Mendamba Standarisasi Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu di Asia Tenggara

1
536

Oleh: Andi Suwirta

Bahasa Indonesia, yang akar-dasarnya berasal dari Bahasa Melayu, telah menjadi bahasa resmi di Negara Republik Indonesia sejak tahun 1945. Bahasa ini, dengan demikian, telah digunakan dalam komunikasi resmi, baik formal maupun informal, oleh masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, yang sekarang berjumlah lebih dari 240 juta orang.

Manakala Bahasa Melayu secara resmi juga menjadi bahasa nasional bagi Negara Malaysia sejak merdeka tahun 1957. Bahkan bahasa ini diguna-pakai dalam komunikasi, baik formal maupun informal, di Negara-negara seperti Brunei Darussalam dan Singapura. Bahkan bahasa ini juga diguna-pakai di wilayah-wilayah selatan Negara Thailand dan Negara Philipina. Jumlah pengguna Bahasa Melayu ini, dengan demikian, kira-kira mencapai 30 juta orang.

Bahwa Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu telah menjadi bahasa komunikasi dan pergaulan di Asia Tenggara tidak hanya dimulai sejak pertengahan abad ke-20. Para pengkaji sejarah menyatakan bahawa bahasa ini telah menjadi lingua franca dalam bidang perdagangan sudah berlangsung berabad-abad lamanya. Sejak zaman Hindu-Buddha (abad 5 hingga 15 Masehi) dan zaman Islam (abad 12 hingga sekarang), bahkan sejak zaman kolonialisme Barat (abad 16 hingga 20 Masehi), bahasa ini sudah dikenal dan diguna-pakai secara luas oleh masyarakat di Asia Tenggara.

Adalah menarik bahawa para the founding fathers Indonesia telah memilih dan menetapkan Bahasa Indonesia, yang akar-dasarnya dari Bahasa Melayu tadi, sebagai bahasa persatuan pada peristiwa Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 di Jakarta. Mereka tidak memilih Bahasa Jawa atau Bahasa Sunda yang digun-pakai oleh lebih dari 50% penduduk di Indonesia; mereka dengan “arif dan bijaksana” memilih Bahasa Melayu (Bahasa Indonesia) untuk dijunjung sebagai bahasa persatuan.

Masalahnya sekarang adalah setelah Negara Indonesia merdeka (1945) dan Negara-negara lain di Asia Tenggara juga memperoleh kemerdekaan (Malaysia, 1957; Singapura, 1965; dan Brunei Darussalam, 1984), perkembangan Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu ini mengalami perbedaan yang cukup signifikan.

Sekarang ini kalau orang Indonesia bertemu dan berbicara dengan orang Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam, kebanyakan tidak faham tentang apa-apa yang sedang mereka bicarakan. Kalaupun faham, acapkali salah arti dan beda makna. Kasus-kasus salah faham dan beda makna dalam berkomunikasi antara orang Indonesia dengan orang Malaysia, misalnya, sudah diketahui umum.

Kasus percakapan antara Krisdayanti (artis terkenal Indonesia) dengan Siti Nurhaliza (artis terkenal Malaysia) merupakan contoh yang menarik. Apakah peristiwa ini benar-benar terjadi atau hanya imajinasi tidak penting bagi kita, masalah utamanya adalah karena wujud ketidakfahaman dan salah mengerti dalam berbahasa.

Siti Nurhaliza: “Puan, apa fasal awak bercerai dengan Anang?”
Krisdayanti: “Yah, karena kami kurang cocok?”
Siti Nurhaliza: “Iya, ke? Kerap la bercocok agar tak bercerai”.
Krisdayanti: “???

Dari kasus percakapan di atas, jelas Krisdayanti (Indonesia) tidak faham dan tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Siti Nurhaliza (Malaysia). Memang, dalam Bahasa Melayu, istilah “cocok” bisa bermakna banyak. Tapi umumnya kata “cocok” berarti ML (Making Love) atau hubungan intim antara suami-istri dalam Bahasa Indonesia. Jelas, percakapan antara dua artis terkenal dari Indonesia dan Malaysia tersebut akhirnya berbuah pantun “Jaka Sembung membawa terasi // Tidak nyambung karena beda persepsi”.

Kasus lain yang tidak kalah menariknya adalah sebuah joke politik antara SBY (Susilo Bambang Yodhoyono), Presiden dari Indonesia, dengan Najib Razak, Perdana Menteri dari Malaysia. Konon, ketika Najib berkunjung ke Indonesia, oleh SBY dibawa ke Cikeas melewati jalan tol di Jakarta. Ketika sampai di pintu gerbang tol, Najib membaca sebuah kalimat singkat, “Mohon Bayar dengan Uang PAS”.

Dengan nada menggerutu, Najib kemudian bilang ke SBY, “Tak boleh ke bayar tol dengan wang UMNO di Indonesia ni?”

SBY yang faham maksud Najib, segera menjawab dalam Bahasa Melayu yang fasih, “Oh tak boleh tuan. Ini memandangkan parti GOLKAR, selaku rakan rapat UMNO, dah tewas dalam Pilihan Raya di Indonesia”.

Sekarang girilan Najib yang bengong, karena tidak mengerti makna PAS dalam Bahasa Indonesia.

Dalam Bahasa Indonesia, PAS bermakna tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih. Kalau anda disuruh membayar 500, maka bayarlah dengan uang 500, jangan kurang dan jangan lebih. Sedangkan di Malaysia, PAS adalah nama partai oposisi, Parti Islam se Malaysia, sebagai lawan dari partai pemerintah, UMNO (United Malay National Organization), yang sekarang dipimpin oleh Najib Razak.

Saya kira banyak kasus lain yang menunjukkan perbedaan makna antara mereka yang menggunakan Bahasa Indonesia dengan mereka yang menggunakan Bahasa Melayu di Asia Tenggara. Kalau keadaan ini dibiarkan berlarut-larut maka dalam jangka panjang jelas tidaklah menguntungkan banyak pihak.

Ditambah lagi, menurut para ahli sosial, politik, dan bahasa, sesungguhnya asal-usul pertengkaran dan konflik itu bisa datang dari salah faham dan ketidakmengetian antara kedua belah pihak. Jadi, dalam konteks ini, salah faham dalam berbahasa juga memang bisa sangat berbahaya.

Sampai saat ini memang sudah ada MABIM (Majelis Bahasa Indonesia-Malaysia). Secara berkala pula telah diadakan seminar yang menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu. Bahkan ASPENSI (Asosiasi Sarjana Pendidikan Sejarah Indonesia) sendiri telah menerbitkan jurnal ilmiah yang para penulisnya boleh menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu. Tentu saja tujuannya adalah agar terjadi saling memahami dan mengerti dua bahasa yang berasal dari akar-dasar yang sama tersebut.

Tapi ke depan, kita ingin ada usaha-usaha dari pemerintah Indonesia dan Malaysia, dan Negara-negara lain yang menggunakan Bahasa Melayu, untuk duduk bersama dan mencari solusi yang tepat agar terjadi proses standarisasi antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu di Asia Tenggara.

Kita memang ingin agar bahasa yang digunakan oleh lebih dari 270 juta di Asia Tenggara ini diakui dunia sebagai Bahasa PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa). Tapi sebelum mencapai cita-cita dan keinginan itu, sepatutnya dibenahi dulu perbedaan-perbedaan yang mendasar antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu.

Akhirnya, kita memang memerlukan standarisasi Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu di Asia Tenggara. Sebab kalau tidak ada usaha itu, maka “pertengkaran makna bahasa” dari dalam (seperti yang ditunjukkan dari dua kasus di atas) akan lebih memusingkan, atau malah menjadi bahan tertawaan, banyak orang dari luar Asia Tenggara.

===

Keterangan: Artikel opini merupakan pendapat pribadi dan dibuat berdasarkan pengalaman penulis yang sering berkunjung ke beberapa universitas di Malaysia.

Andi Suwirta, M.Hum. adalah Ketua Umum ASPENSI di Bandung dan Dosen Sejarah UPI (Universitas Pendidikan Indonesia). Beliau juga menguasai beberapa bahasa, diantaranya adalah: Bahasa Sunda, Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia, Bahasa Melayu, dan Bahasa Inggris. Untuk kepentingan akademik, beliau boleh dihubungi dengan alamat emel: [email protected]

SHARE

1 COMMENT

  1. Leres pisan eta seratan teh. Margi seueur oge bahasa Sunda anu diangge ku urang Malaysia, kayaning: budak, hanyir, kedekut, marhaen, jeung gering. Tapi eta kalimah “gering” teh di Malaysia mah khusus kangga pangagung nagara sapertos Yang Dipertuan Agung, Sultan, jeung sajabana. Kapan di Tatar Sunda mah, “gering” teh kanggo para cacah kumna. Malihan eta kalimah teh tiasa kanggo sasatoan, margi sok aya geuning nu nyarita “Siga Ucing Gering Maneh mah”. Ha3. Cag, ah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here