Mungkinkah Rekor Lari Wanita Sama dengan Laki-laki suatu Saat Nanti?

1
86

Oleh: Andi Suwirta

Pada tahun 2003, jadi sudah sembilan tahun berlalu, saya pernah mengikuti kuliah “Kajian Fenomenologi Nilai” yang diberikan oleh Dr. Ir. Mubiar Purwasasmita. Dosen dari ITB (Institut Teknologi Bandung) ini memang tergolong “unik dan nyentrik”, karena tidak hanya menuntut untuk berpikir kreatif tapi juga mendorong para mahasiswa untuk mengkritisi semua pendapat dan teori dari para ilmuwan yang ada.

Salah satu kebiasaan Dr. Ir. Mubiar Purwasasmita dalam proses perkuliahan adalah memberikan pertanyaan unik yang harus dijawab oleh para mahasiswa dengan menggunakan pikiran yang logis dan rasional. Dengan cara ini nampaknya tujuan yang diharapkan agar mahasiswa mampu berpikir kritis dan kreatif akan bisa direalisasikan.

Pertanyaan

Pertanyaan sederhana tentang: “Mungkinkah suatu saat rekor lari wanita sama dengan laki-laki?” nampaknya tidak terlalu penting dan relevan. Tetapi jika dikaji dan dihayati secara mendalam, pertanyaan tersebut sungguh penting dan memerlukan jawaban yang tidak ringan. Bukankah pertanyaan yang nampaknya sepele itu acapkali tidak bisa dijelaskan secara sepele pula? Inilah makna yang terpancar dari pertanyaan yang nampak sederhana itu.

Jawaban

Secara selintas nampaknya tidak mungkin rekor berlari wanita bisa menyamai pria. Dalam pertandingan olah raga lari, kita menyaksikan di manapun di dunia bahwa catatan waktu yang ditempuh oleh wanita selalu lebih lambat bila dibandingkan dengan pria. Namun apabila dikaji dari banyak perspektif, mengapa hal itu bisa terjadi? Di sini saya kira memerlukan analisis dan jawaban yang tidak ringan.

Dalam perspektif agama, khususnya Islam, jelas antara wanita dan pria memiliki kedudukan yang sama di hadapan Tuhan. Artinya, Allah SWT menciptakan manusia (wanita dan pria) dengan dibekali oleh potensi dan kemampuan yang sama. Bahwa potensi dan kemampuan itu, dalam perkembangan selanjutnya, dimanifestasikan berbeda nampaknya memerlukan penjelasan dari perspektif sosial dan budaya.

Sejak zaman dahulu, wanita diposisikan secara sosial dan budaya untuk menjalankan fungsi reproduksi seperti: mengandung, melahirkan, mengurus anak, dan menata kehidupan rumah tangga. Fungsi-fungsi ini pada gilirannya berimplikasi terhadap status dan peran sosialnya bahwa wanita memang ditakdirkan untuk pasif, pasrah, dan lebih rendah dari pada pria yang memiliki sifat aktif, dinamis, dan ingin menguasai. Pandangan ini kemudian disosialisasikan sedemikian rupa sehingga membudaya, bahkan menjadi kepercayaan yang tak terbantahkan.

Pandangan, status, dan peran yang harus dijalani oleh wanita, dengan demikian, merupakan konstruk budaya yang diciptakan oleh pria. Terbentuknya masyarakat patriakal, di mana pria memiliki posisi yang dominan, merupakan produk dari konstruk budaya tersebut.

Dari sini seolah-olah wanita itu memang nomor dua, dalam segala bidang, termasuk sampai sekarang apabila orang berbicara tentang prestasi di bidang olah raga. Padahal dalam banyak kasus, kita menyaksikan wanita-wanita yang “perkasa” sebagai pekerja keras di rumah tangga, pencari nafkah bagi keluarganya jika sang suami tidak ada (wafat, menganggur, atau malas), dan – ternyata berdasarkan statistik sosial yang ada – wanita memiliki angka rata-rata harapan hidup yang lebih baik ketimbang pria.

Akhirnya, saya berkesimpulan, bahwa suatu saat mungkin saja wanita bisa mendominasi kehidupan pria, termasuk bahkan di bidang olah raga. Perkataan “suatu saat” menghendaki persyaratan-persyaratan tertentu yang memungkinkan dari sesuatu yang mustahil menjadi ril.

Sama halnya seperti sebuah analogi “mungkinkan suatu saat buah apel tidak akan jatuh ke bumi”? Jawabannya bisa mungkin kalau buah itu begitu jatuh kemudian – dalam bahasa Sunda – “nyangsang” (tertahan oleh ranting/daun pohon tersebut) dan/atau tertangkap oleh tangan manusia dan langsung dimakannya. Begitu juga dengan kemungkinan rekor lari wanita yang bisa menyamai, bahkan menurut saya bisa saja melebihi, rekor lari pria.

Persyaratan-persyaratan yang dimaksud adalah: (1) jika pandangan, status, dan peran yang harus dimainkan wanita – sebagai konstruk budaya ciptaan kaum pria – itu berubah, yang berimplikasi pada wanita bukan lagi sebagai makhluk lemah dan nomor dua; (2) jika fungsi reproduksi, dalam arti melahirkan yang banyak menyita tenaga dan pikiran itu, dialihkan atau terjadi pergeseran karena adanya perkembangan tekonologi genetika yang lebih mutakhir misalnya; dan (3) jika wanita diberi kesempatan dan peluang yang sama berdasarkan pandangan dan asumsi yang objektif bahwa antara wanita dan pria sesungguhnya memiliki potensi yang sama pula sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Jadi, sekali lagi, pertanyaan “mungkinkah suatu saat rekor lari wanita sama dengan pria” bisa dijawab dengan kenyataan-kenyataan yang ada selama ini. Bahwa dunia kerja suatu saat akan didominasi oleh wanita, barangkali tak terbayangkan. Tetapi hal itu kini – perlahan namun pasti – menjadi kenyataan. Bahwa dunia olah raga juga kini masih didominasi oleh pria, mungkin saja suatu saat wanita bisa menyamai dan bahkan balik mendominasi.

===

Keterangan: Artikel ini merupakan pendapat pribadi.

Andi Suwirta, M.Hum. adalah Dosen Jurusan Pendidikan Sejarah UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) di Bandung; dan Ketua Umum ASPENSI (Asosiasi Sarjana Pendidikan Sejarah Indonesia).

SHARE

1 COMMENT

  1. Ada-ada sajah bapak mah. Kata sayah mah, jajaka akan jaya salama-lamanya, kagak akan kalah sama yang namanya hawa. Ha ha ha.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here