Brunei Tegakkan Syariat

0
309

Oleh: Zaim Saidi

Sebuah peristiwa penting bagi umat Islam terjadi menjelang akhir 2013. Pada 22 Oktober 2013, Sultan Hassanal Bolkiah menyatakan akan menerapkan syariat Islam di Kesultanan Brunei Darussalam.

Para pencuri yang terbukti bersalah akan dihukum potong tangan, para pezina dirajam, pembunuh diqishas, pelaku beberapa jenis kejahatan lain, termasuk peminum miras, akan dicambuk.

Sultan Bolkiah memastikan hukum jinayat ini akan segera berlaku enam bulan sejak diumumkannya, yakni April 2014 ini.

sultan-hassanal-bolkiah-bruneiKeputusan itu sendiri sebenarnya telah dibuat sekitar tiga bulan sebelumnya, yakni pada pertengahan Ramadhan 1434 H (Juli 2013), dengan sebutan Bil. 69 Perintah Kanun Hukuman Jenayah Syariah 2013.

Pengumumannya oleh Sultan Bolkiah pada Oktober 2013 itu sekaligus secara resmi mencatatkannya dalam Perlembagaan Negara Brunei Darussalam, Perkara 83 (3).

Kanun ini terdiri atas sejumlah bab dan pasal, dalam dokumen setebal 132 halaman. Isinya mencakup berbagai masalah yang terkena hadd, yaitu hukuman atau siksaan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasul SAW.

Di Brunei, seperti di Indonesia dan Malaysia, sejauh ini syariat Islam diterapkan hanya secara sangat terbatas pada masalah personal, yakni dalam hukum pernikahan dan waris.

Ketika Sultan Bolkiah memperluasnya ke masalah pidana, beberapa pihak yang anti-Islam mencela tindakan itu sebagai pengabaian hak sipil dan hak asasi.

Sebagian lagi menyatakan tindakan Sultan Bolkiah ini beralasan politis untuk mengonsolidasikam kekuasaannya.

Melongok stabilitas politik negeri itu selama 50 tahun terakhir dan tingkat kesejahteraan ekonomi penduduknya, dengan GNP/kapita sekitar 25 ribu dolar AS, alasan politis sebagaimana dituduhkan itu sangatlah kecil.

Di Brunei hak warga untuk memiliki harta juga sepenuhnya dijamin, dengan tanpa dipajaki sedikit pun, kecuali zakat yang diwajibkan syariat Islam yang hanya ditarik sekali setahun sebesar 2,5 persen.

Sultan Bolkiah pun menegaskan penerapan syariat Islam adalah untuk memenuhi kewajiban kita kepada Allah SWT. Dan tindakan itu merupakan bagian dari langkah besar sejarah Burnei Darussalam.

Ada sejumlah hal yang perlu umat Islam pahami dan renungkan dari peristiwa penting ini. Pertama, penduduk negeri Brunei yang majemuk, dengan warga Muslim hanya 67 persen, sama sekali tidak menjadi penghalang bagi ketaatan pada hukum Allah SWT dan Rasul SAW.

Sebagai ulil amri, yakni sultan yang dipandu oleh para fuqaha, Sultan Bolkiah dan rakyat Brunei mencontohkan kepada kita jalan kembalinya dan cara menegakkan syariat Islam.

Penerapan syariat Islam tidak memerlukan keputusan parlemen dengan undang-undang atau perda, tapi melalui titah seorang ulil amri, yaitu seorang sultan, yang didampingi oleh Dewan Shura.

Kedua, tata pemerintahan Islam dijalankan melalui Personal Rule, bukan sebuah komite, dan dipimpin oleh seorang sultan, bukan oleh presiden yang dipilih secara demokratis melalui pemilu.

Ini perlu dipahami dan dimengerti dalam konteks marak munculnya kembali kesultanan-kesultanan di nusantara, termasuk di Indonesia akhir-akhir ini.

Sultan bukanlah sekadar gelar atau jabatan, melainkan tugas dan kewenangan yang diatur dalam syariat Islam. Kesultanan Brunei memberikan contoh mutakhir tentang hal itu kepada kita.

Tiga, sampai saat ini, kita memang baru mendengar pelaksanaan syariat Islam di Brunei itu belum termasuk urusan muamalah di mana unsur pokok yang paling penting adalah diharamkannya riba.

Pemakan riba, pemakan timbangan, seharusnya masuk di dalam kanun itu dan harus dihukum berat. Dan, itu berarti pelarangan bank, dengan segala produknya, termasuk uang kertas.

Langkah ini pada akhirnya harus ditempuh karena syariat Islam tidak bisa dijalankan hanya sepotong-sepotong.

Keempat, meski syariat muamalah belum ditetapkan untuk diterapkan kembali, ketentuan tentang hukum pencurian dan diyat secara otomatis mengharuskan dicetak dan digunakannya kembali dinar dan dirham.

Sebab, hanya dengan dinar dan dirhamlah nisab dan nilai hukuman atas kejahatan mencuri dan yang mengharuskan diyat dapat ditentukan.

Nisab hukum potong tangan adalah 0,25 dinar atau 3 dirham. Diyat untuk penghilangan nyawa adalah 1.000 dinar.

Dan memang, dalam Kanun Hukuman Jenayah Syariah 2013, Sultan Bolkiah telah menetapkan nisab potong tangan dan diyat ini dalam dinar emas, yaitu 1 dinar (lebih ringan dari ketetapan Rasul SAW, yaitu 0,25 dinar atau 3 dirham) dan 1.000 dinar.

Kelima, becermin dari keputusan dan tindakan Sultan Bolkiah, kita melihat ada tiga orang sultan lain di nusantara: Sultan Bantilan II di Sulu (Filipina Selatan), Sultan PRA  Arief Natadiningrat di Kasepuhan, Cirebon, dan Sultan Mudaffar Sjah II di Kesultanan Ternate, telah mencetak dan mengedarkan dinar dan dirham.

Zakat juga telah mulai ditarik dan dibagikan dalam bentuk dinar dan dirham. Pasar-pasar terbuka, dengan muamalah dengan dinar dan dirham, pun telah mulai berjalan.

Para sultan inilah yang akan menyelamatkan rakyat dan umat pada masa depan di tengah mulai runtuhnya sistem kapitalisme riba yang kita saksikan hari-hari ini. Humanisme, produk keangkuhan manusia, telah terbukti gagal menyejahterakan manusia.

Kita memerlukan hukum Allah SWT dan Rasul-Nya. Syariat Islam bukan cuma soal ibadah, melainkan muamalah sehari-hari.

Dan, seperti ditunjukkan oleh Sultan Bolkiah, juga sultan-sultan lain di atas, merekalah yang akan kembali menegakkan syariat Islam di bumi ini.

Tugas dan kewajiban kita, rakyat dan umat Islam, adalah mendukung, mendengar, dan menaati mereka, para ulil amri, yang dipandu oleh para fuqaha.

===

Catatan kaki: Artikel opini ini terpajang dalam suratkabar online, REPUBLIKA, di Jakarta, Indonesia, pada tanggal 16 Maret 2014. Artikel asali dan lengkap, bisa dikunjungi juga secara langsung di: http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/14/03/16/n2id4b-brunei-tegakkan-syariat-bagian2-habis [diakses di kakibukit Gunung Manglayang, Komp Vijaya Kusuma, Cipadung, Bandung, Indonesia: 16 Maret 2014].

Penulis adalah Peneliti Senior PIRAC (Public Interest Research and Advocacy Center) di Jakarta, Indonesia.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here