

Mereka tahu siapa yang harus dipilih. Mereka tidak buta. Bahkan masyarakat kecil pun bisa melihat secara jelas dan kasat mata sepak-terjang kedua kandidat, sebab nyaris setiap saat para calon presiden hadir di pemberitaan atau diskusi-diskusi kecil di tengah masyarakat.

Setidaknya saat ini saya yakin, siapapun yang terpilih nanti merupakan pilihan rakyat, hasil dari pemikiran dan pertimbangan mendalam, bukan sekadar asal-asalan.

Lalu bagaimana dengan kalangan terpelajar yang memutuskan menjadi GOLMAL alias golongan malas, dalam memilih? Supir taksi yang saya ajak diskusi, yang sepanjang perjalanan melontarkan pendapat-pendapat cerdas, mendadak kelu, ketika pertanyaan terakhir saya lontarkan. Termenung, sebelum menjawab,

“Kalau kami yang orang bawah dan bodoh ini saja tetap memilih, semoga mereka yang wong pintar tak menyerahkan nasib bangsa, pada kalangan pemilih asal-asalan, atau yang suaranya bisa dibeli. Toh yang tidak memilih pun akan menanggung akibat dari pilihan orang lain.”

Sangat benar.

Semoga semua memilih. Semoga Indonesia nanti dipimpin seseorang yang akan membuat bangsa ini menjadi bangsa besar yang maju dan bermartabat.

===

Catatan kaki: Artikel opini ini terpajang dalam media online, REPUBLIKA, di Jakarta, Indonesia, pada hari Sabtu, tanggal 7 Juni 2014. Artikel asali dan lengkap, dapat dikunjungi pula secara langsung di: http://www.republika.co.id/berita/pemilu/hot-politic/14/06/06/n6qt8o-ini-persiapan-prabowo-untuk-jadi-presiden-ri [diakses di kaki-bukit Gunung Manglayang, Komp Vijaya Kusuma, Cipadung, Bandung, Jawa Barat, Indonesia: 7 Juni 2014].

Asma Nadia ialah seorang wartawati dari surat kabar REPUBLIKA di Jakarta, Indonesia.

SHARE

8 COMMENTS

  1. Seronok la gambar tu. Nak tanya, macam mana siapa yang nak berjaya dan tewas dalam undi Presiden terus nanti? Kami, di Malaysia, belum boleh buang undi terus untuk memilih PM kami. Kami nak belajar banyak daripada Indonesia bersabit isu dan amalan demokrasi yang menyeronokkan. Tahniah dan salam muhibah.

    • Salam, tuan Awang. Yang pasti Prabowo-Hatta akan memang dalam Pilpres nanti. Prabowo sudah terbukti mampu meyakinkan masyarakat Internasional dengan berbicara dalam bahasa Inggris tentang perkembangan demokrasi di Indonesia.

      Bagaimana kalau Jokowi yang menang? Waktu dia ditanya oleh wartawan asing tentang “How about the development of democracy in Indonesia, mr President?”. Inilah jawaban Jokowi, “Rapopo sir, lha wong NKRI (Negara Kartu Republik Indonesia) is very important kok”.

      Ha ha ha.

  2. Inilah 5 langkah Pedoman Memilih Presiden RI, menurut Profesor Matematika, pada tanggal 9 Juli 2014 nanti:

    Pertama, umur pemilih X 2 (krn jumlah Capres 2), terus
    Kedua, hasilnya ditambah 9 (krn Pilpres tgl 9), terus
    Ketiga, hasilnya dikurangi 7 (krn Pilpres bln ke-7), terus
    Keempat, hasilnya dibagi 2, dan
    Kelima, hasilnya anda kurangi usia anda.

    Nah, nomor itu yang anda pilih/coblos!

    Jangan lupa, kasih tau yah istri/suami, pacar, anak, adik, abang, paman, uwak, atuk, dan teman2 anda di seluruh Indonesia!

    Terima kasih dan salam.

  3. Saudara2 se-bangsa dan se-tanah air. Izinkanlah saya akan membacakan hal penting berikut ini:

    P R O K L A M A S I (jilid 2)

    Kami bangsa Indonesia, dengan ini menyatakan Kebangkitan Indonesia.
    Hal-hal mengenai Reformasi Kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya.

    Jakarta, 17 Agustus 2014
    Atas nama bangsa Indonesia,

    PRABOWO – HATTA

  4. Atuk Kalla, dulu tahun 2009, waktu ditanya kalau tidak terpilih sebagai Capres akan melakukan apa? Jawabnya, balik kampung (ke Makassar) dan ngurus cucu. Terbukti, janji itu tidak ditepati!

    Sekarang, di tahun 2014, kita tanya lagi deh, kalau tidak terpilih lagi sebagai Cawapres akan melakukan apa? Jawabannya mengejutkan, “Saya pasti memang, asal Pemilu tidak curang”.

    Waktu dintanya lagi, kalau Pemilunya jujur bagaimana? Jawabnya, “Ya saya masuk kubur”.

    Istigfar atuk Kalla, anda sudah sangat senja dan tua. Masa ada Wapres di Indonesia yang usianya lebih dari 70 tahun? Zaman edan memang!

  5. Era ih, aya Presiden RI versi quick count. Mun ke eleh, pas diumumkeun ku KPU, wirangna moal katulungan. Kalebet eta cipanon ema Mega, geuning cipanon bayawak badag!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here