Sejarah Perkembangan Tasawuf di Indonesia: Contoh Kasus pada Kerajaan Aceh

Oleh: Tresna Yuniar

Dalam buku Andi Suwirta yang berjudul Tasawuf dan Proses Islamisasi di Indonesia (2002), menarik untuk dikaji kembali terutama tentang tasawuf di Aceh. Tasawuf adalah suatu ajaran yang memerintahkan kita untuk hidup secara zuhud (sederhana) seperti yang selalu dilakukan Nabi Muhammad SAW selama hidupnya, dan juga menjauhkan diri dari kenikmatan dunia dan selalu mengutamakan segala sesautu yang akan bermanfaat bagi kehidupan di akhirat kelak, yaitu dengan cara beribadah.

Artikel ini mengkaji tentang tasawuf yang berkembang di Aceh pada abad 16-17 M. Tasawuf  yang berkembang di Aceh memiliki ciri khas tersendiri, yaitu ajaran tasawuf yang menggunakan gagasan Wahdatul Wujud. Gagasan ini bertujuan agar setiap manusia dapat bersatu dengan Sang Pencipta, yakni Allah SWT. Ajaran tasawuf wahdatul wujud dikembangkan oleh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin al-Sumatrani. Ulama-ulama ini berperan sebagai penasihat agama, selain itu mereka juga ikut andil dalam kemajuan kerajaan Aceh sehingga mencapai puncak kejayaan pada pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Semua itu disebabkan kerjasama yang baik antara pemimpin dan ulama sebagai penasihat agama.

Bagi orang awam, ajaran tasawuf wahdatul wujud seperti ajaran yang menyimpang dari agama Islam; karena Islam tidak memerintahkan kita untuk meninggalkan kehidupan dunia, tetapi Islam mengajarkan kita untuk menyelaraskan antara kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat tanpa harus meninggalkan salah satunya. Selain itu konsep yang diterapkan mengakibatkan Islam menjadi terbelakang karena mengabaikan urusan dunia.

Ajaran tasawuf di Aceh mengalami perubahan, dikarenakan pergantian kepemimpinan di kerajaan Aceh itu sendiri. Sepeninggalan Sultan Iskandar Muda, kerajaan Aceh dipimpin oleh Sultan Iskandar Tsani, menantu dari Sultan Iskandar Muda. Berbeda dengan pemimpin sebelumnya, Sultan Iskandar Tsani didukung oleh ulama yang bernama Nuruddin al-Raniry yang ajaran tasawufnya bertentangan dengan ajaran tasawuf yang dikembangkan oleh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin al-Sumatrani.

Lain ulama, lain pula ajaran yang dikembangkannya. Tasawuf yang dianut oleh Nuruddin al-Raniry adalah ajaran yang lebih mengutamakan kesadaran masing-masing manusia yang selalu percaya akan perlindungan Allah SWT. Ajaran tasawuf yang dikembangkan Nuruddin al-Raniry itu sering disebut dengan istilah Wahdatul Syuhud. Pertentangan antara kedua ajaran tasawuf itu memunculkan perdebatan dari masing-masing pihak. Bahkan perdebatan itu juga tidak terlepas dari kepentingan dan konflik politik.

Kerajaan Aceh mengalami kemunduran setelah Sultan Iskandar Tsani wafat, tetapi tidak dengan ajaran tasawuf. Karena munculnya sosok ulama bernama Abdurrauf al-Singkili yang membuat ajaran tasawuf tetap mengalami kemajuan. Ajaran tasawuf Abdurrauf al-Singkili lebih sejalan dengan ajaran tasawuf yang dikembangkan oleh Nuruddin al-Raniry, yaitu wahdatul syuhud. Tetapi untuk mendamaikan kedua kubu yang berseteru dengan ajarannya masing-masing, maka Abdurrauf al-Singkili menyeimbangkan kedua ajaran tersebut dengan mengembangkan tarekat Syathariyah. Akibat tarekat yang dikembangkan oleh Abdurrauf al-Singkili ini maka pemikiran tasawuf makin mengalami kemajuan dan banyak diamalkan oleh orang-orang di luar daerah Aceh.

Demikianlah gambaran sederhana tentang sejarah perkembangan tasawuf di Indonesia, dengan mengambil contoh kasus di kerajaan Aceh. Nampaknya masih perlu dikaji lebih mendalam lagi agar tidak ada kesalahpaham dan penyimpangan dalam mengartikan suatu ajaran tasawuf yang ada. Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan umumnya bagi pembaca. Salam Historia Magistra Vitae!

===

Keterangan: Artikel ini dibuat pada tanggal 22 Juni 2012, dalam rangka memenuhi tugas yang diberikan oleh Andi Suwirta, M.Hum. dalam matakuliah “Sejarah Islam di Indonesia”.

Tresna Yuniar adalah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), Jalan Dr. Setiabudhi No.229 Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Emel: tresna_yuniar@yahoo.co.id