Revolusi Sering Memakan Anak-anaknya Sendiri: Kasus Tan Malaka pada Masa Revolusi Indonesia

8
611

Oleh: Sigit Purnomo Putro

Nama Tan Malaka di kalangan akademisi mungkin terdengar tidak aneh. Namun apa yang terjadi pada kalangan masyarakat awan, hasilnya lain. Mereka seolah tidak mengenal sosok seorang pejuang revolusioner yang sangat fenomenal, terutana saat memperjuangkan kemerdekan Republik Indonesia.

Memang, rezim Orde Baru (1966-1998) telah beberapa kali menenggelamkan nama Tan Malaka pada daftar para pahlawan Indonesia. Hal ini bisa difahami karena memang pada saat itu Orde Baru merupakan rezim yang anti-komunis. Namun setelah jatuhnya rezim Orde Baru pada tahun 1998, maka sosok Tan Malaka mulai dikenal oleh masyarakat umum, meski tidak sefenomenal sosok the founding fathers Republik Indonesia, yakni Soekarno dan Mohamad Hatta.

Mengenang tokoh Tan Malaka, kita semua maklum bahwa setengah dari sepanjang umurnya dihabiskan di luar Indonesia, entah itu untuk menimba ilmu ataupun sekedar menjadi seorang buronan politik dari pemerintah kolonial, baik Belanda dan Inggris maupun Amerika Serikat dan Jepang.

Ide revolusioner Tan Malaka tentang menuju Republik Indonesia yang merdeka pada tahun 1920-an membuat dirinya harus berpindah-pindah tempat ke berbagai negara demi menyelamatkan diri. Dalam pelariannya di luar negeri, dia banyak membuahkan tulisan-tulisan yang mempunyai cita-cita sangat tinggi seperti yang diatulis di Canton, China, yang berjudul Naar de Republiek Indonesia atau Menuju Republik Indonesia (Susilo, 2008:5).

Karya-karya Tan Malaka yang berisi konsep tentang negara Indonesia merdeka memang tengah diperjuangkan juga oleh banyak tokoh lainnya. Misalnya, Mohamad Hatta membuat pledoi atau pidato pembelaan di depan pengadilan Belanda di Den Haag yang berjudul Indonesia Vrije atau Indonesia Merdeka pada tahun 1928. Begitu juga dengan pledoi Soekarno yang berjudul Indonesia Menggoegat, yang dibacakan di depan Pengadilan Kolonial di Bandung pada tahun 1932.

Sementara itu karya Tan Malaka yang berjudul Massa Actie, yang ditulis pada tahun 1926, telah berhasil menyulut semangat para pemuda dan tokoh pergerakan pada masa revolusi Indonesia (1945-1950) untuk memperjuangakan kemerdekaan 100% dan terbebas dari segala bentuk penjajahan. Atas dasar gagasan revolusionernya tersebut tidaklah mengherankan jika Muhammad Yamin menjuluki Tan Malaka sebagai “Bapak Republik Indonesia”; manakala Soekarno menjuluki Tan Malaka sebagai “orang yang mahir dalam Revolusi”.

Tan Malaka dalam Pusaran Arus Revolusi

Pemikiran-pemikiran Tan Malaka memang sangat condong kepada Komunisme, tapi Komunisme yang bercorak Nasionalisme-Religius. Tan Malaka sempat bergabung dengan Komintern (Komunis Internasional) untuk mewakili pihak Komunis di Asia Tenggara, termasuk  Indonesia. Di forum Kominten inilah Tan Malaka kerap bertemu dengan tokoh-tokoh komunis Dunia seperti Ho Chi Minh dari Vietnam atau tokoh-tokoh Komunis terkenal lainnya seperti Lenin, Stalin, dan Trotsky dari Uni Sovyet (Susilo, 2008:18).

Sebenarnya, pemikiran-pemikiran Tan Malaka yang berbau Komunis sudah tercium sejak dia belajar di negeri Belanda dan membaca teori-teori tentang Marxisme dan Komunis di negeri Kincir Angin tersebut. Pada tahun 1921, sepulang dari di luar negeri, Tan Malaka sempat terpilih menjadi Ketua PKI (Partai Komunis Indonesia). Namun karena pandangan Tan Malaka tentang Komunisme yang harus bekerjasama dengan golongan Nasionalisme dan golongan agama (Islamisme) sangat berbeda dengan pandangan pimpinan PKI yang memusuhi golongan borjuasi nasional dan golongan agama, maka Tan Malaka “bercerai” dengan PKI untuk selama-lamanya. Bahkan ketika PKI melakukan pemberontakan terhadap pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1926, Tan Malaka mengkritik aksi PKI sebagai gerakan yang “setengah matang” (Kahin, 1995).

Pada zaman pendudukan Jepang (1942-1945), Tan Malaka kembali ke Indonesia. Gagasan dan pemikiran Tan Malaka terus terasah tajam dan mengeluarkan karya terkenal seperti MADILOG (Materialisme, Dialektika, dan Logika), serta menularkan pengetahuannya itu kepada para pemuda revolusioner yang ada di sekitarnya, hingga terjadi proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Namun pada tahun 1946, Tan Malaka merasakan penjara di negara Republik Indonesia yang ia perjuangakan sendiri sejak lama. Bersama tokoh-tokoh lainnya yang tergabung dalam organisasi PP (Persatuan Perjuangan), Tan Malaka dijebloskan kedalam penjara karena dianggap terlibat dalam Peristiwa 3 Juli 1946. Tan Malaka dinilai telah melakukan pemberontakan dan mencoba mengkudeta kekuasaan Kabinet Sutan Sjahrir yang terus-menerus melakukan perundingan dengan pihak Sekutu (Inggris) dan Belanda (Poesponegoro & Notosusanto eds., 1984).

Pada akhir bulan Agustus 1948, Tan Malaka dibebaskan dari penjara. Dia kemudian terus melakukan agitasi politik dan mendirikan partai Murba. Ketika pada bulan Desember 1948 Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohamad Hatta, dan Menteri-menteri lainnya ditawan oleh Belanda (Ricklefs, 2008), maka Tan Malaka – berbekal testamen politik dari Presiden Soekarno pada masa awal revolusi – merasa berhak memimpin Republik Indonesia. Karena itu pula Tan Malaka tidak mengakui adanya PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) di Sumatera yang dipimpin oleh Mr. Sjafrudin Prawiranegara (Susilo, 2008:161).

Ternyata agitasi dan sikap politik Tan Malaka itu menjadikan bumerang bagi dirinya. Tan Malaka kemudian diburu oleh TNI (Tentara Nasional Indonesia). Tan Malaka akhirnya ditangkap oleh TNI di daerah Gringging, Kediri, Jawa Timur. Dalam laporan resmi TNI, yang dibuat oleh Lettu Soekadji kepada Letkol Soerachman, dinyatakan bahwa Tan Malaka sudah diadili di lapangan karena berpacu dengan waktu dimana hukum darurat militer menghendaki keputusan dan tindakan yang cepat. Tan Malaka akhirnya ditembak mati oleh TNI. Revolusi memang sering memakan anak-anaknya sendiri.

Kematian Tan Malaka dinilai oleh Harry A. Poeze (1988) tidak lepas dari perintah Soengkono sebagai Panglima Divisi Tentara di Jawa Timur. Tragedi kematian Tan Malaka pun membuat Soengkono diberhentikan sebangai Panglima Divisi oleh Perdana Menteri Mohamad Hatta pada waktu itu.

Adalah menarik bahwa pada tahun 1963, jadi 14 tahun setelah kematian Tan Malaka, Presiden Soekarno memasukan nama tokoh pejuang revolusioner tersebut sebagai “pahlawan nasional” (Poeze, 1988). Namun pada masa Orde Baru, gelar tersebut dicabut dan Tan Malaka tetap menjadi sosok pejuang yang sarat makna hingga sekarang: revolusioner, legendaris, misterius, dan kesepian.

SUMBER RUJUKAN:

Kahin, George McTurnan. (1995). Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia. Surakarta: UNS Press, Terjemahan.

Poesponegoro, Marwati Djoened & Nugroho Notosusanto [eds]. (1984). Sejarah Nasional Indonesia VI. Jakarta: Balai Pustaka

Poeze, Harry A. (1988). Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik, 1897-1925. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, Terjemahan.

Ricklefs, M.C. (2008). Sejarah Indonesia Modern, 1200-2008. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, Terjemahan.

Susilo, Taufik Adi. (2008). Tan Malaka: Biografi Singkat. Jogjakarta: Garasi.

===

Keterangan: Artikel ini, sebelum diedit ulang dalam bentuknya sekarang, merupakan tugas matakuliah “Sejarah Revolusi Indonesia” yang diberikan oleh Andi Suwirta, M.Hum. pada Semester Padat tahun 2012.

Sigit Purnomo Putro adalah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah, Angkatan 2010, di UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), Jalan Dr. Setiabudhi No.229 Bandung 40154, Jawa Barat, Indonesia.

SHARE

8 COMMENTS

  1. Sugeng mas Sigit. Tapi mbok ya nulisnya sing jelas toh, Tan Malaka iku sopo, dan lahir dimana? Bagi orang awam, melihat namanya jangan-jangan Tan Malaka itu berasal dari Kota Malaka di Semenanjung Malaysia. Jadi, menulis sejarah itu harus kronologis dan jelas. Salam.

    • salam mas dedi.. mengenai siapa Tan Malaka sebenarnya sudah di tuliskan sedikit pada bagian abstrak artikel, namun karena berbagai pertimbangan tidak dicantumkan oleh pengunduh web ini. terima kasih kepada mas dedi atas saran dan kritikan yang membangun ini. bagi saya ini sebuah masukan yang sangat berharga dalam membuat artikel mengenai tokoh-tokoh di lain kesempatan.. salam..

  2. sebelumnya terima kasih kepada pak Andi suwirta yang telah mendisplay artikel ini di web ASPENSI… salam..

  3. Salam, tuan Sigit. Tan Malaka ni dipandang wira pulak oleh tokoh-tokoh kiri kebangsaan Melayu di Malaysia. Sebagai makluman pihak tuan bahawa Ibrahim Jaacob, yang mencita-citakan wujudnya konsep Melayu Raya atau Indonesia Raya, ialah mendapat kesan kuat pulak daripada Tan Malaka.

    Jom kita realisasikan cita-cita Tan Malaka bahawa bangsa Melayu di rantau Asia Tenggara ni boleh bersatu dan berjaya hingga bila-bila masa.

    Salam 1bangsa: Melayu Raya dan Indonesia Raya.

    • salam, tuan hang jebat. mungkin dalam melihat sejarah kita dapat kembali mempererat tali persaudaraan kita sebagai satu rumpun bangsa melayu. mari sama-sama realisasikan cita-cita para pendahulu kita, sebagai bangsa satu rumpun kita harus bersatu… rekan, sahabat maupun saudara dekat.. Melayu dan Indonesia..

  4. I think it is interesting to note here why did Mohamad Hatta release Tan Malaka from the jail in August 1948? According to Arnold Breckman, author of “Communism in Indonesia”, it was to confront with Musso who came back to Indonesia.

    It is said that between Musso and Tan Malaka was like dog and cat, between Stalinist Indonesian Communist and Trotskyiest Indonesian Communist. So, for Hatta as Primer Minister, if you have the enemies, you must use the other enemies to compete and clash between them.

    I think Mohamad Hatta is one of the smart politicians in Indonesia.

    • thanks for your comments. I agree with you that the Mohamad Hatta is a very smart politician and keen to see the political situation in Indonesia at that time.

      This will be an important reference for me, thank’s for your advice..

  5. I read a lot of interesting content here. Probably you spend a lot of time writing, i know how to save you a lot of work, there
    is an online tool that creates high quality, google friendly articles in seconds, just
    search in google – laranitas free content

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here