Opini Tokoh dan Jaringan Difusi

0
220

Oleh: Sri R. Rosdianti & Andi Suwirta

Tulisan singkat ini berkenaan dengan bagaimana pentingnya opini atau pendapat umum yang dikemukakan oleh seseorang, terutama tokoh, dalam kaitannya dengan penyebaran inovasi kepada masyarakat luas. Di dalamnya dikemukakan tentang pentingnya pers atau media massa sebagai wahana pembentuk opini publik di satu sisi, dan di sisi lain turut mempengaruhi, meyakinkan, dan mensosialisasikan temuan-temuan baru (inovasi) kepada masyarakat luas. Berbagai ragam komunikasi juga dikemukakan dalam tulisan ini untuk melihat kaitannya dengan efektivitas penyebaran hasil inovasi.

Pentingnya Media Massa

Manusia itu, demikian Nicollo Machiavelli menyatakan, pada umumnya cangcaya (tidak percaya) pada hal-hal yang baru sebelum teruji berdasarkan pengalaman. Pernyataan ahli politik dari Italia pada abad ke-16 M ini relevan dikemukakan untuk memulai pembahasan betapa inovasi – yang berkenaan dengan hal-hal baru – menghadapi problematika untuk bisa diterima sepenuhnya oleh umat manusia. Orang itu mulai percaya – sebelum diuji betul oleh pengalamannya sendiri – manakala melihat orang lain yang dipandangnya tertercaya melakukan hal-hal yang baru dalam kehidupan.

Sekaitan dengan itu perlu dikemukakan tentang opini seorang tokoh yang diakui otoritasnya oleh masyarakat. Menurut Rogers (1983:271 dan 307) yang dimaksud dengan opinion leadership ialah suatu keadaan di mana seseorang dapat mempengaruhi sikap dan perbuatan orang lain secara informal sesuai dengan yang diinginkan. Pendapat dari sesorang yang diakui otoritasnya ini penting dalam bekerjanya sebuah jaringan difusi bagi inovasi. Lebih-lebih manakala pendapat dari seorang tokoh itu diekspose terus-menerus oleh media massa dalam derajat tertentu maka terbangunlah opini publik yang mempercayai dan meyakini tentang sesuatu yang baru itu.

Sementara itu umum diakui bahwa media massa, baik elektronik maupun cetak, memiliki peran yang signifikan dalam memberikan news and views-nya kepada masyarakat luas (Susanto, 1986; dan Suwirta, 2000). Banyak para pemimpin di segala bidang – untuk memperkenalkan dan mensosialisasikan ide-ide, hasil temuan, dan rencana pembaharuannya – memanfaatkan media massa sebagai sarana pendukungnya. Namun bagaimana aliran pesan, gagasan, dan hasil temuan dari seorang tokoh itu sampai ke masyarakat banyak – baik melalui media massa maupun melalui saluran lain – menjadi bahan kajian yang menarik karena telah menghasilkan model-model komunikasi yang variatif.

Konsep tentang opinion leadership sendiri pada mulanya sebagai bagian dari “model aliran komunikasi dua tahap” yang dihipotesiskan bahwa pesan-pesan komunikasi itu mengalir dari sebuah sumber, melalui media massa, kepada para tokoh dan kemudian disebarkan kepada para pengikutnya. Model ini merupakan kritik terhadap model hypodermic needle sebelumnya yang berpandangan bahwa media massa itu bersifat langsung, segera, dan berpengauh kuat terhadap masyarakat banyak. Studi-studi mutakhir tentang pengaruh media massa menunjukkan bahwa aliran-aliran komunikasi itu tidak bersifat monolitik, tetapi banyak variabel yang harus diperhitungkan.

Dalam melihat “mengalirnya sebuah pesan”, dikenal adanya konsep homophily dan heterophily. Menurut Rogers (1983:310), homophily adalah suatu keadaan di mana individu-individu yang saling berinteraksi itu bersifat akrab karena adanya kesamaan atribut seperti keyakinan, tingkat pendidikan, dan status sosial yang sama. Sedangkan heterophily adalah sebaliknya di mana individu-individu itu berinteraksi dalam atribut yang berbeda. Jaingan difusi antar pribadi itu, menurut Rogers, adalah kebanyakan bersifat homopili. Dan inovasi akan mudah menyebar ke masyarakat melalui pola-pola interaksi yang sejajar.

Manakala jaringan difusi antar pribadi itu bersifat heteropili, maka anggota masyarakat biasanya mengikuti pendapat para tokohnya yang memiliki otoritas baik karena status sosial-ekonomi, tingkat pendidikan, daya ekspose media massa, lebih kosmopolit, dan banyak berkomunikasi dengan pihak luar maupun banyak berhubungan dengan ke-inovasi-an. Dibandingkan dengan anggota masyarakat umumnya, para tokoh itu lebih dekat dengan norma-norma sistem sosial yang berlaku. Dengan demikian manakala norma-norma dalam sebuah sistem sosial itu berubah maka para tokoh itu lebih bersikap inovatif. Sebaliknya, manakala norma dalam sistem sosial itu tidak mau berubah maka para tokoh itu juga bersikap kurang inovatif.

Saluran Pesan dan Gagasan

Dalam sebuah masyarakat modern, komunikasi itu terjadi dari berbagai arah. Seseorang mendapatkan informasi itu bisa bersifat langsung – dari seorang tokoh dalam sebuah pertemuan dan seminar – maupun tidak langsung dari saluran media massa. Sebagaimana ditunjukkan oleh Ben Anderson (1983) tentang “difusi nasionalisme” bahwa saluran untuk mengkomunikasikan dan mensosialisasikan gagasan inovatif tentang nasionalisme Indonesia itu dilakukan baik melalui media massa maupun melalui vergadering (rapat akbar). Mengingat banyaknya saluran komunikasi yang dilakukan oleh seseorang, maka perlu juga diketahui tentang model-model komunikasi yang lain.

Dalam kaitannya dengan saluran pesan dan gagasan dari seorang tokoh, Rogers (1983:310) menunjuk adanya model polymorphism. Dengan model ini dimaksudkan bahwa seseorang itu berbuat sesuai dengan pendapat seorang tokoh yang otoritatif dalam banyak hal. Jika seseorang berbuat sesuai dengan pendapat seorang tokoh hanya dalam satu hal, maka model itu disebut monomorphism. Selanjutnya Rogers menyatakan bahwa jika norma-norma dalam sistem sosial tu bersifat moden, maka pendapat dan gagasan dari seorang tokoh itu lebih bersifat monomorphic.

Jaringan komunikasi memegang peranan penting dalam proses adopsi dan difusi inovasi. Hubugnan antar individu dalam sebuah sistem sosial juga behubungan positif dengan ke-inovasi-an seseorang. Hal itu bisa dipahami sebab dalam sebuah jaringan sistem sosial yang inovatif maka akan memunculkan jaringan antar individu yang juga inovatif. Dengan perkataan lain, sebuah sistem sosial yang inovatif dan kreatif amat kondusif bagi munculnya individu-individu yang kreatif dan inovatif pula.

Jaringan komunikasi menyediakan sebuah struktur dan derajat keajegan tertentu bagi individu dalam berperilaku. Struktur komunikasi, dengan demikian, merupakan bagian-bagian terpisah yang dapat diakui dalam aliran pola komunikasi dalam sebauh sistem sosial. Sturktur komunikasi ini terdiri atas kelompok dalam sistem sosial dan komunikasi antar kelompok itu dapat melalui jaringan dan saluran tertentu. Syarat utama bagi diakuinya individu dalam kelompok itu adalah proksimitas komunikasi, yaitu suatu keadaan di mana dua individu saling berhubungan dalam sebuah jaringan yang bersifat pribadi. Hubungan yang akrab dan bersifat pribadi ini juga penting dalam proses difusi inovasi.

Akhirnya, teori sosial tentang belajar juga penting dikemukakan di mana individu belajar dari individu lain itu melalui pengamatan dan mereka meniru dan mengikurti perilaku individu lain itu pada tahap-tahap awalnya. Individu-individu yang tidak memiliki otoritas kuat biasanya menjadi pengikut dan penerima invasi-inovasi yang digagas, dilakukan, dan dianjurkan oleh para inovator dalam sebuah sistem sosial yang kompleks sekalipun.

Penutup

Tulisan ini kembali menekankan tentang pentingnya opini dari seorang tokoh yang otoritatif dalam mensosialisasian gagasan, temuan, dan praktek-praktek baru dalam bidang kehidupan melalui jaringan sosial yang kompleks. Dengan memanfaatkan media massa – baik cetak maupun elektronik – maka inovasi itu dapat disosialisasikan dalam sebuah masyarakat modern yang literate. Gagasan dari seorang tokoh itu diekspose di media massa, kemudian media massa mendesimenasikan kepada masyarakat, dan masyarakat mengikuti dan mengakui gagasan, temuan, dan praktek pembaharuan tersebut.

Namun ada variabel lain yang perlu diperhitungkan. Masyarakat akan percaya dan mengikuti pendapat tokoh atau orang lain manakala ada kedekatan dan kesamaan tertentu dalam kategori-kategori sosialnya. Dengan begini maka diciptakanlah model-model komunikasi dan salurannya yang beragam sebagai bukti bahwa proses difusi dalam sebuah inovasi memiliki ciri-ciri tersendiri sesuai dengan sistem dan struktur sosial yang berlaku.

DAFTAR BACAAN

Andi Suwirta. (2000). Revolusi Indonesia dalam News and Views: Sebuah Antologi Sejarah. Bandung: Suci Press.

Astrid Susanto. (1986). Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Bina Cipta.

Ben Anderson. (1983). Imagined Community: The Origins and Spread of Nationalism. London: Verso.

Everett M. Rogers. (1983). Diffusion of Innovations. Third Edition. London and New York: The Free Press.

===

Keterangan: Artikel opini ini dibuat pada tahun 2002, jadi sudah 10 tahun berlalu. Ianya merupakan pandangan pribadi kedua penulis.

Sri R. Rosdianti, S.Pd. adalah Guru PIPS (Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial) di SMKN (Sekolah Menengah Kejuruan Negeri) 9 Bandung; SMP (Sekolah Menengah Pertama) Labschool UPI Kampus Cibiru di Bandung; dan Mahasiswa S2 Program Studi Manajemen Pendidikan Pascasarjana UNINUS (Universitas Islam Nusantara) di Bandung. Manakala Andi Suwirta, M.Hum. adalah Ketua Umum ASPENSI (Asosiasi Sarjana Pendidikan Sejarah Indonesia) di Bandung.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here