Tantangan dan Peluang Internet

1
198

Oleh: Umar Halim

Indonesia menjadi tuan rumah digelarnya Konferensi Media Islam Internasional (KMII) pada 12-16 Desember 2011. KMII begitu penting bagi seluruh umat Islam, bukan hanya di Indonesia tetapi di seluruh dunia. Karena, secara garis besar agenda utama yang diangkat adalah menyikapi kehidupan masyarakat Muslim seiring dengan berkembangnya teknologi internet.

Melalui agenda KMII kita berharap ke depan internet lebih berfungsi untuk memberikan manfaat bagi kehidupan umat Islam, bukan sebagai media yang dapat merusak moral generasi Muslim. Para pihak yang menyelenggarakan KMII juga harus bekerja keras, sehingga masyarakat Muslim dunia dapat menilai bahwa KMII yang diselenggarakan di negara yang memiliki mayoritas penduduk Muslim bukanlah agenda seremonial saja.

Peluang yang Terbuka

Jika ditinjau dari segi manfaat, teknologi internet sebenarnya juga dapat memudahkan syiar Islam dengan pelbagai warna dan gaya bahasa yang lebih menarik simpati para pembacanya. Internet bisa dijadikan media diskusi, konsultasi, dan menambah pengetahuan tentang Islam. Internet juga memberikan kemudahan dengan tidak harus berpindah tempat, mengeluarkan uang yang banyak, dan memiliki latar belakang pendidikan agama di sekolah-sekolah keagamaan, siapa pun yang mengaksesnya dan tahun berapa pun sumber yang ingin dicari semua akan mudah didapatkan.

Terdapat dua persoalan untuk memaksimalkan pemanfaatan internet seperti di atas. Pertama, apakah tokoh-tokoh Islam kita memiliki kualitas untuk memanfaatkan internet ke arah yang lebih jauh? Hal ini bermaksud kita memerlukan tokoh-tokoh Islam yang tidak hanya bisa mengakses saja, namun bisa memanfaatkannya lebih kreatif.

Tidak dapat kita mungkiri bahwa tampilan terkadang menjadi faktor pertama yang mendorong kita untuk bertahan mengakses pada sebuah situs, setelah itu barulah kita melihat isi ataupun tulisan di dalamnya. Jika tampilan situs-situs Islam kurang menarik perhatian para pengunjungnya, bagaimana isi dan karya di dalamnya akan dibaca?

Persoalan kedua adalah adakah umat Islam khususnya generasi Muslim sudah memanfaatkan internet untuk mencari informasi keagamaan? Pertanyaan ini diajukan mengingat beberapa penelitian mendapati bahwa di kalangan generasi muda baik di Eropa, Amerika, Timur Tengah atau Indonesia sekalipun, internet lebih dimanfaatkan sebagai media hiburan dan berkomunikasi dengan kawan-kawan. Ketika situs Islam ditujukan kepada generasi Muslim berarti solusi yang harus dicari adalah apakah faktor yang dapat mendorong mereka mengakses situs keagamaan dalam internet.

Untuk menjawab persolan tersebut, beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan pada 3-19 Maret 2011 bisa dicermati. Penelitian yang dilakukan telah disponsori oleh lembaga Center for Cross-Cultural Communication and Human Relation in Action (C3HURIA), sebuah lembaga yang bergerak dalam kajian komunikasi lintas agama dan budaya.

Sampel penelitian ini adalah kalangan mahasiswa dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dan mahasiswa Universitas Indonesia (UI). Kedua Universitas tersebut dijadikan sampel untuk melihat adakah perbedaan antara generasi Muslim yang belajar di universitas berbasiskan agama (UIN) dan berbasiskan umum (UI) untuk mengakses informasi keagamaan melalui internet. Responden yang berhasil ditemui adalah sebanyak 392 orang dari usia 18-25 tahun.

Hasil penelitian menunjukkan 56 persen responden sering memanfaatkan internet untuk mengakses situs keagamaan. Dari hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa frekuensi mengakses internet bukanlah faktor yang mendorong mereka mengakses situs keagamaan.

Demikian juga dengan latar belakang pendidikan, kuliah di universitas yang berbasis agama (UIN) maupun umum (UI), tidak menjadi faktor yang membedakan tinggi atau rendahnya tahap mengakses situs keagamaan. Latar belakang pendidikan di pondok pesantren sedikit membedakan tingkat mengakses situs keagamaan, akan tetapi perbedaan dengan responden yang tidak pernah belajar agama di pondok pesantren tidak terlalu signifikan. Jadi, meskipun seseorang lebih banyak meluangkan waktu di depan internet, memiliki latar belakang pendidikan agama di pondok pesantren dan kuliah di universitas yang berbasis agama, ketiga-tiganya tidak menjamin mereka mengakses situs keagamaan dalam internet.

Adapun faktor yang memengaruhi mereka mengakses informasi keagamaan adalah motivasi. Motivasi yang dimaksud adalah adanya keperluan dan kepercayaan dengan informasi keagamaan yang ada dalam internet. Selama pengguna tidak merasakan perlu terhadap informasi dan pengetahuan agama, selama itu juga mereka tidak akan mengakses informasi keagamaan.

Terdapat faktor yang membedakan antara mahasiswa UIN dan UI dari segi mendapatkan motivasi. Mahasiswa UIN mendapatkan motivasi untuk mengakses informasi keagamaan melalui internet disokong oleh tugas kuliah dan keterlibatan mereka dengan organisasi kampus. Sementara mahasiswa UI mendapatkan motivasi lebih disokong oleh organisasi keagamaan di lingkungan kampus.

Menjadikannya Penting

Jadi, untuk mendorong agar generasi Muslim mengakses situs keagamaan melalui internet adalah dengan meningkatkan kesadaran kepada mereka bahwa ilmu agama itu penting untuk dimiliki, dikaji, dan dipahami. Ketika mereka sudah menganggap ilmu agama penting maka tingkat keperluan mereka juga akan tinggi, dan secara tidak langsung pemanfaatan terhadap internet sebagai medium yang cepat dan mudah juga akan tinggi.

Untuk meningkatkan kesadaran mereka terhadap ilmu agama pihak universitas harus lebih menyokong perkembangan organisasi keagamaan di lingkungan universitas. Sementara pengawasan untuk membatasi aliran yang tidak sesuai dengan ajaran Islam tetap dijalankan. Dengan berkembangnya organisasi keagamaan di lingkungan kampus, sebenarnya pihak universitas dengan sendirinya terbantu meminimalkan berkembangnya aliran-aliran sesat di lingkungan kampus itu sendiri.

Selain itu, pihak universitas juga harus menggalakkan fasilitas internet di lingkungan kampus. Ini bertujuan agar interaksi mereka dengan teknologi internet juga terbangun. Karena, intensitas mengakses juga dapat mengasah kemampuan mereka dalam memanfaatkan internet. Ketika kemampuan mereka tinggi, tentu mereka akan mudah mengaktualisasikan diri dalam dunia maya. Secara otomatis mereka juga akan dapat terlibat dalam membangun dan menjaga keutuhan bangsa yang bermoral dan beragama.

===

Catatan: Artikel ini dimuat dalam surat kabar online Republika di Jakarta, Indonesia, pada hari Rabu, 21 Desember 2011, dan bisa diunduh di: www.republika.co.id [diakses di Bandung: 21 Desember 2011].

Umar Halim adalah Mahasiswa Program Media dan Komunikasi UKM (Universiti Kebangsaan Malaysia), Bangi, Selangor Darul Ehsan, Malaysia.

SHARE

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here