Marwah Bangsa

0
105

Oleh: Yudi Latif

Tenaga kerja Indonesia di negeri jiran tak pernah henti dirundung malang: dilecehkan, ditindas, diperkosa, bahkan dibunuh. Berbagai perlakuan itu mengindikasikan tendensi negara-negara tetangga untuk merendahkan bangsa kita.

yudi.latiedTendensi superiority complex bangsa tetangga itu merupakan tamparan keras, yang mengindikasikan gerak mundur perkembangan Indonesia sebagai bangsa. Bagaimana tidak, bangsa tetangga yang menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia merengek ingin ikut karavan kebangsaan kita, dalam perkembangannya justru memperlihatkan kejemawaannya atas Indonesia.

Dalam persidangan BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia), Sukarno memberitahukan peserta sidang tentang adanya tiga orang perutusan pemuda Malaya dari Syonanto (Singapura) dan juga seorang pemimpin Malaya, Letnan Kolonel Abdullah Ibrahim, yang meminta agar Malaya dimasukkan ke dalam daerah Indonesia. Lantas dia katakan:

“Kecuali daripada itu tuan-tuan yang terhormat, kecuali keyakinan saya, bahwa rakyat Malaya sendiri merasa dirinya bangsa Indonesia, merasa dirinya bertanah air Indonesia, merasa dirinya bersatu dengan kita, kecuali dari pada itu saya berkata, walaupun ada bahaya yang akan mengatakan, bahwa saya ini seorang imperialis; bahwa Indonesia tidak akan bisa kuat dan selamat, jikalau tidak seluruh Selat Malaka di tangan kita dan musuh misalnya menguasai pantai Timur daripada Selat Malaka itu, maka itu berarti keselamatan Indonesia adalah terancam.”

Pendirian Sukarno mendapat sokongan dari Soetardjo dan Agoes Salim. Soetardjo menceritakan bahwa sewaktu dia bersama 19 orang tokoh Indonesia lainnya pergi ke Jepang dan singgah di Syonanto, berkali-kali rombongan diminta untuk mengadakan pertemuan dengan wakil-wakil rakyat Malaya. Lantas dia ceritakan bahwa wakil-wakil rakyat Malaya itu berpesan: “Kalau saudara-saudara mendapat kurnia Tuhan nanti Indonesia dimerdekakan, mendapat kemerdekaannya, janganlah lupa kepada kita.

Janganlah hendak memperoleh keenakan sendiri, tetapi ingatlah kepada kita sebab kita pun sebagian dari bangsa Indonesia. Hendaknya, saudara-saudara jangan lupakan hal itu.”

Singkat kata, menurutnya, “keras pesan mereka, supaya kalau Indonesia merdeka, Malaya dimasukkan dalam daerah Indonesia itu.” Agoes Salim menambahkan bahwa “jikalau tidak senapan Inggris sengaja membelokkan riwayatnya, niscayalah Tanah Melayu itu tidak akan ada lain penduduknya, melainkan orang Indonesia belaka dan semata-mata.”

Lantas bagaimana bisa, Indonesia yang dulu dianggap sebagai saudara tua dan guru revolusi Malaysia pada gilirannya begitu cepat terjungkir menjadi bangsa yang direndahkan oleh tetangganya?

Seperti nubuat yang memenuhi dirinya sendiri, jauh-jauh hari Bung Karno mengingatkan kita bahwa besar-kecilnya suatu bangsa tidaklah ditentukan oleh seberapa luas wilayahnya dan seberapa besar penduduknya. Dengan mengutip pendapat sejarawan H.G. Wells, ia menyatakan, “Anasir terpenting yang menentukan nasib suatu bangsa adalah kualitas dan kuantitas tekadnya.” Tekad sebagai sikap mental (state of mind) yang mencerminkan kuat-lemahnya jiwa bangsa.

Bung Karno berkali-kali menekankan perlunya membesarkan jiwa warga dan bangsa. “Tiap-tiap bangsa mempunyai orang-orang besar, tiap-tiap periode sejarah mempunyai orang-orang yang besar, tetapi lebih besar daripada Mahatma Gandhi adalah jiwa Mahatma Gandhi, lebih besar dari Stalin adalah jiwa Stalin, lebih besar daripada Roosevelet adalah jiwa Roosevelt […] lebih besar daripada tiap-tiap orang besar adalah jiwa daripada orang besar itu. Jiwa yang besar yang tidak tampak itu ada dalam dada tiap manusia, bahkan kita mempunyai jiwa sebagai bangsa. Maka kita sebagai manusia mempunyai kewajiban untuk membesarkan kita punya jiwa sendiri dan membesarkan jiwa bangsa yang kita menjadi anggota daripadanya.”

Tentang pentingnya kebesaran jiwa itu, Bung Hatta merisaukan lenyapnya peluang emas kemerdekaan Indonesia oleh kekerdilan jiwa bangsa sendiri. Dengan mengutip puisi Schiller, ia bernubuat, “Sebuah abad besar telah lahir, tetapi ia menemukan generasi yang kerdil.” Lantas ia ingatkan pentingnya jiwa kepemimpinan sebagai jangkar kebesaran bangsa. “Indonesia luas tanahnya, besar daerahnya, dan tersebar letaknya. Pemerintahan negara yang semacam itu hanya dapat diselenggarakan oleh mereka yang mempunyai tanggung jawab yang sebesar-besarnya, dan mempunyai pandangan yang amat luas. Rasa tanggung jawab itu akan hidup dalam dada kita jika kita sanggup hidup dengan memikirkan lebih dahulu kepentingan masyarakat, keselamatan nusa, dan kehormatan bangsa. Untuk mendapatkan rasa tanggung jawab yang sebesar-besarnya, kita harus mendidik diri kita sendiri dengan rasa cinta akan kebenaran dan keadilan yang abadi. Hati kita harus penuh dengan cita-cita besar, lebih besar dan lebih lama umurnya dari kita sendiri.”

Penghinaan warga Indonesia di negeri jiran mencerminkan kehinaan jiwa para pemimpin bangsa kita. Pemimpin yang hanya sibuk mematut-matut diri tanpa keluasan jiwa pelayanan dan perlindungan kepada warganya, secara tak sadar tengah mengorbankan rakyatnya sendiri jatuh ke tangan perbudakan internasional.

===

Catatan kaki: Artikel opini ini terpajang dalam surat kabar online, REPUBLIKA, di Jakarta, Indonesia, pada hari Rabu, 6 November 2013. Artikel lengkap dan asali bisa dikunjungi secara langsung di: http://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/13/11/06/mvtc0f-marwah-bangsa [diakses di kaki Gunung Manglayang, Komp Vijaya Kusuma, Cipadung, Bandung, Indonesia: 6 November 2013].

Dr. Yudi Latif adalah peneliti dan penulis produktif dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) di Jakarta.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here