Setelah Gelombang III: What’s Next?

2
687

Oleh: Andi Suwirta

Bukunya Alfin Toffler, yang populer di Indonesia pada tahun 1980-an, tentang tiga gelombang peradaban yang melanda kehidupan umat manusia di dunia, menarik untuk dicermati dan dikaji kembali. Buku ini menarik tidak hanya karena isinya yang memberikan kesadaran dan pemahaman yang baik tentang konsep ruang dan waktu yang telah dilalui oleh umat manusia, tetapi juga menimbulkan pertanyaan dan kepenasarasan baru yakni: apa yang akan terjadi pada gelombang selanjutnya?

Tulisan ini mengkaji secara kritis dan reflektif bukunya Alfin Toffler tersebut dengan memberikan kemungkinan ke depan peradaban yang akan dihadapi oleh umat manusia di dunia. Tulisan ini jelas tidak berdasarkan riset ilmiah yang mendalam dan komprehensif. Ia hanyalah semacam academic exercise saja untuk menjelajahi kemungkinan masa depan umat manusia yang memang tak berpeta itu. Karena peta masa depan sesungguhnya ditentukan oleh keadaan kekinian dan kedisinian.

Alvin Toffler tentang Tiga Gelombang

Dalam bukunya, The Third Wave (1986), Alvin Toffler membagi sejarah perkembangan umat manusia, terutama dikaitkan dengan perkembangan sains dan teknologi, kedalam 3 (tiga) gelombang sebagai berikut:

Pertama, gelombang masyarakat agraris. Pada masa ini, yang mencakup periode SM (Sebelum Masehi) sampai tahun 1790, selama ribuan tahun masyarakat agraris memanfaatkan energi alam, bercocok tanam dalam konteks pertanian subsistensi, adanya pasar tidak terlalu penting, keluarga bersifat besar, berkomunikasi secara langsung dan akrab, saling ketergantungan rendah, serta semua ciri itu bisa dianalogkan dengan “kecil itu indah” (small is beautiful).

Kedua, gelombang masyarakat industri. Pada masa ini, yang kurun waktunya antara 1790-1970, selama ratusan tahun juga masyarakat mulai menggunakan bahan bakar yang tidak bisa diperbaharui, penggunaan mesin-mesin produksi massal, keberadaan pasar sangat penting, keluarga bersifat inti, berkomunikasi melalui media cetak dan elektronik, serta menghargai dan memanfaatkan waktu. Pada masa ini pula masyarakat industri ingin menguasai alam, terjadi pemborosan SDA (Sumber Daya Alam), urbanisasi, kolonisasi, serta nasionalisme dan kemerdekaan negara-kebangsaan. Semua ciri itu dapat dianalogkan dengan “besar itu indah” (big is beautiful).

Ketiga, gelombang masyarakat informasi. Pada masa ini, yang kurun waktunya kini hanya puluhan tahun antara 1970-2000, masyarakat memadukan antara ciri-ciri gelombang 1 dan 2 di mana mulai adanya pemakaian energi yang dapat diperbaharui, proses manufaktur beralih ke biofaktur, konsumen memproduksi sendiri, terjadi proses de-urbanisasi karena kemajuan teknologi transportasi dan telekomunikasi, terjadi globalisasi, keanekaragaman, dan bersikap hemat terhadap SDA. Semua ciri pada gelombang ketiga ini dapat dianalogkan dengan “kecil di dalam besar itu indah” (small within big is beautiful).

Masalahnya sekarang adalah setelah tahun 2000 apa yang akan terjadi? Di sinilah para peramal masa depan (futurulog) banyak mengemukakan visi dan prediksi mereka, dikaitkan dengan hasil analisanya Alvin Toffler.

Setelah Gelombang III Apa dan Bagaimana?

Ramalan Alvin Toffler tentang akan datangnya gelombang III yang ditandai oleh derasnya arus komunikasi akibat revolusi dalam teknologi informasi, dalam banyak hal, kini sedang kita alami. Penggunaan komputer, fax, internet, e-mail, handphone, dan sebagainya telah memudahkan arus lalu-lintas informasi tanpa harus dibatasi oleh sekat-sekat walayah geografis sebuah negara. Dunia seperti tanpa batas (borderless world). Dan apa yang akan terjadi pada gelombang yang akan datang?

Saya menduga dan membayangkan ke depan mungkin akan terjadi proses mobilitas sosial secara horizontal (antar wilayah di bumi) dan secara vertikal (antara planet bumi dan planet lainnya) secara cepat dalam hitungan waktu. Kalau pada Gelombang III manusia dapat berkomunikasi melalui suara, tulisan, dan gambar secara cepat tanpa terhalang oleh batas-batas ruang dan waktu; maka dalam Gelombang IV nanti manusia dapat berpindah dalam sekejap dari satu tempat ke tempat lain dalam hitungan menit atau bahkan detik.

Dengan ditemukannya mesin pelontar waktu (time tunnel) yang canggih, orang Indonesia dapat “dilemparkan” – sesuai dengan keinginannya – ke daerah Hollywood di Amerika Serikat untuk menonton produksi film terbaru misalnya. Begitu juga dengan ditemukannya pesawat ruang angkasa yang canggih, manusia di bumi dapat berwisata ke manapun di planet-planet lainnya di tata surya kita. Saya menamakan fenomena ini sebagai “Gelombang Mobilitas Sosial Manusia Abad XXI” yang tidak ada preseden dengan mobilitas sosial sebelumnya.

===

Keterangan: Artikel ini dibuat pada tahun 2003, jadi sudah 9 tahun berlalu, dalam rangka memenuhi tugas matakuliah “Kajian Fenomenologi Nilai” yang diberikan oleh Dr. Ir. Mubiar Purwasasmita.

Andi Suwirta, M.Hum. adalah Dosen Jurusan Pendidikan Sejarah UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) di Bandung; dan Ketua Umum ASPENSI (Asosiasi Sarjana Pendidikan Sejarah Indonesia).

SHARE

2 COMMENTS

  1. Menurut saya, Teori Kiamat lebih cocok untuk menerangkan apa yang akan terjadi pada Gelombang III nanti.

    Karena umat manusia di dunia banyak membuat kerusakan, termasuk di Indonesia, maka Allah SWT mendatangkan dua bencana untuk menghilangkan umat manusia di planet bumi ini. Pertama, gelombang tsunami. Banyak manusia yang meninggal akbibat bencana pertama ini. Dan ketika manusia berduyun-duyun mencari tempat ketinggian seperti bukit dan gunung, maka datanglah bencana kedua, yakni gunung meletus. Habislah semua manusia di bumi ini.

    Lalu Allah SWT menciptakan semacam Nabi Adam dan Siti Hawa yang baru, mereka beranak-pinak, berkembang, menyebar, dan menghiasi kehidupan di planet bumi ini. Kali ini adalah jenis manusia baru yang lebih beradab, berakhlak mulia, dan berkemampuan tinggi. Kehidupannya dijangka berlangsung di planet bumi hingga 500 abad.

    Itulah gambaran masa depan dari saya, setelah Gelombang III ini berlalu. Wallahu’alam bissawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here