Republik para Karun

0
78

Oleh: Hasibullah Satrawi

Sungguh sesak rasanya menyaksikan pelbagai macam persoalan hukum mutakhir di republik ini. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, sebagian pihak berusaha untuk mengurai benang kusut penegakan untuk menerbangkan Negeri Garuda ke angkasa kemajuan dan kesejahteraan. Tapi di sisi yang lain, cukup banyak pihak yang tidak menghendaki benang kusut yang ada terurai-tuntas karena kepentingan-kepentingan tertentu yang bersifat sesaat.

Uang dan kekuasaan merupakan titik pangkal paling dominan dalam benang kusut tersebut. Karena uang dan kekuasaan, sebuah rumah tahanan bisa disulap menjadi kamar hotel yang sangat mewah seperti yang pernah dilakukan oleh Ibu Ayin. Uang dan kekuasaan bisa membuat seorang tahanan menjadi “pendekar sakti” yang bisa keluar dari penjara, bahkan melanglang buana ke luar negeri seperti yang pernah dialami oleh Gayus Tambunan.

Uang dan kekuasaan yang dipergunakan secara sesat membuat penegakan hukum di republik ini tak ubahnya acara lawak di televisi yang membuat penonton terbahak-bahak. Sebagaimana uang dan kekuasaan yang disalahgunakan telah membuat lembaga terhormat seperti DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) menjadi gedung miring dan penuh sesak dengan orang-orang miring. Bahkan, uang dan kekuasaan telah membuat dunia hijau sepak bola menjadi gersang dari prestasi.

Karun

Pada zaman dahulu, ada seorang kaya raya yang melegenda dalam sejarah panjang peradaban manusia, yaitu Karun. Kekayaan Karun disinyalir bertumpuk-tumpuk di banyak gudang. Hingga kunci dari gudang-gudang yang menyimpan kekayaannya tak mungkin dibawa oleh puluhan orang terkuat sekalipun.

Dalam tradisi agama-agama samawi, kisah Karun sangat familiar. Kitab-kitab suci agama samawi menceritakan tentang kekayaan dan ketamakan Karun. Bahkan, al-Quran membahas tentang perbuatan brutal Karun dalam sebuah surat khusus yang dikenal dengan kisah-kisah (al-qashash).

Menurut sejumlah ahli, Karun adalah umat Nabi Musa (atau Moses) as. Bahkan, ada sebagian riwayat yang menegaskan Karun tak lain saudara sepupu Nabi Musa dan Nabi Harun as.

Dalam kitab tafsirnya berjudul Mafatih al-Ghayib, Ar-Razi melansir suatu pandangan bahwa Karun pernah cemburu dan menggugat keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki oleh Nabi Musa dan Nabi Harun as. Diriwayatkan, Karun merampas apa yang dimiliki oleh Nabi Musa dan Nabi Harun hingga akhirnya kaya raya.

Saat kaya raya inilah Karun menjadi sosok yang lupa asal karena sebuah hasil. Peringatan yang disampiakan oleh Nabi Musa, Nabi Harun, dan kaumnya tak membuat Karun sadar bahwa dahulu dia bukanlah siapa-siapa dan tak punya apa-apa. Dan, bahwa semua kekayaan yang dimilikinya hanyalah milik Tuhan yang harus digunakan untuk kebaikan masyarakat dan lingkungannya, bukan justru menyengsarakan masyarakat demi kepentingan pribadi.

Hingga akhirnya Karun mendapatkan azab dari Tuhan dan semua harta kekayaannya pun karam. Itu sebabnya, sampai hari ini istilah “harta Karun” kerap digunakan dalam konteks penemuan-penemuan benda berharga di lahan-lahan tertentu.

Satu hal yang harus diperhatikan dari kisah Karun, dialah pemegang kekayaan yang berada dalam posisi yang sangat dekat dengan kekuasaan (Nabi Musa dan Nabi Harun). Kondisi ini tentu sangat menguntungkan bagi Karun untuk memenuhi segala nafsu tamak dan serakahnya walaupun Nabi Musa dan Nabi Harun kerap menegur saudara sepupunya tersebut.

Konteks Indonesia

Indonesia saat ini penuh sesak dengan “Karun-Karun berpeci”: hartawan yang menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan kepentingan dan kekayaannya, hartawan yang berkelit kelindan dengan kelompok-kelompok kuasa, hartawan yang bisa memodali atau membeli pasport seharga 900 juta seperti yang pernah dilakukan Gayus Tambunan, dan hartawan yang memegang akses mematikan di lingkaran kekuasaan.

Karun di Indonesia saat ini jauh lebih banyak ketimbang Karun pada zaman Nabi Musa dan Nabi Harun di atas. Karun di Indonesia bisa berlatar belakang pengusaha, politikus, bahkan PNS (Pegawai Negeri Sipil) muda. Pastinya, Karun Indonesia adalah mereka yang kerap menggunakan uang dan kekuasaan untuk mencapai tujuan tertentu yang hanya menguntungkan diri sendiri atau kelompoknya.

Bedanya adalah, pada zaman dahulu ada sosok Nabi Musa dan Nabi Harun yang bisa menindak tegas perbuatan-perbuatan buruk yang dilakukan oleh Karun. Hingga, masyarakat umum tidak banyak menerima dampak buruk dari perbuatan-perbuatan biadap Karun.

Namun demikian, keberadaan para Karun di Indonesia saat ini tidak disertai oleh kehadiran Musa dan Harun. Hingga Karun-Karun itu dengan leluasa bisa mengatur hampir segala hal untuk mengamankan kepentingannya. Sebaliknya, masyarakat senantiasa menjadi korban dari aksi-aksi serakah “Karun-Karun Berdasi”.

SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) dan Boediono sebagai Bapak Presiden dan Wakil Presiden harus meneladani sikap Nabi Musa dan Nabi Harun dalam menyikapi ulah Karun. Otoritas yang ada harus digunakan secara cepat dan tepat untuk menghentikan langkah destruktif Karun-Karun Indonesia. Bila tidak, masyarakat Indonesia akan semakin menjadi korban ketamakan, keserakahan, dan kesewenang-wenangan mereka.

Juga, para pemimpin bangsa ini ataupun mereka yang berambisi menjadi pemimpin negeri ini harus meneladani Nabi Musa dan Nabi Harun dalam berjuang mendapatkan kekuasaan. Beliau berdua tidak pernah menggunakan kekayaan Karun ataupun para pemodal untuk mendapatkan kekuasaan. Begitu juga dengan nabi-nabi yang lain.

Sebaliknya, perjuangan para nabi sarat ketegasan sikap menolak intervensi kaum pemodal dalam meraih suatu kekuasaan. Walaupun dengan iming-iming matahari di tangan kanan dan bulan di tangan kiri sekalipun. Para nabi menjalani semua proses yang ada dengan penuh kesabaran walaupun senantiasa dicerca dan dizalimi. Hingga akhirnya mereka dipilih dan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat untuk menjadi pemimpin.

Inilah sisi lain yang tak pernah terjadi di Indonesia. Para Karun di Indonesia kerap menggelontorkan kekayaan mereka pada momen-momen pergantian kekuasaan. Baik dalam rangka memperebutkan kekuasaan secara langsung ataupun sekadar mendukung pihak-pihak tertentu yang diyakini akan menjadi penguasa pada masa yang akan datang.

Akibat dari semua ini sudah senantiasa kita saksikan bersama dalam perjalanan republik ini. Para Karun Indonesia mampu mengintervensi (baik langsung ataupun tidak) terhadap hal-hal yang diperkirakan akan mengganggu kepentingan dan kekuasaan mereka.

Era sekarang bukan era Nabi Musa dan Nabi Harun. Saat ini, Tuhan tidak turun tangan secara langsung (seperti era Nabi Musa dan Nabi Harun) menghancurkan dan menenggelamkan Karun dengan segala kemungkarannya.

Oleh karena itu, Bapak SBY dan Bapak Boedionon sebagai presiden dan wakil presiden harus menenggelamkan Karun-Karun Indonesia. Bila tidak, bukan tidak mungkin pemerintahan  SBY-Boediono yang justru akan ditenggelamkan ke dalam lumpur kejahatan dan ketamakan yang dilakukan oleh Karun-Karun itu.

===

Keterangan: Artikel opini ini pernah dimuat di suratkabar online Republika di Jakarta, Indonesia, pada tanggal 13 Januari 2012. Ianya dapat dilayari di: www.republika.co.id [diakses di Bandung, Jawa Barat, Indonesia: 27 Januari 2012].

Hasibullah Satrawi adalah Alumni Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir; dan Pengamat Politik Timur Tengah dan Dunia Islam MMS (Moderate Muslim Society) di Jakarta, Indonesia.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here