Konsepsi Manusia Ideal Menurut Orang Kebanyakan

4
202

Oleh: Andi Suwirta

Bagaimana menggambarkan dan merumuskan “manusia ideal” di Indonesia? Ternyata pertanyaan sederhana itu tidak bisa dijawab secara mudah dan sederhana pula. Sama seperti novelnya Kuntowijoyo, Khotbah di Atas Bukit (1996), ketika si tokoh utama dalam novel itu menanyakan kepada orang banyak apakah mereka “bahagia”, ternyata konsepsi tentang “kebahagiaan” juga menjadi sulit digambarkan dan dirumuskan.

Tulisan ini menjelaskan tentang konsepsi “manusia ideal” sebagaimana dipersepsi dan digambarkan oleh orang kebanyakan. Yang dimaksud dengan orang kebanyakan adalah mereka yang sempat ditanya, dalam obrolan ringan dan informal, oleh saya dalam suatu kesempatan.

Saya baru berhasil menjaring 5 orang, yakni seorang dosen Perguruan Tinggi di Bandung, seorang ibu rumah tangga, seorang pedagang pasar, seorang supir angkutan kota, dan seorang siswa Sekolah Dasar di Bandung. Beragamnya responden juga untuk menunjukkan beragamnya pendapat, sesuai dengan perspektif mereka masing-masing.

Gambaran Umum

Pada umumnya orang-orang yang diajak ngobrol secara informal menyatakan, ketika ditanya tentang manusia yang ideal, bahwa rumusan dan rujukannya jelas dalam agama mereka masing-masing, dalam hal ini agama Islam.

Menurut mereka, manusia yang ideal adalah manusia yang mampu menjalankan peranannya secara seimbang antara habluminallah (hubungan manusia dengan Allah) dan habluminannas (hubungan manusia dengan manusia). Dan kesemuanya, baik habluminallah dan hablumninannas itu, tercantum dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah Nabi Muhammad SAW.

Dalam penjabarannya sekarang, konsepsi manusia ideal itu adalah manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, yang dapat mengimplementasikan kadar iman dan takwa itu dalam kehidupan sehari-hari dalam konteks hubungannya dengan manusia dan lingkungan sekitarnya. Dengan perkataan lain, manusia ideal mestilah mentautkan secara harmoni dan konsisten antara kesalehan individual yang berimplikasi dalam kesalehan sosial. Baik, saleh, dan takwa hanya untuk dirinya sendiri, dan tidak peduli dengan kehidupan sosial, jelas bukan konsepsi manusia yang ideal.

Secara umum, dengan demikian, konsepsi manusia ideal itu memiliki kualifikasi-kualifikasi: (1) beriman dan bertakwa kepada Allah SWT; (2) mencintai sesama; (3) memelihara lingkungan sekitar; (4) cerdas dan kreatif; serta (5) berakhlak mulia.

Gambaran Khusus

Gambaran umum tersebut merupakan hasil rangkuman dari berbagai pendapat yang berusaha merumuskan bagaimana konsepsi manusia ideal itu. Dari kualifikasi-kualifikasi yang dikemukakan terdapat beberapa persamaan sebagaimana yang telah dirangkum dalam 5 kualifikasi tersebut di atas.

Namun selain gambaran umum tadi, para responden juga memberikan titik tekan terhadap konsepsi manusia ideal tersebut secara berbeda-beda. Titik tekan ini bisa juga merupakan kualifikasi tambahan dan variasi dari konsepsi manusia ideal sebagaimana digambarkan secara umum tadi. Dengan perkataan lain, selain gambaran umum terdapat juga gambaran khusus tentang konsepsi manusia ideal itu sebagai berikut:

Manusia yang memiliki etos kerja tinggi dan kerja-kerja sosialnya berguna bagi kehidupan manusia” (wawancara dengan dosen Perguruan Tinggi di Bandung, 20/2/2003).

Manusia yang bertanggung jawab, melindungi, dan mengayomi semua orang tanpa membeda-bedakan” (wawancara dengan ibu rumah tangga, 19/2/2003).

Manusia yang tidak egois, tidak serakah, dan mau mengalah demi kebaikan kehidupan bersama” (wawancara dengan pedagang di pasar, 23/2/2003).

Manusia yang pemurah, pemaaf, dan toleran dengan sesamanya” (wawancara dengan supir angkutan kota di Bandung, 18/2/2003).

Manusia yang suka ngasih uang, baik sama anak kecil, dan sayang sama keluarga” (wawancara dengan siswa Sekolah Dasar di Bandung, 20/2/2003).

Demikianlah gambaran tentang konsepsi manusia ideal menurut orang kebanyakan. Gambaran-gambaran tadi nampaknya perlu dianalisis lebih jauh sehingga ditemukan substansinya yang lebih mendalam.

Dengan menggunakan content analysis terhadap wacana yang diajukan, mungkin gambaran tentang manusia ideal di Indonesia itu pada akhirnya akan ditemukan. Persoalannya kemudian adalah: apakah konsepsi ideal itu terwujud dalam kenyataan?

===

Keterangan: Tulisan ini dibuat pada tanggal 24 Februari 2003, jadi sudah 9 tahun yang lalu, dalam rangka memenuhi tugas yang diberikan oleh Dr. Ir. Mubiar Puswasasmita dalam matakuliah “Kajian Fenomenologi Nilai”.

Andi Suwirta, M.Hum. adalah Dosen Jurusan Pendidikan Sejarah UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) di Bandung; dan Ketua Umum ASPENSI (Asosiasi Sarjana Pendidikan Sejarah Indonesia).

SHARE

4 COMMENTS

  1. Manusia ideal di Indonesia sekarang harusnya orang yang bersikap serba “anti”, yaitu: anti korupsi, anti plagiat, anti poligami, anti berbohong, anti sombong, anti boros, anti kejahatan, dan anti-anti yang lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here