Memaknai Inovasi dari Berbagai Perspektif dan Implikasinya bagi Dunia Pendidikan

1
486

Oleh: Andi SUWIRTA

Sebagaimana dinyatakan oleh Everett M. Rogers (1983:11) bahwa inovasi adalah an idea, practice, or object that is perceived as new by an individual or other unit of adoption. Atau lebih jelasnya Ibrahim (1988:40) menyatakan bahwa inovasi itu adalah suatu ide, barang, kejadian, atau metode yang dirasakan atau diamati sebagai suatu yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat).

Dari dua penjelasan di atas dapat ditarik suatu pemahaman bahwa keinovasian suatu gagasan, barang, atau kejadian terletak pada unsur ke-“baru”-annya. Namun masalahnya adalah tidak ada sesuatu yang baru di dunia ini, apa yang dianggap baru oleh individu atau masyarakat tertentu belum tentu dianggap baru oleh individu atau masyarakat lainnya. Yang membedakannya barangkali adalah masalah mode of perspective, cara dan gaya memandang.

Analoginya adalah tidak ada sesuatu yang baru dengan benda yang bernama “matahari”, ia telah ada sebelum individu atau masyarakat manusia ada dan akan terus ada, barangkali, setelah individu atau masyarakat itu tidak ada; ia juga setiap hari seperti biasa tetap terbit dari arah Timur dan terbenam ke arah Barat. Namun bagaimana seseorang atau masyarakat memanfaatkan sinar matahari dengan teknik dan metode baru untuk menghasilkan energi listrik; atau bagaimana sesorang atau masyarakat mengamati lintasan matahari dan planet-planet yang mengitarinya sehingga melahirkan perspektif teori Heliosentris untuk menggantikan teori Geosentris, jelas hal itu dipandang sebagai sebuah “inovasi” dalam bidang praktek dan gagasan.

Namun dalam perspektif sejarah inovasi, apa yang dianggap baru oleh individu atau masyarakat di sautu tempat belum tentu dianggap baru pula oleh individu atau masyarakat yang lainnya. Gagasan tentang “pendidikan seumur hidup” (life long education) di masyarakat Barat, misalnya, yang menjadi wacana dominan sejak zaman Renaissance (abad ke-16), jelas bukanlah hal yang baru bagi masyarakat Muslim karena telah dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW sejak abad ke-7 bahwa menunut ilmu penting mulai dari sejak lahir hingga wafatnya (Ma’arif, 1990).

Begitu juga dengan penemuan gagasan dan praktek kehidupan pemerintahan yang demokratis di masyarakat Barat yang dimulai dengan Magna Charta di Inggris (abad ke-13), Deklarasi Independen-nya Amerika Serikat (abad ke-17), dan Deklarasi Hak-hak Warga Negara di Perancis (abad ke-18), juga bukan hal yang baru bagi masyarakat muslim karena sejak abad ke-7 Nabi Muhammad SAW telah mencanangkan Piagam Madinah, sebuah konstitusi yang memberikan hak dan kewajiban yang sama kepada semua penduduk di Madinah (Watt, 1987:86).

Bagaimana Inovasi Bisa Diadopsi?

Everett M. Rogers menjelaskan “compatibility” sebagai the degree to which an innovation is perceived as being consistent with the existing values, past experiences, and needs of potential adopters. Dengan demikian maka hal-hal yang perlu diperhatikan agar inovasi itu bisa diterima adalah: kesesuaian nilai-nilai yang dianut, pengalaman masa lalu yang menyenangkan, dan kebutuhan-kebutuhan hidup yang relevan. Sedangkan “complexity” dimaksudkan sebagai the degree to which an innovation is perceived as difficult to understand and use (Rogers, 1983:15).

Di sini jelas bahwa pemahaman yang benar dan penggunaan yang baik terhadap suatu inovasi, betapapun sulit dan kompleksnya, akan bisa diterima dengan baik pula. Sementara itu yang dimaksud dengan “transferability” adalah kemampuan mentransfer dan seni mengalihkan hasil-hasil inovasi kepada individu atau masyarakat. Tentu saja dalam proses “transferability” ini banyak hal yang harus diperhatikan seperti: selain masalah-masalah “compatibility” dan “complexity” di atas, juga masalah “relative advantage” (keuntungan relatif) bagi individu atau masyarakat terhadap inovasi; “triability” (teruji berdasarkan pengalaman); dan “observability” (dapat diterapkan dan mungkin dilaksanakan oleh banyak orang).

Sekaitan dengan atribut-atribut inovasi di atas – compability, complexity, and transferability – maka seorang change agent harus mengupayakan langkah-langkah agar inivasi dan hasil-hasilnya itu dapat berjalan dengan sukses. Di antara langkah-langkah itu adalah:

Pertama, seorang change agent harus mampu meyakinkan individu atau masyarakat bahwa inovasi dan hasil-hasilnya akan ditetapkan itu tidak bertentangan dengan nilai-nilai, keyakinan, pandangan hidup, norma, tradisi, dan hukum yang berlaku di masyarakat tersebut. Sebuah inovasi yang sesuai dan relevan dengan konteks struktur nilai, norma, dan hukum masyarakatlah yang akan mudah diadopsi dan diimplementasikan secara luas.

Kedua, seorang change agent harus meyakinkan dan menunjukkan kepada individu atau masyarakat bahwa inovasi dan hasil-hasilnya itu memberikan keuntungan relatif, berguna, bermanfaat, dan memberikan kemudahan bagi masyarakat. Hanya inovasi dan hasil-hasilnya yang dipandang menguntungkan, bermanfaat, dan memberikan kemudahan hidup bagi masyarakat yang akan bisa diadopsi secara massal.

Ketiga, seorang change agent harus mensurvey, meneliti, dan mengkaji kebutuhan-kebutuhan potensial individu atau masyarakat agar inovasi dan hasil-hasilnya yang akan diterapkan kepada masyarakat itu sesuai dan relevan kebutuhan-kebutuhan tersebut. Dengan demikian inovasi dan hasil-hasilnya telah berhasil mentransformasikan kebutuhan-kebutuhan individu atau masyarakat yang bersifat “potensial” menjadi aktual (manifest).

Ketiga hal di atas bisa berlaku umum bagi proses difusi sebuah inovasi. Tapi seorang change agent juga harus memperhatikan karakteristik dan ciri-ciri khusus seorang individu atau kelompok masyarakat agar inovasi dan hasil-hasilnya yang akan disosialisasikan dapat berjalan dengan sukses. Karena itu seorang change agent mesti berwawasan luas dan memiliki kemampuan profesional tidak hanya di bidang pengetahuan teoritik (Sosiologi, Sejarah, Antropologi, Psikologi, Ilmu Agama, Ilmu Politik, Ilmu Ekonomi, dan Ilmu Budaya) tetapi juga keterampilan praksis (seni diplomasi, retorika, negosiasi, diskusi, dan presentasi). Seorang change agent, dengan demikian, adalah manusia multidimensi yang memiliki pengetahuan, wawasam, kemampuan, keterampilan, sikap, dan penampilan profesional (Ibrahim, 1988).

Strategi Inovatif dalam Dunia Pendidikan

Dunia persekolahan adalah merupakan subsistem dan bagian dari sistem pendidikan nasional. Sebagaimana umumnya sebuah pendekatan sistem jika unsur atau bagian dari sistem itu berubah maka akan mempengaruhi sistem itu sebagian atau keseluruhan (Lauer, 2001:106-23). Sekolah sendiri bisa juga dipandang sebagai subuah sistem di mana unsur-unsurnya seperti Kepala Sekolah, Penilik/Pengawas, Pejabat Dinas Pendidikan, Guru, Siswa, Karyawan, Orang Tua Siswa, dan Tokoh Masyarakat merupakan bagian integral dari sistem persekolahan itu. Dengan pemahaman seperti ini menjadi jelas tergambar bagaimana jika sebuah inovasi pendidikan dan hasil-hasilnya ingin diterapkan di dunia persekolahan.

Sementara itu dunia pendidikan sendiri, baik di tingkat persekolahan maupun di perguruan tinggi, merupakan institusi yang membawa misi dan peran inovasi. Di dunia pendidikanlah semestinya berbagai pembaharuan dan inovasi itu dilakukan. Tujuan pendidikan sendiri – baik di tingkat persekolahan maupun di perguruan tinggi – secara umum adalah untuk mempersiapkan warga masyarakat yang kreatif, cerdas, terampil, beriman dan bertakwa, bertanggung jawab, dan bisa membangun masyarakatnya (Hasan, 1996). Dengan demikian menjadi jelas bahwa dunia pendidikan mesti memerankan dirinya sebagai change agent bagi kemajuan masyarakat. Jika peran ini tidak mampu dilakukan, maka ia akan menjadi “menara gading” (ivory tower) yang terasing dan jauh dari dinamika perubahan masyarakat.

Sekaitan dengan itu, peran dan strategi yang semestinya ditempuh agar inovasi pendidikan di sekolah itu dapat berhasil adalah dapat ditempuh dengan menggunakan pendekatan top down, bottom up, atau gabungan dari keduanya. Dengan pendekatan top down, inovasi pendidikan itu bisa saja mulai diperkenalkan oleh tokoh-tokoh yang punya otoritas di sekolah, apakah ia Kepala Sekolah, Penilik/Pengawas, Pejabat Dinas Pendidikan, atau Guru Sekolah. Jika dirasakan manfaatnya, sesuai dengan nilai-nilai, dan kebutuhan potensial, maka inovasi itu akan diterima oleh warga sekolah. Dan sekolah yang telah menerima inovasi ini, sangat boleh jadi, akan diikuti pula oleh sekolah lain atau oleh masyarakat di sekitar sekolah itu. Inovasi, dengan demikian, telah menyebar secara bertahap, dari atas ke bawah, pelan namun pasti.

Sementara itu pendekatan yang bersifat bottom up dapat dijelaskan bahwa inovasi pendidikan itu datang dari bawah, mungkin dari siswa, guru, atau orang tua siswa. Karena dinilai bermanfaat, berguna, relevan dengan nilai-nilai yang ada, memberikan keuntungan dan kemudahan yang maksimal bagi sekolah, maka inovasi itu menjadi diterima secara baik. Dan sekolah yang telah menerima inovasi ini bisa dijadikan “sekolah percontohan” oleh dinas pendidikan daerah atau nasional sehingga diterima juga inovasi pendidikan dan hasil-hasilnya baik secara horizontal (sesama sekolah) maupun secara vertikal (oleh lembaga-lembaga supra sekolah). Sedangkan pendekatan yang menggabungkan keduanya (top down dan bottom up) berusaha memadukan proses inovasi pendidikan yang inisiatifnya bisa datang dari atas dan dari bawah. Jika kepentingan, kebutuhan, manfaat, nilai guna, dan nilai-nilainya sama dan mencapat titik temu, maka inovasi itu diterima secara simultan dan massal.

Dalam perspektif sejarah, pendekatan yang bersifat top down, bottom up, dan gabungan dari keduanya itu terbukti efektif dalam proses penyebaran dan penerimaan inovasi. Studi yang dilakukan oleh Taufik Abdullah (1987) dan Andi Suwirta (2002) tentang proses Islamisasi di Indonesia, misalnya, membuktikan bahwa masyarakat Jawa menerima Islam sebagai agama baru melalui pola bottom up (masyarakat pesisir utara Jawa dulu menjadi muslim baru diadopsi oleh raja-raja Mataram di pedalaman); sedangkan masyarakat di Sulawesi Selatan dan kawasan Indonesia Timur lainnya mengikuti pola top down (raja atau penguasanya dulu yang menerima Islam kemudian diikuti oleh para kerabat, bangsawan, dan rakyatnya); sementara itu kasus masyarakat di Aceh dan Sumatera umumnya dapat menerima Islam melalui pola gabungan dari keduanya (top down dan bottom up) di mana antara penguasa dan masyarakatnya menerima Islam sebagai agama baru secara bersamaan. Dunia pendidikan kita pun, apabila ingin melakukan proses penyebaran dan penerimaan inovasi pendidikan, dapat belajar dari sejarah dan pengalaman masa lalu kita yang berharga.

DAFTAR RUJUKAN:

Abdullah, Taufik. (1987). Islam dan Masyarakat: Pantulan Historis di Indonesia. Jakarta: Penerbit LP3ES.

Hasan, Said Hamid. (1996). Pendidikan Ilmu Sosial. Jakarta: Ditjendikti-Depdikbud.

Ibrahim. (1988). Inovasi Pendidikan. Jakarta: PPLPTK, Ditjendikti-Depdikbud RI.

Lauer, Robert H. (2001). Perspektif tentang Perubahan Sosial. Terjemahan. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.

Ma’arif, Ahmad Syafii. (1990). Sejarah Pendidikan Islam. Yogyakarta: Penerbit P2LPM.

Rogers, Everett M. (1983). Diffusion of Innovations. New York and London: The Free Press, Third Edition.

Suwirta, Andi. (2002). Tasawuf dan Proses Islamisasi di Indonesia. Bandung: Historia Utama Press.

Watt, W. Montgomery. (1987). Sejarah Pergolakan Politik Islam. Terjemahan. Jakarta: Penerbit P3M.

===

Catatan kaki: Artikel opini ini dibuat pada tahun 2002, jadi sudah 10 tahun yang lalu, dalam rangka memenuhi tugas matakuliah “Inovasi Pendidikan” yang diberikan oleh Prof. Dr. Hj. Mulyani Sumantri di Program Studi S3 Pendidikan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) Pascasarjana UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) di Bandung.

Penulis adalah Dosen Jurusan Pendidikan Sejarah UPI dan sekarang menjabat sebagai Ketua Umum ASPENSI (Asosiasi Sarjana Pendidikan Sejarah Indonesia).

SHARE

1 COMMENT

  1. Kalau menurut almarhum pak Harto, agar sebuah inovasi itu dapat diadopsi maka dilakukan tiga langkah respectively: (a) Persuasi, didekati, dirayu, dan diyakinkan. Kalau belum mempan, ambil langkah kedua (b) Materi, diberi kedudukan, jabatan, kekayaan, termasuk, maaf, diberi perempuan bila perlu. Kalau masih mbandel juga, ya sudah ambil langkah ketiga (c) dan terakhir, yakni Represi, ditindas saja, ditangkap, dipenjarakan, dan dipinggirkan biar insyaf. Tapi kalau tidak insyaf juga, ya dibinasakan. Wassalam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here