Cecep Darmawan: Sang Plagiator?

48
2068

Oleh: Andi Suwirta

Ketika Soekarno sedang jaya-jayanya berkuasa, pada tahun 1960-an, ia hanya mau dituliskan riwayat hidupnya oleh seorang penulis dengan dua syarat: wanita dan cantik. Adalah mujur bagi Cindy Adams, seorang wanita dari Amerika Serikat yang memang cantik itu, dipilih oleh Presiden pertama RI (Republik Indonesia) untuk menuliskan riwayat hidupnya. Walaupun pilihan Soekarno ini mengundang kontroversi, mengingat politik Indonesia saat itu sangat anti Amerika dan Presiden sendiri sering mengatakan “Go to Hell with your Aids” kepada Negara Paman Sam, tapi itulah gaya politik Presiden Indonesia yang bebintang Gemini, penuh warna-warni.

Dalam konteks inilah lahir buku Sukarno: An Authobiography as Told to Cindy Adams (1966), yang juga banyak mengundang kontroversi dari perspektif historiografi (sejarah tentang penulisan sejarah). Lebih kontroversial lagi secara politik, karena setelah Soekarno meninggal dunia pada tahun 1970, Cindy Adams menulis buku lain, yang berbeda dengan buku pertamanya, dan diberi judul My Friend a Dictator (1974).

Dalam konteks didaktik dan penelitian sejarah, Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo, sejarawan terkenal yang sudah almarhum dari UGM (Universitas Gadjah Mada) di Yogyakarta, sering mewanti-wanti para sejarawan dan pendidik sejarah untuk selalu memiliki sikap “asketisme intelektual” (mesuh budi) dimana unsur ketelitian, kejujuran, rendah hati, dan etos akademik yang tinggi itu sangat penting dalam melakukan penelitian dan penulisan sejarah di satu sisi; serta di sisi lain tidak juga disertai dengan “perasaan marah dan berat sebelah” dalam menilai tokoh sejarah.

Tulisan ini dibuat dalam konteks ingin menangkap spirit dari petuah Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo, yang oleh salah seorang muridnya dilabel juga sebagai “Bapak Sejarah Sosial Indonesia”. Sejarah Indonesia, dan juga sejarah dunia pada umumnya, memang adalah sejarah para raja, tokoh agama, panglima perang, politisi terkenal, dan sejarah tentang “orang-orang besar” lainnya. Sudah saatnya sekarang, demikian Sartono Kartodirdjo (1982 dan 1992), untuk menuliskan sejarah sosial yang demokratis, yakni sejarahnya orang-orang kecil, wong cilik, dan orang biasa, di luar sejarahnya orang-orang besar, seperti sejarah petani, buruh, nelayan, guru, dosen, perempuan, dan sebagainya.

Dalam konteks ini, Cecep Darmawan bukanlah seorang raja, apalagi tokoh agama. Ia bukan juga seorang tentara atau politisi hebat, apalagi seorang ilmuwan terbilang (terkenal). Ia hanyalah seorang Dosen biasa dari UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) di Bandung yang sekarang namanya sedang menjadi perhatian publik, karena disorot oleh media-massa, terkait dengan kasus plagiarisme di Indonesia.

Dilahirkan di Subang, Jawa Barat, pada tanggal 29 September 1969, Cecep Darmawan (selanjutnya disingkat CD) melalui masa kecil dan pendidikan dasar serta menengahnya di Subang, suatu daerah sekitar 50 km ke arah utara dari Bandung yang bebukit-bukit di sebelah selatan dan landai-berpantai di sebelah utara. Subang dikenal selain sebagai daerah penghasil buah nanas (di daerah selatan) juga sebagai sumber produksi beras (di sebelah utara).

CD menjadi mahasiswa UPI, dulu namanya masih IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Bandung, pada tahun 1988. Ia satu angkatan dengan Karim Suryadi (sekarang Prof. Dr. dan Dekan Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial di UPI) dan memilih Jurusan Pendidikan PKn (Pancasila dan Kewarganegaraan). Pada waktu mahasiswa, menurut pengakuan banyak teman satu angkatannya, CD tergolong mahasiswa biasa-biasa saja secara akademik.

Tapi CD sangat aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Ia aktif, misalnya, di organisasi kampus mulai dari tingkat Jurusan sampai tingkat universitas. Ia juga aktif di organisasi ekstra kampus, diantaranya di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). CD memang tinggal di Asrama Mahasiswa Kampus, satu tempat yang dalam thesisnya Ben Anderson (1988), seoranng Indonesianist terkenal dari Amerika Serikat, sering digambarkan sebagai “kawah candradimuka”, tempat para pemuda menjalani kehidupan dengan semangat, penuh vitalilitas, disiplin, mandiri, dan punya idealisme yang tinggi.

CD kemudian menjadi Dosen UPI pada tahun 1995. Selama menjadi Dosen, ia tetap aktif dalam beorganisasi. Ia masih tetap aktif, misalnya, membina mahasiswa yuniornya di Asrama Mahasiswa Kampus. CD kemudian menempuh pendidikan Magister (S2) dan Doktor (S3) di UNPAD (Universitas Padjadjaran) Bandung dengan menekuni bidang ilmu sesuai dengan minatnya, yakni politik dan administrasi pemerintahan. Menurut pengakuan banyak Dosen, mentor politik dan akademik CD dalam berorganisasi adalah Prof. Dr. Idrus Afandi, Dosen Senior di Jurusan Pendidikan PKn dan sekarang menjabat sebagai PR (Pembantu Rektor) II UPI.

Nama CD mulai menjadi “perhatian publik” di UPI pada tahun 2005, ketika ia bersama teman-temannya mendirikan FPMD (Forum Peduli Masa Depan) UPI dan banyak mengkritik kebijakan-kebijakan Rektor UPI pada saat itu, Prof. Dr. Mohammad Fakry Gaffar. Karena aktivitasnya ini pula menjadikan CD pernah di BINAP (Pembinaan Aparatur) oleh pimpinan UPI, dalam hal ini oleh PR II UPI pada waktu itu, Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata (sekarang Rektor UPI). Namun gemblengan yang dialami oleh CD, baik dalam kehidupan Asrama Mahasiswa yang spartan maupun dalam kehidupan berorganisasi yang penuh intrik, menjadikan modal untuk terus bertahan dan bahkan melawan pimpinan UPI pada waktu itu.

Berkat perjuangan dan doa, CD akhirnya mendapatkan apa yang diinginkannya. Pergantian pimpinan UPI, dari Prof. Dr. Mohammad Fakry Gaffar (1995-2000 dan 2000-2005) kepada Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata (2006-2011 dan 2011-2016), telah mengubah arah dan nasib kehidupan CD. Ia kini menjadi “orang penting” di UPI. Beberapa jabatan kini disandangnya, antara lain Direktur Kemahasiswaan UPI dan Anggota SA (Senat Akademik) UPI. Ia juga punya jabatan penting di luar UPI, yakni sebagai Rektor UNSUB (Universitas Subang).

Nama CD juga dikenal di media massa, baik cetak maupun elektronik, karena ia sering menulis artikel opini di beberapa surat kabar. CD juga sering tampil dalam wawancara di TV Bandung. Tapi menurut pengakuan Prof. Dr. Karim Suryadi, teman satu angkatannya yang juga sama-sama berasal dari Subang, CD harus lebih “banyak membaca” kalau suara dan analisis tulisannya ingin diperhatikan oleh banyak orang, suatu kritik halus betapa sulitnya mensinergikan antara spirit seorang aktivis dengan etika akademis.

Memang, tiada yang abadi di dunia ini, kecuali perubahan itu sendiri. CD kini memang telah berubah. Tapi perubahan itu, dalam perspektif sosiologis, bisa menuju ke arah kemajuan atau pun kemunduran. Ketika CD baru saja lulus dari program Doktornya di UNPAD pada tahun 2009, ia dengan semangat segera mengajukan Usulan Guru Besar ke Dirjen Dikti (Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi) di Jakarta.

Nampaknya nasib baik tidak sedang berpihak kepada CD. Karya-karya ilmiah yang diajukannya untuk menjadi Guru Besar atau Profesor dinilai plagiat oleh Dirjen Dikti. Bahkan ketika pihak Ditjen Dikti mengkonfirmasi hal tersebut ke UNPAD, almamater CD dalam menempuh pendidikian S2 dan S3, ditemukan fakta bahwa tidak hanya kalimatnya yang sama, bahkan titik dan komanya pun serupa (Pikiran Rakyat, 1/3/2012). Menurut kesaksian beberapa orang Dosen di UPI pula, jurnal yang digunakan CD untuk memuat karya ilmiahnya itu termasuk kategori “abal-abal”, yakni jurnal ilmiah yang bukan saja tidak terakreditasi dan tidak terujuk secara nasional, tetapi juga jurnal tersebut tidak memiliki portal (website) sehingga tidak bisa dibaca dan diakses oleh banyak orang.

Kasus plagiat yang dilakukan oleh CD bukan peristiwa unik dalam sejarah pendidikan tinggi di Indonesia. Kasus ini pernah menimpa juga universitas lain seperti UI (Universitas Indonesia) di Depok, UNRI (Universitas Negeri Riau) di Pekan Baru, dan UNPAR (Universitas Katholik Parahyangan) di Bandung. Namun, apa sanksi yang diterima oleh para Dosen yang plagiator tersebut? Umumnya, mereka diberhentikan dengan tidak hormat dari almamaternya, dibatalkan jabatan Guru Besar dan Gelar Akademik lainnya, serta dicopot dari Jabatan-jabatan lain yang disandangnya.

Kini, hukuman apa yang bakal dikenakan oleh UPI, tempat CD dididik dan dibesarkan oleh Kampus yang bermotokan “edukatif, ilmiah, dan religius”, serta sekarang A Leading and Outstanding University ini, kepada seorang Dosen yang dicap plagiator? Saya tidak tahu dan tidak bermaksud untuk mempengaruhi kebijakan pimpinan UPI.

Sebab, tugas seorang sejarawan dan pendidik sejarah, demikian menurut Prof. Dr. Taufik Abdullah (sejarawan terkenal Indonesia), adalah hanya mengumpulkan data dan fakta sejarah serta menuliskannya secara objektif dan benar. Biar para pembaca yang menilai benar dan salahnya. Dengan perkataan lain, seorang sejarawan dan pendidik sejarah adalah laksana seorang koki yang meramu, meracik, memasak, dan menghidangkan makanan. Biar orang lain saja yang menilai “asin, manis, pahit, enak, dan tak sedapnya” itu makanan. Wallahu’alam.

===

Keterangan: Opini ini merupakan pendapat pribadi.

Andi Suwirta, M.Hum. adalah Dosen Jurusan Pendidikan Sejarah UPI dan Ketua Umum ASPENSI (Asosiasi Sarjana Pendidikan Sejarah Indonesia) di Bandung. Alamat surel: [email protected]

SHARE

48 COMMENTS

  1. Sejarah tentang “orang-orang kecil”, saya kira bagian dari kajian postmodernisme. Dan postmodernisme, sebagian merupakan paradoks. Dalam sisi yang berbeda, CD barangkali juga sedang memamerkan paradoks semacam itu. FPMD (Forum Peduli Masa Depan) UPI dulu, dengan CD salahsatu tokohnya, dengan ganas menyerang kebijakan Pimpinan UPI waktu itu (saya koreksi pa Andi, tolong dicek kembali selebaran/newsletter FPMD dulu, sebab ia bukan hanya mengkritik kebijakan, tetapi dengan bahasa vulgar juga banyak menyerang pribadi). Lalu “masa depan” UPI yang diinginkan itu, barangkali inilah akhirnya, plagiasi yang mencoreng nama UPI.

    Paradoks lainnya, coba cermati tulisan dan ujaran CD sebagai kolumnis dan aktivis, yang sebagian berbicara tentang etika ilmiah, sikap jujur, dan anti korupsi. Ya, barangkali memang, dan mudah-mudahan, seperti pengakuannya, plagiasi itu terjadi hanya karena “ketidak-cermatan”, dan bukan karena “ketidak-hormatan” pada karya orang lain. Atau ini pun sebuah paradoks yang lain, suatu apologia?

    Dari sudut pandang apologia yang lain, CD mungkin merupakan bagian dari “korban” pula. Korban budaya instant, mental menerabas (kata Mochtar Lubis), orientasi pada hasil, dan hasrat untuk segera sukses seketika yang menjangkiti masyarakat, termasuk sebagian (kecil?) akademisi. Plagiasi sendiri sesungguhnya merupakan tanggungjawab individu (oknum) plagiator. Problemnya adalah ketika institusi (UPI) dinilai lamban memberikan sanksi yang keras, sehingga dengan mudah distigmasisasi dan dilabeli image buruk, karena dinilai permissif. Ini berbeda misalnya dengan Unpar, yang segera mencabut gelar profesor seorang yang melakukan plagiasi “hanya” pada sebuah artikel koran. Atau ITB, atau Harvard sekalipun, pernah terkena kasus plagiasi. Yang berbeda, adalah UPI, sebagai lembaga pendidik tenaga kependidikan, dinilai “lembek” dalam memberikan hukuman itu. Atau, ini juga sebuah paradoks yang lain?

    • Hendaknya semua pihak harus legowo, sebab semua tindakan itu cepat atau lambat akan berpulang lagi pada pelakunya. kalau CD itu benar seorang plagiator maka itu imbalan yang layak baginya, akan tetapi jika dia adalah korban fitnah dari “lawan-lawan politiknya” maka tenang sajalah sejarah akan membuktikan cepat atau lambat bahwa CD akan terbukti kebenarannya.

  2. I think, what Prof Barliana said is absolutely true. A plagiarist is a criminal action in academic matters. So, why UPI as a leading and outstanding university wants to protect the plagiarist?

    It is a paradox. And let us saying together, “all is paradox in UPI, all is paradox in UPI”.

    In the future, when someone talk about UPI, it is not only abbreviating UPI as “Universitas Padahal IKIP” but also as “Universitas Plagiat Indonesia”.

    Bad news for UPI. Hu3.

  3. Punten, sanes pak Andi oge urang Subang?

    Karunya nya ka urang Subang, seueur nu moyok kieu:

    Bupati Subang: Koruptor.
    Rektor Universitas Subang: Plagiator.

    Ari pak Andi janten naon? Provokator, we nya. Ha3. Punten nya pak, heureuy Bandung, eta mah.

  4. Salam Melayu Raya dan Indonesia Raya, tuan/puan. Saya pensyarah daripada Malaysia, tengah tengok berita pada dada akhbar online tempatan, khasnya “Pikiran Rakyat” di Bandung. Wujud sorang pensyarah daripada UPI yang plagiat ke?

    Bila di Malaysia wujud kes macam itu, pensyarah bersabit kena saman dan digantung selaku ahli akademik hingga bila-bila masa daripada IPTA (Institusi Pengajian Tinggi Awam) berkenaan. Amalan plagiarism adalah terus dan tak boleh dimaafkan.

    Saya tak tahu macam mana di Indonesia. Tapi jom kita berganding bahu untuk membanteras budaya dan amalan plagiarism!

  5. Mas Wirta, tulisan njenengan apik tenan.

    Tapi pancen njomplang meniko njenengan nulis lan mbandingaken kontroversi Soekarno, lha kok teruse marang Cecep Darmawan.

    Sopo iki CD? Kulo mboten mudeng, sebab CD katah maknane: Corps Diplomatik, Complex Disk, Celana Dalam, lan okeh meneh sing sejenne. He3.

  6. Tahniah dan syabas kepada en. Andi selaku Pengerusi ASPENSI, memandangkan pertubuhan ni dibaca dan dilayari oleh sesiapa sahaja pada mana-mana negara. ASPENSI pulak punya jurnal-jurnal akademik yang terbilang dan cemerlang, kerana punya laman web persendirian yang ditadbir secara profesional.

    Saya rasa seronok la membaca jurnal-jurnal ASPENSI, memandangkan Bahasa yang diguna-pakai pun pelbagai. BI (Bahasa Inggeris) sebagai bahasa antarabangsa memang penting, tapi kita juga kena cintakan bahasa kebangsaan kita, iaitu BM (Bahasa Melayu) dan BINA (Bahasa Indonesia).

    Sekian dan salam muhibah. Nota campur: Bila nak pergi semula ke Malaysia?

  7. Alamak, nama CD ni macam nama Raja dalam Empayar Majapahit ke? Tapi tak payah bimbang, kerana Hang Tuah (wira sejati daripada Kesultanan Melayu) dah boleh menewaskan Mahapatih Gadjah Mada dan berjaya pulak membawa Keris Tamingsari yang sekarang diwarisi oleh Sultan-sultan Melayu.

    Apatah lagi ini setakat CD yang bukan Mahapatih dan Raja terbilang. Senanglah ditewaskan. Kalau boleh saya membagi cadangan: dibaling sahaja sehingga semua gelaran dan jawatan yang dimilikinya hancur berguguran.

    Salam 1Bangsa: Melayu Raya dan Indonesia Raya.

  8. According to A.S. Hornby in “Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English” (1986:637), the meaning of “plagiarist” is person who take and use somebody else’s ideas, words, etc as if they were one’s own.

    So, related to the opinion article, is CD as plagiarist? Based on the news and views of the mass-media, and also data from Fact Finding Committee of UPI, it is concluded that CD is absolutely as a plagiarist.

    What the kind of punishment for a plagiarist? I think, let’s we wise and forgive him. But remember please that he will be memorized whenever by all of us as a plagiarist.

    Best regards and cheers.

  9. Ini akibat dari nepotisme dan koncoisme yg membabibuta dan moral yg rendah, tidak samanya kata dgn perbuatan, cenderung munafik, buta mata buta hati, yg penting jabatan dan uang. INALILAHI WA INAILAIHI ROJIUN. Ya Alloh kembalikan saudarku ke jalan Mu, jalang yg engkau ridhoi. Amin

  10. Bukankah yang kena tegur itu 21 PTN dan 7 Kopertis, di mana untuk satu wilayah Kopertis terdiri atas puluhan PTS, sehingga PT yang kena tegur akan sangat banyak. Mengapa yang diungkap itu hanya CD? Bahkan 2 orang lainnya dari UPI tidak disebut-sebut? Mengapa tidak diungkap semua yang diduga plagiator? Curiga ada ketidaksenangan personal atau kelompok tertentu pada CD. Janganlah persoalan pribadi atau kelompok tertentu sampai menjatuhkan citra kelembagaan yang kerugiannya jauh lebih besar.

  11. “Sesuatu yah” tulisan ini, mendapat respons yang luar biasa. Padahal tulisannya datar-datar saja, tidak menghujat seseorang apalagi lembaga.

    Bagi mahasiswa sejarah, saya kira tulisan ini penting untuk belajar menuliskan “sejarahnya orang-orang biasa”, bukan sejarah “para penggede” yang kisah hidup sudah diketahui “happy ending”-nya: lahir, dewasa, kawin, jadi Raja, perang, mengalami kejayaan, masa tua, meninggal dunia, dan … masuk surga. Ha3.

  12. Leres pisan neng Syahrini anu gaduh “sesuatu yah”. Abdi emut pisan, pami Guru Sejarah nerangkeun nalika di sakola, sok cumarios kieu:

    “Kacaritakeun, barudak. Aya hiji Raja, boga anak. Eta anak raja teh saatosna dewasa teras kawin, teras boga anak deui. Saatosna Rajana pupus, eta anak raja teh diangkat jadi Raja, dugi ka kakawasaanana kawentar ka sakuliah dunya. Saatosna sepuh, eta Raja teh maot, nya teras digentos ku putra raja tea …”. Teras we eta pak Guru teh nyarita siga goyang Inul, muter-muter.

    Tapi sigana, pami harita ku abdi ditaros eta pak Guru Sejaran, “Naha dina zaman harita aya kajadian plagiarismeu?” Sigana mah pak Guru Sejarah teh baris ngawaler kieu, “Ih, aya. Nami rajana CD alias Caturkala Darmawangsa, cenah mah”.

    Abdi olohok, teras imut ngagelenyu, sabari dina hate mah nyarita, “Oh, janten Jurusan Sejarah teh Jurusan Percenahan nya?”.

    Cag, ah!

  13. sebetulnya pendapat pribadi pak suwirta tidak begitu jelas di sini. apakah pak suwirta berpendapat cecep darmawan sekadar tidak bernasib baik saja? apa sebenarnya pendapat pribadi pak suwirta tentang kasus plagiarisme yang dilakukan cecep darmawan. betul seorang sejarawan hanya koki saja dan hasil akhirnya diserahkan pada pembaca. akan tetapi harus diingat juga pembaca yang kritis harus mempertanyakan apa maksud ketidakjelasn pendapat pribadi pak suwirta di sini dengan sejumlah back-up data tentang kesejarahan cecep darmawan? karena pada akhirnya, kita harus tetap pada niat menegakkan kebenaran. seseorang yang sudah melakukan plagiat harus dihukum. apalagi jika dia seorang guru….berhakkah dia bicara soal kejujuran di muka para mahasiswanya? berhakkah dia melarang mahasiswanya untuk tidak menyontek, tidak melakukan copy-paste? dengan memiliki tenaga pengajar seperti ini, banyak yang dipertaruhkan oleh upi. apa yang bisa kita banggakan dari institusi jika enggan menghukum perilaku seperti itu. keinginan -drive- untuk menjunjung idealisme, kualitas dan reputasilah yang memberdayakan PT lain -dalam dan luar negeri- untuk mengambil tindakan tegas yang berdampak positif untuk jangka yang panjang. hukuman yang lemah dan tidak tegas hanya menyuburkan perilaku serupa dan perasaan apatis dari mereka yang bersungguh-sungguh dan jujur.

  14. Saudara-saudaraku, sebangsa tanah dan sebangsa air (eh, sebangsa dan setanah air). Kasihanilah pak Cecep Darmawan. Dia sekarang sedang sakit di kemotherapi. Jadi kita ikhlaskan saja dan dimaafkan atas segala perbuatannya. Semoga Allah SWT menerima taubat dan Iman-Islamnya.

    Memang tragis nasib pak Cecep ini. Di mata publik, ia adalah figur Dosen Muda yang menjadi panutan karena idealisme dan kepintarannya dalam berpolitik. Sayang, ia kesandung kasus plagiarisme yang dipolitisir olah banyak pihak.

    Dua dosen UPI lainnya yang melakukan plagiarisme, juga tidak kurang tragis dan ironisnya. Dr. Lena Nuryanti, dosen FPEB (Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis) UPI, adalah kebanggaan LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) UPI dalam melakukan penelitian bagaimana menguji ijazah ASPAL (asli tapi palsu) dengan cara meneliti tinta yang digunakan pada ijazah tersebut. Siapa sangka, dia juga ternyata calon Guru Besar yang ASPAL.

    Akan halnya Dr. Ayi Suherman, dosen PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar) UPI Kampus Sumedang, sudah sejak awal kayaknya tidak jujur dan melakukan kebohongan. Kononnya, menurut yang punya cerita, waktu dia memberi kuliah IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) kepada mahasiswa yang merupakan Calon Guru-guru SD, dia menerangkan begini,

    “Nah ini, negara ASEAN. Myanmar adalah negara yang terbelakang dan otoriter pemerintahannya”.

    Ketika mahasiswanya bertanya, “Apakah bapak sudah pernah pergi ke Myanmar?”, sang Dosen hanya bisa nyengir dan garuk-garuk kepala saja. Jadi sejak di kelas pun kalau menerangkan sudah tidak jujur, alias OmDo (omong doang).

    Yah, UPI harus jujur pada dirinya sendiri bahwa banyak calon-calon Guru Besar, dan bahkan Guru Besarnya sendiri,yang memang masih GBHN (Guru Besar Hanya Nama).

  15. Secara pribadi saya tidak terlalu percaya dengan berita ini, karena berdasarkan pengalaman pribadi saya dalam menguruskan berbagai hal yang berhubung dengan Dirjen Dikti, banyak hal-hal yang tidak masuk di akal sehat terjadi. Saya tidak begitu yakin ingin mengatakan bahwasanya pemeriksaan berkas file guru besar ini menggunakan bantuan teknologi komputer yang sama halnya seperti pemeriksaan deskripsi diri dan portopolio pada proses sertifikasi dosen. Terkadang penggunaan teknologi tidak selamanya mendatangkan hasil yang diharapkan. Secara originalitas terhadap suatu berkas tulisan, sebenarnya tidak ada yang lebih baik dari pada tulisan tangan (Jadi ingat ujian kompre) Jadi kesimpulan saya berita ini belum bisa dipastikan kebenarannya, apalagi kalau terjadi proses penjastifikasian terhadap seseorang atau lembaga. (Tulisan ini hanya sekadar opini dari pengalaman pribadi saya). Terimakasih.

  16. Sampurasun!

    Pertanyaan terbuka utk Andi Suwirta:
    Motif politik di balik article ini apa yah? (meminjam kata syahrini: “sesuatu banget”)selain ada ketidaknyambungan ide dan gagasan antara paragraf-paragraf awal dengan paragraf-paragraf selanjutnya. Saya sebagai pembaca melihat (dari article ini) sepertinya anda memiliki personal conflict of interest or power dengan orang yang anda pojokan di dalam article ini. Pembaca bertanya, ada apa dengan Andi Suwirta? Kenapa hanya CD yg diblow-up? Kenapa yg 2 lainnya tidak? Apa karena ada dendam masa lalu yg belum juga padam dan terus kita para pembaca dibawa pada persoalan konflik kepentingan Andi Suwirta?

    Lalu dalam penyampaian fakta plagiarism yg dilakukan org yg dipojokan dalam article ini disebutkan: “karya-karya CD”
    Karya-karya yang mana? Bisakah anda menunjukkan bukti dari tulisan dan penyataan anda ini? jika tidak dibuktikan maka kami pembaca menjadi semakin tanda tanya terhadap anda.

    Pertanyaan untuk pengunjung/pembaca/pemberi komentar:
    Sebagai akademisi, sudahkah kita melakukan usaha-usaha untuk mengetahui fakta dari isu yang sedang berkembang ini? atau tenggelam, larut, tergiring oleh Opini dan Provokasi?

    Ya kita sudah selayaknya menentang Plagiarism, Copy-Paste, Nyontek, etc. Tapi apakah saudara/i tahu duduk perkara dari permasalahan yang sedang hangat dibicarakan ini? cari tahu supaya tahu.

    Ahungggg!!!

  17. Menurut saya mah, tulisan pak Andi ini cukup bagus dan objektif. Dia tidak menuduh seseorang dan judulnya pun masih tanda tanya.

    Sudah waktunya Dosen2 dan mahasiswa2 di UPI berpikir kritis dan analisis. Kalau setuju atau tidak setuju dengan sesuatu tulisan opini, ya dikritisi dengan tulisan opini lagi yang bersifat analisis dan kritis.

    Sayang, Dosen UPI dan para mahasiswanya mungkin terlalu banyak membaca pamplet2 politik, seperti pada zaman FPMD dulu yang dipimpin oleh pak Cecep Darmawan. Jadi cara menulis dan berpikirnya pun bersifat tendensius, politis, dan bombastis.

    Kalau dalam Bahasa Indonesia ada pepatah “Mulutmu adalah Hariau mu”, maka dalam dunia akademik juga ada istilah “Tulisanmu adalah Otakmu”. Jadi, kita bisa tahulah kualitas otak sesorang itu dari cara dia menulis dan menganalisis persoalan.

    Apakah pak Andi termasuk Dosen yang bodoh? Mungkin ya mungkin tidak, terserah kepada kita cara menilainya. Punten nya, pak Andi.

  18. Hai para Calon Guru Besar yang Dicap Plagiator di UPI, di Indonesia, dan di Seluruh Dunia, BERSATULAH !!! Mari kita demo besar-besaran ke Dikti dan teriakkan slogan, “GANYANG DIKTI SAMPAI MATI !!!”

    Pesan layanan masyarakat ini datangnya dari mantan Pengurus FPMD (Forum Peduli Masa Depan) UPI.

  19. Saya rasa hairan, macam mana Profesor di Indonesia dipanggil “Guru Besar”? Di Malaysia ni, Guru Besar bermaksud Pengetua Sekolah Rendah, atau serupa dengan Kepala SD (Sekolah Dasar) di Indonesia.

    So, rumusan dan cadangan saya: bila wujud sorang Pensyarah yang mengamalkan plagiat, senang saja, arah dia orang agar menjadi Kepala SD.

    Sekian dan terima kasih.

  20. Plagiat dalam “kewirausahaan” dinisbatkan sebagi “kreativitas” yang bila kemudian mampu dimodifikasi jadi “inovasi”. Plagiat dalam “academic domain” berujung pada “kriminal akademik” karena melanggar “scientific attitude”.

  21. Terbukti Plagiat, Zuliansyah Dipecat dari Calon Dosen ITB

    Bandung, CyberNews. Kasus plagiarisme kembali mencoreng institusi pendidikan tinggi di Indonesia. Setelah beberapa waktu lalu seorang profesor dari Universitas Parahyangan, saat ini kasus serupa menimpa mahasiswa Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB atas nama Mochammad Zuliansyah.
    Akibat kasus tersebut, Pihak ITB sudah memecat Zuliansyah dari ITB. Padahal sebelum kasus ini menyeruak, Zuli sedianya hendak diangkat menjadi calon dosen ITB dan sudah siap diterima.
    “Mahasiswa ini (Zuliansyah) adalah mahasiswa yang sedang apply menjadi dosen ITB. Sebelum ketahuan plagiat, dia sudah siap diterima,” kata Rektor ITB Prof Akhmaloka, Kamis (15/4) sore.
    Akhmaloka mengatakan, setelah kasus ini muncul, pihaknya langsung mengecek status mahasiswanya tersebut, melalui tiga dosen pembimbing, yang namanya ikut terseret dalam kasus plagiarisme.
    Dari hasil pengecekan tersebut, diperoleh kesimpulan bahwa Zuliansyah memang benar-benar plagiat. “Nah karena itu, ITB mengambil tindakan memecat dia dari calon PNS yang mau jadi dosen. Sebetulnya ada dua alternatif. Kita pecat atau mengundurkan diri. Dia memilih mengundurkan diri,” kata Akhmaloka.
    Saat ketahuan melakukan praktik plagiarisme, Zuliansyah memang sudah ujian dan dinyatakan lulus dari ITB pada 2009 lalu.
    http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/04/16/52118

  22. Terbukti Plagiat, Guru Besar Diturunkan
    404 views BERITA MEDIA
    DOWNLOAD FORMAT PDF NO COMMENTS
    Terbukti Plagiat, Guru Besar Diturunkan
    http://cetak.kompas.com/read/2011/08/25/03491454/terbukti.plagiat.guru.besar.diturunkan
    Pekanbaru, Kompas – Sekretaris Senat Universitas Riau, Dr Yanuar, mengatakan, kasus plagiarisme yang melibatkan Prof II telah diputus. Prof II diberi sanksi berupa penurunan pangkat akademis, dari jabatan guru besar menjadi lektor kepala.
    “Sanksi telah dijatuhkan oleh sidang senat kemarin. Kami segera melaporkan kepada Menteri Pendidikan Nasional dan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti). Kelanjutan sanksi itu tergantung Mendiknas dan Dirjen Dikti. Menurut kami, sanksi penurunan pangkat akademis sudah sangat berat,” kata dia, Rabu (24/8), di Pekanbaru.
    II, mantan Dekan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Riau, diputus bersalah atas plagiarisme dalam sidang Komite Etik plus Guru Besar Senior pada Selasa (23/8). Ia terbukti secara sengaja menjiplak buku berjudul Budaya Bahari karya Joko Pramono, terbitan Gramedia (2005), menjadi buku berjudul Sejarah Maritim, terbitan ISBN (2008).
    Yanuar yang juga Pembantu Rektor II Universitas Riau menyebutkan, kasus ini merupakan pukulan berat bagi perguruan tingginya. Dia berharap kejadian serupa tidak terulang lagi. Senat Universitas Riau juga menjatuhkan sanksi kepada Bn, dosen Sejarah FKIP Universitas Riau, asisten II yang terlibat langsung dalam pembuatan buku.
    Tidak menyangka
    Mayjen Marinir (Purn) Joko Pramono, pengarang buku Budaya Bahari, yang dihubungi secara terpisah, mengaku sudah mengetahui penjiplakan bukunya sekitar dua bulan lalu. Joko tidak pernah menyangka bukunya dijiplak oleh seorang guru besar. Kejadian itu dianggapnya sebagai science crime atau kejahatan terhadap ilmu pengetahuan.
    “Mulanya saya tidak menyangka, masak ada profesor mau menjiplak buku karangan saya yang tidak profesional menulis buku. Saya dapat saja melaporkan profesor itu kepada polisi karena penjiplakan termasuk pidana pencurian hak intelektual. Namun, saya tidak mau beliau berhubungan dengan polisi. Saya hanya melaporkan ke Dirjen Dikti, Rektor Universitas Riau, dan Gubernur Riau.”
    Joko mengatakan, buku itu yang berbeda hanyalah judul dan kata pengantar. “Selebihnya, kata-katanya sama, termasuk peta yang saya buat tentang Singosari dan Gajahmada,” ujarnya.
    Di Jakarta, Dirjen Dikti Kementerian Pendidikan Nasional Djoko Santoso mengatakan, pihaknya sebenarnya sudah sangat ketat memeriksa karya tulis dosen dalam melakukan sertifikasi dosen. Namun, ternyata, masih terjadi plagiarisme dalam pembuatan buku. “Sanksi yang djatuhkan sudah cukup berat,” kata Djoko.
    (SAH/LUK)
    >>>
    Terbukti Plagiat, Gelar Profesor Dicopot

    http://www.jpnn.com/read/2011/08/24/101562/Terbukti-Plagiat,-Gelar-Profesor-Dicopot-

    Rabu, 24 Agustus 2011 , 19:30:00
    JAKARTA–Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), Djoko Santoso mengatakan, Guru Besar Universitas Riau (UNRI), Prof II, terbukti melakukan plagiarisme dalam membuat buku berjudul Sejarah Maritim. Buku dimaksud merupakan jiplakan dari buku Budaya Bahari karya Mayor Jenderal (Marinir) Joko Pramono tahun 2005.
    “Beberapa waktu lalu, saya sudah meminta Rektor UNRI untuk datang ke Jakarta guna menyelesaikan masalah tersebut. Menurut informasi yang ada saat ini, guru besar yang tersangkut masalah ini dikenakan sanksi penurunan pangkat dan jabatan fungsional. Ini berat sanksinya,” ungkap Djoko ketika ditemui di Gedung Kemdiknas, Jakarta, Rabu (24/8).
    Berdasarkan analisa dan melihat berbagai pertimbangan akademik, sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi, maka diusulkan bahwa yang bersangkutan dijatuhkan sanksi. Hukumannya berdasarkan Pasal 12 Ayat (2) huruf (d). Pasal itu berisikan hukuman penurunan pangkat dan jabatan akademik/fungsional. Kasus ini, dinilai ada kelalaian dan unsur kesengajaan yang bersangkutan dalam menerbitkan buku Sejarah Maritim. Apalagi buku itu dijual untuk umum.
    Menurut Djoko, meskipun sanksi yang terberat adalah diberhentikan, akan tetapi jika gelar guru besar diturunkan jabatan fungsionalnya itu, maka tidak bisa disebut sebagai guru besar. “Nah, kalau diturunkan seperti ini, maka bukan Profesor lagi. Jadi tidak ada gelar apa-apa lagi. Misalnya namanya Profesor A, maka sekarang namanya hanya A dan tidak pakai gelar Profesor lagi. Selain itu, haknya juga menjadi turun satu level di bawahnya, atau menjadi Lektor Kepala,” tukasnya.
    Djoko menilai, tindakan plagiat yang dilakukan guru besar UNRI tersebut memang melanggar. Pasalnya, benar-benar hampir sama, dan hanya diganti judul dan nama penulisnya saja.” Ya plagiat semua, plek plek itu, dia kan plagiat apakah sebagian atau seluruhnya sama aja,” seru Djoko.
    Mantan Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) ini menjelaskan, kasus ini harus menjadi suatu pelajaran bagi semua pihak, di mana sejak anak-anak harus dibiasakan memiliki karakter yang baik. Sehingga, sejak dini sudah memiliki jiwa tidak suka mencontek dan menjiplak. “Kalau dari kecil sudah terbiasa nyontek, maka ke depannya di dalam akademik bisa menjadi plagiat. Bahkan di birokrasi juga bisa menjadi koruptor. Oleh karena itu, sedini mungkin kita harus bisa menegakkan karakter baik dan selalu berpikir secara positif,” imbuhnya.
    Lebih lanjut Djoko menambahkan, ada beberapa cara yang wajib dilakukan dalam menyusun suatu karya tulis. Sehingga, pada saat mengutip suatu tulisan dari pihak lain, tidak dicap plagiat. Ia mencotohkan, misalnya kita mengutip tulisan si AA, maka kita harus menyebutkan nama si AA di samping kalimat kutipan yang kita gunakan.
    “Harus ditulis, namanya AA, penerbitnya apa dan tahun berapa. Kalau caranya begitu, tidak apa-apa dan sah-sah saja. Gampang kok. Referensi di halaman belakang lalu catatan kaki di bawah. Intinya, menulis sumbernya, itulah tata cara menulis yang baik,” tambah Djoko.
    Hanya saja, Djoko menegaskan, masalah ini tidak termasuk ke dalam masalah kriminal. Hal ini disebabkan karena masih berada di lingkungan akademik. “Masalah plagiat itu bukan kriminal. Dan untuk sanksi selanjutnya, secara resmi belum dilaporkan ke pusat (Kemdiknas). Maka nanti akan kita lihat lagi peraturannya, karena pemberian sanksi ini memang harus lebih hati-hati,” ujarnya. (Cha/jpnn)
    http://www.kopertis12.or.id/2011/08/25/terbukti-plagiat-guru-besar-diturunkan.html

  23. Ketika saya membaca tulisan Pak Andi Suwirta tentang “CD: Sang Plagiator?” saya terkagum dengan gaya tulisannya. Memang beliau sangat piawai dalam menulis, termasuk dalam menulis karya ilmiah, sehingga tidak heran jurnal ilmiah yang pernah diasuhnya dulu pernah menjadi jurnal UPI yang terakreditasi secara nasional.

    Saya mengenal Pak Suwirta sudah lama, teman tetangga kampung di Pantura, di mana rumah kami hanya dipisahkan oleh Kali Cilamaya.

    Ketika membaca tulisannya tersebut, tergerak hati saya untuk menyampaikan sesuatu kepada saudaraku, Andi Suwirta ini.

    Semoga saudaraku, Pak Andi Suwirta ini senantiasa diberikan hidayah oleh Allah SWT agar:
    – Menyalurkan energi kecerdasannya untuk hal-hal yang positif yang berguna bagi kemajuan UPI, di mana Pak Andi Suwirta dulu begitu bersemangat untuk memperjuangkan dan membela nama baiknya.
    – Senantiasa memiliki hati yang ikhlas dan sejuk, yang bersih dari segala rasa dendam, dengki, hasud dan buruk sangka pada orang lain.
    – Mampu mengintrosepsi diri, tanpa menghabiskan energi untuk mencari-cari kesalahan orang, dan tidak menyebarluaskan aib orang dan menggiring opini orang untuk bersama-sama menebar rasa kebencian pada orang lain.
    – Memiliki jiwa pemaaf yang agung dan menerima takdir dengan ikhlas.
    – Memiliki semangat untuk tetap memajukan UPI bersama-sama dengan teman-teman lainnya.
    – Semoga surga yang sudah di depan mata Pak Andi Suwirta tidak semakin menjauh hanya karena kurang mampu menghapus dendam politik lama.
    – Semoga kehidupan Pak Andi Suwirta ke depan penuh dengan keberkahan dan limpahan hidayah dari Allah SWT.
    Sayang, kalau orang sepandai Pak Andi Suwirta dan teman-teman seperjuangan Pak Andi Suwirta harus menghabiskan energi untuk hal-hal ang kurang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat.

    • Alhamdulillah,, masih ada seorang Pak Bunyamin yang masih bisa menyejukan hati dalam suasana seperti ini. Semoga UPI, almamater saya, bisa mengambil hikmah dari kejadian ini.
      Bagaimanapun plagiator ini akan mendapat balasan atas tindakannya, maka siapa pun tidak berhak menghakimi apa yg sudah dilakukan oleh plagiator ini
      Terima kasih Pak Bunyamin, saya sependapat.

    • saya teman sekelas CD dulu waktu kuliah, saya sudah mengenal betul pribadi CD, membaca komentar Prof. Bunyamin seharusnya meurut saya yang harus bertobat untuk khusnul khotimah itu bukan pa andi suwirta, tapi cecep darmawan. banyak sejarah yang membuktikan kalo dia sudah banyak mendzolimi banyak orang. sehingga dia sekarang mendapatkan karmanya, dan mudah2han CD mendapatkan hidayah untuk bertobat kembali ke jalan yang benar.
      maaf prof bukannya saya memdukung pa andi suwirta, tetapi kita harus menilai secara objektif sesuai dengan kenyataannya.

  24. Ceuk aing mah tulisan si Andi teh goreng patut. Geus montong dibaca jeung dikomentaran, ke malah tambah gede hulu.

    Ku aing oge jurnal-jurnal terbitan ASPENSI disebut “haram jadah”, da teu berkualitas.

    Ti mimiti ayeuna, sing saha-saha bae anu masih mukaan jeung macaan ieu website, oge sarua “haram jadah”.

  25. Salam Pak Andi. Perkenalkan, saya bekas pegiat Isola Pos. Menurut saya, sejarah pribadi Cecep Darmawan kurang relevan untuk diceritakan dalam mengangkat kasus plagiasi (jika memang ini ditulis karena keprihatinan Anda sebagai akademisi, khususnya dalam bidang sejarah). Menurut saya, akan lebih menarik jika membicarakan “kultur akademik” yang berada di UPI. Juga saya penasaran, seperti halnya Bu Safrina di atas, bagaimana kira-kira sikap Anda sendiri soal plagiasi ini. Bagi saya dua hal ini penting. Bukankah sejarawan mesti pandai melihat konteks atas sebuah peristiwa sejarah? Sebagai akademisi dan pengelola beberapa jurnal, saya kira penting juga pendapat Anda soal etika akademik ini. Bukankah soal plagiasi adalah ayat terpenting dalam academic’s Bible? Kok sepertinya Anda hanya “wait and see” dalam kasus ini, apakah itu salah satu kebiasaan orang UPI juga yang tak mau berkata lugas dan hanya menunggu seperti dalam kiasan Anda soal tukang masak? Menurut saya, bahkan tukang masak pun tidak hanya “meracik bahan” tapi ia punya intensi menjadikan makanan itu enak atau tidak. Seperti halnya sejarawan yang buat saya harus punya konteks (termasuk di dalamnya posisi di dalam melihat problem etis) dalam menulis teks sejarah.

  26. Pak Andi Suwirta dan Pak Bunyamin Maftuh, kedua-duanya saya anggap sebagai figur yang menyejukkan di UPI ini, dengan karakter yang tidak jauh berbeda. Keduanya sama-sama bijaksana, ramah, lembut, dan cerdas. Adanya tulisan Pak Andi serta tanggapan Pak Bunyamin di atas tidak mengubah persepsi saya tentang keduanya; tidak membuat citra Pak Andi menjadi buruk dan juga tidak membuat imej Pak Bunyamin menjadi lebih baik dari Pak Andi. Sekali lagi, keduanya sama, meskipun kali ini mereka muncul dengan style yang sedikit berbeda. Tidak apa-apa, berbeda sedikit tidak masalah, yang penting tidak ada niat buruk, dan itu yang saya yakini tentang mereka.

    Memang untuk topik ini, Pak Andi memilih jalan yang “kurang populer” di mata orang-orang yang mencoba menampilkan sisi lembut mereka, yaitu dengan jalan mencantumkan nama nama tersangka plagiat (CD) secara gamblang beserta sekelumit kisah hidupnya sejak mahasiswa hingga saat ini. Tindakan penyebutan nama ini mengundang resiko Pak Andi akan dipandang sebagai orang yang “kurang etis” atau “tegaan”. Saya sendiri sebenarnya agak menyesal membaca artikel ini karena sekarang saya menjadi tahu siapa yang menjadi tersangka plagiat di UPI ini. Di sisi lain, banyak pula orang yang menunggu-tunggu, ingin tahu nama sang tertuduh dengan berbagai motivasinya. Sekali lagi, Pak Andi sudah bertindak berani mengambil jalan yang tidak populer. Untunglah ada orang seperti Pak Bunyamin yang dengan tanggapannya yang menyejukkan mendoakan Pak Andi agar mendapatkan kebaikan dan dihindarkan dari keburukan.

    Adapun bagi mereka yang tidak setuju dengan artikel yang ditulis oleh Pak Andi, apalagi jika datang ke sini karena dituntun oleh postingan seseorang di Facebook, seharausnya memang anda tidak berkunjung ke sini. Toh di postingan Facebook tersebut sudah terlihat arah tulisannya. Dengan datang ke sini tentu anda kecewa dan akan merasa tidak suka terhadap Pak Andi. Namun demikian, itu adalah hak anda, sebagaimana hak banyak orang untuk kecewa terhadap apa yang diperbuat oleh tertuduh kasus plagiat di kampus ini.

    Terakhir, semoga kita semua, ke depannya, tidak terjerumus ke dalam perbuatan membuka aib orang lain. Dan yang lebih penting lagi, semoga kita terhindar dari perbuatan yang dapat mempermalukan diri kita dan lingkungan kita. Amin.

  27. Saya sama sekali tidak menduga bahwa tulisan saya di dunia maya ini akan mendapat respons yang luar biasa. Bagi saya, ini adalah pengalaman pertama bahwa tulisan yang saya anggap “biasa-biasa saja” itu – dibuat setelah mendapat inspirasi dari bukunya Cindy Adams (1966 dan 1974), Sartono Kartodirdjo (1982 dan 1992), Ben Anderson (1988), dan Taufik Abdullah (2001) – kini ditanggapi secara beragam: ada yang pro dan kontra, bahkan ada yang mengirim SMS segala dengan nada memperingati dan menakut-nakuti.

    Padahal niatan awal saya menulis ini adalah untuk menunjukkan bagaimana cara menuliskan sejarah “orang-orang biasa”, di luar arus utama sejarah “orang-orang besar”. Kebetulan yang saya ambil sebagai contoh adalah seorang Dosen, namanya CD, adik saya yang sama-sama satu Fakultas, sama-sama satu daerah (Subang), dan sama-sama juga alumni HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Yang tidak kebetulan – dan ini barangkali sumber kontroversinya – karena adik saya ini tengah didera kasus plagiarisme di UPI.

    Namun saya ingin menegaskan bahwa tidak ada maksud sedikit pun, dalam hati saya, untuk menyerang pribadi, apalagi menjelek-jelekan lembaga UPI. Judul tulisan saya itu, walaupun menyebut nama, toh masih menggunakan Tanda Tanya. Bagi saya, CD adalah Dosen Muda yang potensial dan harapan masa depan UPI. Dan bagi saya pula, UPI adalah almamater tercinta, tempat saya dididik dan dibesarkan hingga seperti sekarang. Bahkan saya selalu membawa nama baik UPI, sebab kalau saya mengadakan kunjungan dan melakukan kerjasama untuk penerbitan jurnal ilmiah ke beberapa universitas, termasuk ke Malaysia, saya selalu dipandang sebagai Dosen UPI, bukan sebagai Ketua Umum ASPENSI.

    Dari sekian banyak komentar, yang paling menyentuh dan menggugah rasa primordial saya adalah dari Prof Bunyamin Maftuh. Betul Prof, kita memang orang dari daerah Pantura, yang beda kabupaten, hanya dipisahkan oleh sungai Cilamaya. Kampung saya (Sengon) selalu menggunakan Bahasa Jawa, sementara Desa Prof (Gempol) memakai Bahasa Sunda. Tidak terasa, nampaknya, bahwa sejak kecil kita terbiasa dengan perbedaan bahasa, budaya, dan bahkan pandangan, tapi kita tetap saling memahami dan menghargai.

    Walau bagaimanapun, saya mengucapkan terima kasih atas nasihat-nasihat sufistik Prof yang sarat makna. Kearifan lokal di kampung saya juga selalu mengajarkan, “wong becik ketitik, wong bener ketenger, lan wong ala ketara”, bahwa baik-buruknya perilaku seseorang itu pada akhirnya akan ketahuan juga dan ditanggung sendiri akibatnya.

    Terima kasih Prof sekali lagi, “segara adoh pinggire, sun rasa wis semene bae”.

  28. tolong yah jangan hanya plagiat yang diurusin.. beasiswa PPA dan BBM pun harus disoroti donk, masa ada pemotongan terus yang harusnya 4,8 jt,,malah 4 juta…harusnya perbulan 400rb jangan dicolong ajah beasiswa teh. kita ini mahasiswa yang ripuh anda mungkin para pejabat upi udah enak enakan.ni bukti beasiswa 4,8jt : http://www.pikiran-rakyat.com/node/107152

    makasih.. salam hangat buat koruptor pendidikan indonesia.. nama aja pendidikan tapi kegiatannya menjijikan

    • *FG :
      saya bukan menebar fitnah dan memprovokasi dan yang seharusnya dicerdaskan tuh anda sudah jelas dikti memberikan penambahan besaran beasiswa http://www.pikiran-rakyat.com/node/107152 tetapi selama ini (2010-2012) saya selaku mahaasiswa, penerimaan besaran beasiswa tidak sesuai yang ditentukan..ko ini malah urusan ke DIPA 2012. kalo belum mengenyam dunia kuliah sebaiknya jangan memberikan stetment yang malah merugikan kami sebagai mahasiswa. untuk itu saya harap ASPENSI dapat memberikan wadah/form khusus dalam menjunjung nilai-nilai transparasi dan demokratis dalam dunia pendidikan terutama di lingkungan UPI. terima kasih

  29. Rada heran saya mah ka mahasiswa UPI teh. Ningali Direktur Kemahasiswaanana ngamalkeun plagiat, caricing bae. Aya nu demo anti plagiat, kalah ka diseungserikeun jeung disindir sinis. Naha daek kitu mahasiswa UPI teh dipimpin ku Direktur Mahasiswa anu plagiat jueng baris dicap ku Dikti salaku plagiator?

    Geura bayangkeun, aya lomba kreativitas mahasiswa sareng beasiswa ti Dikti, teras weh nami-nami mahasiswa UPI teh diajengkeun ka Dikti, sabari ditandatangan jeung disatujuan ku Direktur Mahasiswa nu plagiator tea, kumaha tah waleran ti Dikti? Insya Allah ditolak sareng “dimoratorium” sami sareng Dosenna.

    Kitu oge kanggo mahasiswa UNSUB (Universitas Subang), naha kersa oge aranjeun dipupuhuan ku Rektor anu dicap plagiator? Subang kudu hudang, berjuang, ulah hariwang, tunjukkeun yen aranjeun teh mahasiswa sareng kader Benteng Pancasila, sanes kader anu nyalindung ka benteng Koruptor jeung Plagiator.

  30. Pa andi swirta seorang tokoh pendidikan yang tidak punya pemikiran yang arif dan bijak. apa yang telah dilakukan oleh andi swirta itu tidak jauh dari onani intlektual.

  31. Yth. para pengunjung web ASPENSI.

    Pihak Redaksi “News & Views ASPENSI” akan membatasai komentar, baik terhadap “News” maupun “Views”, sebanyak 40 (empat puluh) saja.

    Mohon juga komentar-komentar yang diberikan, baik pro dan kontra maupun netral, tetap menggunakan bahasa yang santun, logis, dan rasional.

    Tunjukkan bahwa para pengunjung web ASPENSI adalah para Sarjana yang mampu berhujah dengan bahasa yang baik dan benar. “Hati boleh panas, tapi kepala tetap dingin”.

    Terima kasih.

  32. Setuju ASPENSI. Komentar-komentarnya mohon dengan bahasa yang santun. Sebab kalau bahasanya “kasar” sudah dipastikan itu adalah pendukungnya CD atau pengikut “guru” politiknya CD, yang kalau bicara memang kasar dan sering menyebut nama-nama binatang.

  33. Para pengunjung web ASPENSI yang budiman.

    Redaksi “ASPENSI in News & Views” mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi atas komentar-komentar yang diberikan. Baik yang pro dan kontra maupun yang netral adalah biasa dan sama baiknya dalam memandang satu masalah.

    Mengingat keterbatasan ruang dan waktu, maka komentar-komentar Anda terhadap “Views” yang ditulis oleh Andi Suwirta tentang “Cecep Darmawan: Sang Plagiator?”, kami batasi sampai di sini. Silahkan Anda memberikan komentar kepada “News” dan Views” lain di web ASPENSI.

    Bagaimanapun, komentar-komentar Anda telah memenuhi harapan Ketua Umum ASPENSI bahwa kami hanya menyajikan, terserah Anda untuk menilai “asin, manis, pahit, enak, dan tak sedapnya” itu sajian. Sesungguhnya ASPENSI ada, juga karena mendapat perhatian Anda.

    Terima kasih sekali lagi dan salam “merdeka bicara, bebas berpikir, dan independen bersikap” adalah ciri manusia Indonesia.

  34. Sebaiknya kalau masalah plagiat secara yuridis dan etika ilmiah dapat diselesaikan sesuai prosedur ug berlaku dan sebaiknnya tidak diungkapkan secara terbuka via tulisan yg dpt diakses secara online ….jika demikian maka ybs 2 kali dpt hukiman pertama sangsi akademis dan moral serta dihakimi via pers trial by the press …kasihan deh

  35. ampun gusti.. mun leres eta aib sasami dulur ti UPI Bandung dibuka ,kudulurna nyalira.. asa ku teu kudu..! barang siapa yang membuka aib saudaranya sendiri di dunia maka akan dibukakan aibnya sendiri nanti diakherat… mudah2an areling ah!

  36. Dan ketika sesama keluarga saling membuka aib, maka tidak ada kemslahatan dalam perbincangan ini. Hanya membuat racun yang perlahan akan membunuh satu sama lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here