Menyembunyikan Plagiator

17
265

Oleh: Rudini Sirat

Salah satu tujuan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) mengeluarkan kebijakan publikasi ilmiah sebagai syarat kelulusan mahasiswa S1, S2 dan S3 adalah untuk mengurangi tindakan plagiarisme. Untuk mengetahui seseorang melakukan plagiarisme saat ini cukup mudah. Dengan menggunakan perangkat lunak tertentu, karya ilmiah bisa dideteksi keotentikannya.

Baru saja Dikti mengeluarkan surat edaran itu, kini Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) tercoreng namanya terkait plagiarisme. Pasalnya, terdapat tiga dosen di UPI yang diduga melakukan plagiarisme dalam karya ilmiah yang diajukan ke Dikti sebagai syarat menjadi guru besar. Tiga dosen tersebut yaitu Cecep Darmawan (Direktur Kemahasiswaan UPI dan Rektor Universitas Subang), Lena Nuryanti (Dosen Manajemen Bisnis UPI), dan Ayi Suherman (Dosen UPI Kampus Sumedang).

Sebenarnya persoalan tersebut sudah terungkap sejak 2010. Karena pimpinan UPI tidak bertindak tegas terhadap dosen itu, akhirnya persoalan terus bergulir. Padahal Dikti sudah memintanya untuk memberikan sanksi terhadap ketiga dosen tersebut. Kini, banyak media umum memuat berita terkait plagiarisme di UPI. Entah siapa yang membocorkannya, yang jelas ini sebagai upaya untuk memerangi plagiarisme di perguruan tinggi. Lain ceritanya jika kala itu pimpinan UPI memberikan sanksi setelah Dikti memintanya. Tapi pimpinan UPI malah mengklarifikasi perbuatan plagiarisme yang dilakukan tiga dosen itu.

Salah satu dosen yang melakukan plagiarisme, yaitu Cecep Darmawan mengaku tidak berniat melakukan plagiarisme. Dia mengungkapkan bahwa terdapat kesalahan dalam mengutip karya seseorang sebagai referensi. Tapi suatu hal yang tidak galib jika mereka tak mengetahui hal tersebut. Dalam artian, mereka tidak serius dalam pembuatan karya ilmiahnya, terlalu menggampangkan dan menganggap sepele.

Akibat sekarang tak hanya diterima secara institusi saja, tapi semua dosen UPI menanggung atas perbuatan tercela tiga dosen itu. UPI terancam menerima moratorium dari Dikti, yaitu selama satu tahun ini UPI tidak boleh mengajukan guru besar dan semua dosen UPI tidak bisa naik pangkat. Ini sebagai pelajaran bagi UPI dan perguruan tinggi lain.

Tindakan plagiarisme ternyata membudaya bagi civitas akademika di perguruan tinggi Indonesia karena sebelum UPI, beberapa perguruan tinggi juga pernah mengalami hal yang sama. Kita tentu tidak ingin ini menjadi budaya, plagiarisme yang dilakukan dosen merupakan sebuah penyakit. Sungguh suatu kejahatan jika ide seseorang harus dijiplak demi kepentingan pribadinya untuk memperoleh tunjangan lebih. Padahal mereka adalah tokoh intelektual dan seorang akademisi yang menjunjung tinggi nilai-nilai akademik.

Bagaimana mau menerapkan Tri Dharma perguruan tinggi jika dosen melakukan kejahatan intelektual. Bagaimana pula mereka mau membimbing mahasiswanya yang ingin membuat makalah ilmiah untuk dipublikasikan di jurnal jika dosennya justru melakukan tindakan yang berada di luar norma akademik. Sungguh suatu ironi. Di saat mereka harus memberikan contoh dan mendidik mahasiswanya untuk tidak menyontek saat ujian, malah dikotori oleh perbuatannya sendiri. Apalagi plagiat yang dilakukan terjadi di institusi perguruan tinggi yang memiliki jargon pendidikan dan penghasil pendidik. Sebuah jargon yang memiliki arti dan menyeluruh dalam memaknai pendidikan.

Di kala UPI sedang rajin-rajinnya mengajukan guru besar dan banyak guru besar yang sudah disahkan, UPI sekarang memiliki hambatan untuk mengajukannya kembali. Bahkan, UPI harus menanggung malu. Jika Dikti meminta untuk menegur atau memberikan sanksi, seharusnya UPI mengambil tindakan supaya persoalan tidak berkepanjangan.

Ketiga dosen tersebut tidak bisa diampuni, apalagi sanksi yang diberikan Senat Akademik UPI dari sidang plenonya pada 2 Maret 2012 hanya sanksi administrasi berupa penurunan jabatan dan golongan. Orang yang berada di luar UPI saja berpandangan bahwa ketiga dosen itu semestinya dikeluarkan dari UPI. Kenapa pimpinan UPI yang mengetahui banyak persoalan internal justru bertindak apa adanya. Berikan sanksi sesuai tindakannya. Bila tindakannya mencoreng nama institusi dan identitas pendidikan, maka ketiga dosen tersebut mesti dikeluarkan dari UPI.

Sungguh telah mencederai nilai-nilai pendidikan jika pihak UPI hanya memberikan sanksi yang sangat ringan. Hal ini menjadi tanda tanya juga bagi para alumni, termasuk Teten Masduki (Sekretaris Jenderal Transparency Internasional Indonesia) sebagai alumnus UPI merasa prihatin dengan keputusan Senat Akademik.

Telisik punya telisik, ternyata Pembantu Rektor Bidang Keuangan, Sumber Daya, dan Usaha (PR KSDU) UPI yang mengurusi kepegawaian di UPI adalah senior dan pembimbing karya ilmiahnya Cecep Darmawan. Tengok saja pembelaan yang dilakukan oleh PR KSDU UPI ketika sejumlah wartawan menanyakan hal tersebut. UPI tidak terbuka dalam memberikan penjelasan kepada publik, padahal UPI sendiri yang mengundang wartawan untuk bertanya.

Senat Akademik sebagai badan normatif dalam perguruan tinggi, seolah menuruti apa yang diinginkan PR KSDU UPI. Ada hubungan apa antara Senat Akademik UPI dengan PR KSDU UPI? Suatu keprihatinan pada sebuah institusi pendidikan jika harus disamakan dengan dunia perpolitikan, dimana unsur politis nampak kental. Jika sudah tampak hal tersebut, bukan hanya Cecep Darmawan dan dua dosen itu yang terkena sanksi, PR KSDU UPI juga bisa disalahkan dalam penglolosan dosen tersebut dalam pengajuan guru besarnya.

Tulisan ini sebagai upaya agar kultur seperti itu bisa dimusnahkan dalam institusi pendidikan. Dikti juga harus memperhatikan hal tersebut, bagaimana kultur feodal di UPI bisa dihilangkan.

===

Keterangan: Artikel opini ini dipajang dalam media online pribadi milik Rudini Sirat pada hari Sabtu, 3 Maret 2012. Ianya juga dapat dilayari di: www.rudinisirat.blogspot.com [diakses di Bandung: 22 Maret 2012].

Rudini Sirat adalah Mahasiswa UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) di Bandung; Koordinator KPSD (Kajian Pembangunan dan Sumber Daya); aktif bergiat di pers mahasiswa UPI, Isola Pos; dan penulis buku Dari Isola ke Bumi Siliwangi (2011).

SHARE

17 COMMENTS

  1. I have no comment about an opinion above. Most of people know that UPI is abbreviation of “Universitas Plagiat Indonesia”. What’s something new???

  2. Menurut buku “Dari Isola ke Bumi Siliwangi” (2011), yang ditulis oleh Rudini Sirat, bahwa pendiri UPI yang juga Menteri Pelajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan RI pada tahun 1954, yaitu Prof. Mr. Muhammad Yamin, menyatakan bahwa tujuan didirikannya PTPG (Perguruan Tinggi Pendidikan Guru), sekarang menjadi UPI, adalah untuk mendidik para mahasiswa agar menjadi guru dan sarjana pendidikan yang bermoral dan bersusila.

    Apakah tindakan plagiat yang dilakukan oleh dosen2 itu termasuk bermoral dan bersusila? Pastilah civitas akademika UPI akan dicap oleh masyarakat luas sebagai orang-orang yang a moral dan a susila.

    Saya jadi teringat dengan pernyataan Prof. Dr. Soedijarto ketika menjadi pembahas buku “Dari Isola ke Bumi Siliwangi” (2011). Beliau bilang, “Ngenes saya membaca sikap pimpinan UPI yang seperti ini”. Beliau “ngenes” alias sedih pada waktu itu karena melihat pimpinan UPI kurang menghargai kreativitas mahasiswa di satu sisi, serta di sisi lain memandang remeh masalah2 akademik yang menjadi jatidiri dan kebanggaan sebuah PT (Perguruan Tinggi).

  3. Bung Rudini, anda kurang lengkap membuat judul tulisan. Harusnya ”Menyembunyikan Plagiator dan Menyalahkan Provokator”. Hal ini didasarkan oleh kenyataan bahwa Pimpinan UPI bukannya introspeksi diri dan mengambil tindakan yang berani terhadap plagiator, tapi malah mencari-cari kambing hitam, siapa yang disinyalir menjadi provokator.

    Disinyalir juga bahwa yang menjadi provokator, untuk menyerang pribadi plagiator dan menjelekkan lembaga UPI, adalah orang yang berinisial AS. Padahal banyak sekali orang yang berinisial AS di UPI ini.

    Berikut adalah nama-nama orang yang berinisial AS di UPI: Ahmad Sunaryo, Alfurqon Syukron, Adrus Safandi, Aminuddin Sazis, Adang Sunendar, Ahman Surahman, Arim Suryadi, Ayu Sinden, Asep Sadarohman, Artos Sumarto, Adi Suryadi, Andang Sumantri, Abin Syamsuddin, Ahmad Syihabuddin, Asmawi Sainul, Abdul Samied, dan AS-AS lainnya.

    Lieur dan mabok sugan mah!!!

  4. Dear, ASPENSI in News & Views readers.

    Comments displayed by “ASPENSI in News & Views” do not necessarily represent the views as well as the policy of Editorial Committee of ASPENSI. The Editor is responsible for the final selection of comment content and reserve the right to reject any material deemed inappropriate for publication. Responsibility for comments expressed and for the accuracy of facts displayed in the comments rests solely with the individual commentator.

    Warmest regards.

    • Para pengunjung “ASPENSI in News & Views”, nih ada komentar bagus dari Barakatak, sebagaimana dimuat dalam portal http://www.jabartoday.com [15 Maret 2012]:

      CD tidak terima dituduh “plagiator”. Dia malah menyalahkan “translator”. “Translator” juga tidak mau jadi kambing hitam, dia lalu menyalahkan “editor”.

      Editor yang orang Sunda itu jadi kesal dan minta CD untuk menterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris kalimat seperti ini, “Cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok”.

      Alhasil, CD menterjemahkannya seperti ini: “Water-racak falling the stones, slowly-slowly to be the cock”.

      Akhirnya, CD memang ketahuan belangnya karena hasil tes TOEFL nya yang 500 itu juga ternyata hasil kegiatan plagiat.

      Dasar plagiator, bermain politik dan ngurus akademik pun dengan cara-cara yang “kotor”.

  5. Saudara Rudini, izinkan saya untuk menjadi “plagiat”, yakni menasihati kamu dengan mengutip dan memodifikasi komentarnya Prof. Dr. Bunyamin Maftuh dari FPIPS UPI, ketika memberi nasihat kepada Andi Suwirta. Nasihat-nasihat sufistiknya amat menyentuh dan sarat makna. Karena itu kamu harus membaca komentar “plagiat” saya ini, sebagai berikut:

    “Ketika saya membaca tulisan Rudini Sirat tentang “Menyembunyikan Plagiator”, saya terkagum dengan gaya tulisannya. Memang beliau sangat piawai dalam menulis, termasuk dalam menulis karya ilmiah, sehingga tidak heran pers mahasiswa UPI, Isola Pos, yang pernah diasuhnya menjadi media massa yang dikenal secara nasional.

    Saya mengenal Rudini Sirat sudah lama, bekas mahasiswa saya di UPI dan mengambil matakuliah MKDU, yang rumahnya entah dimana, saya tidak tahu.

    Ketika membaca tulisannya tersebut, tergerak hati saya untuk menyampaikan sesuatu kepada bekas mahasiswaku, Rudini Sirat, ini.

    Semoga bekas mahasiswaku, Rudini Sirat ini, senantiasa diberikan hidayah oleh Allah SWT agar: (1) Menyalurkan energi kecerdasannya untuk hal-hal yang positif, yang berguna bagi kemajuan UPI, di mana Rudini Sirat dulu begitu bersemangat untuk memperjuangkan dan membela nama baiknya; (2) Senantiasa memiliki hati yang ikhlas dan sejuk, yang bersih dari segala rasa dendam, dengki, hasud, dan buruk sangka pada orang lain; (3) Mampu mengintrosepsi diri, tanpa menghabiskan energi untuk mencari-cari kesalahan orang, dan tidak menyebarluaskan aib orang dan menggiring opini orang untuk bersama-sama menebar rasa kebencian pada orang lain; (4) Memiliki jiwa pemaaf yang agung dan menerima takdir dengan ikhlas; (5) Memiliki semangat untuk tetap memajukan UPI bersama-sama dengan teman-teman lainnya; (6) Semoga surga yang sudah di depan mata Rudini Sirat tidak semakin menjauh hanya karena kurang mampu menghapus dendam politik lama; dan (7) Semoga kehidupan Rudini Sirat ke depan penuh dengan keberkahan dan limpahan hidayah dari Allah SWT.

    Sayang, kalau orang sepandai Rudini Sirat dan teman-teman seperjuangan Rudini Sirat harus menghabiskan energi untuk hal-hal ang kurang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat”.

    Nah, begitulah Rudini Sirat, nasihat plagiat saya, dengan merujuk komentar Guru Besar FPIPS UPI yang jadi “ulama” tapi belum tamat ngajinya itu. Semoga kamu dan kita semua selamat dunya dan akhirat!!!

    • @ Guru Sufi: Aku setuju banget dengan komentarmu. Maklum saja, Guru Besar MKDU UPI itu tidak bisa membedakan mana karya ilmiah yang dianalisis secara logis dan rasional dengan tulisan untuk khutbah Jum’at yang sarat dengan norma-norma dan nilai-nilai ilahiyah. Ha ha ha ha!!!

  6. Dear, sir/madam. Tell me please. Is mr Bunyamin Maftuh similar with mr Benyamin Franklin as well as mr Benyamin Su’eb? Ups, the answer is may be yes or may be not. Cheers.

    • I’m not sure about my answer, but it is based on my private knowledge. Mr Benyamin Franklin is one of the founding father of USA (United States of Amrica). Mr Benyamin Su’eb is one of the notorious comedian in Indonesia. While Mr Bunyamin Maftuh is one of the supporter for plagiarism matters in UPI.

  7. Tulisan Rudini Sirat memang tepat dan kena sasaran. Pimpinan UPI malah mencari-cari kambing hitam: siapa yang membocorkan isu plagiarisme di UPI ini ke media massa? Bahkan ada seorang Guru Besar UPI yang menyalahkan Dikti, dengan kata-kata yang kasar, “Anu goblog mah Dikti”, artinya yang bodoh itu Dikti.

    Semoga pihak Dikti mendengar ucapan Guru Besar ini, sehingga menghukum tidak hanya kepada para plagiator, tapi juga kepada Guru Besar yang melindungi dan menyembunyikan plagiator di UPI.

    • Pejabat itu figur publik. Segala perbuatan, sikap, dan ucapannya diperhatikan oleh masyarakat. Ucapan yang baik akan dikesankan sebagai pejabat yang santun. Sikap yang kasar akan dicap sebagai pejabat preman. Dan perbuatan yang tidak jujur akan dihukum sebagai pejabat yang koruptor, atau plagiator kalau dia seorang akademisi yang jadi pejabat.

  8. Nampaknya pihak Dikti akan terus melacak plagiator2 berikutnya di UPI. Ini peristiwa berseri dan cerbung (cerita bersambung) kawan. So, mari kita lihat dan tunggu saja episode berikutnya. Salam anti plagiat dan anti nyontek!!!

    • Walah, siapa lagi yang bakal kena pak? Untung saya mah belum menjadi Guru Besar atau Calon Guru Besar. Iya memang pak, sebaiknya Guru Besar di UPI itu jangan mengejar target, misalnya harus sekian persen. Apalagi tergoda oleh tunjangan jabatan Guru Besar yang menggiurkan. Akibatnya banyak Guru Besar dan Calon Guru Besar yang mateng tapi seperti dikarbit, sehingga ada yang terjerumus menjadi plagiator. Semoga ini menjadi bahan renungan dan introspeksi bagi kita semua.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here