Muatan Lokal dan Sejarah Garut: Perspektif Paedagogis dalam Pengajaran Sejarah di Indonesia

0
183

Oleh: Andi Suwirta

Pada tahun 1990-an, materi dalam Kurikulum Sejarah di Indonesia mulai diperkenalkan apa yang disebut dengan “muatan lokal” (mulok). Dengan “muatan lokal” dimaksudkan tidak hanya agar peserta didik dapat memahami dan mengapresiasi potensi daerah dan/atau lingkungan sekitar, tetapi juga – dalam proses sosialisasi dan enkulturasi dirinya melalui pendidikan – tidak kehilangan identitas diri di tengah-tengah arus informasi dan pengaruh global. Dalam hal ini semakin relevan adanya kecenderungan paradigma berpikir global namun dengan pola tindakan lokal atau sebaliknya (Naisbit, 1994).

Sementara itu disadari bahwa salah satu kendala dalam implementasi “muatan lokal” tentang mata pelajaran sejarah di sekolah adalah kelangkaan sumber-sumber rujukan sejarah yang secara akademis dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Di satu sisi ada semangat yang besar untuk mengapresiasai “sejarah lokal” yang dekat dengan kognisi dan situs peserta didik, namun di sisi lain semangat itu tidak diimbangi dengan khazanah pengetahuan sejarah yang objektif, kaya, dan menarik. Yang acapkali terjadi adalah penyajian materi sejarah yang bersifat nasional dalam konteks kurun waktu dan lokalitas tertentu.

Sejarah Kota Garut: Sumber Muatan Lokal

Dalam perspektif historiografi (sejarah tentang penulisan sejarah), kajian tentang sejarah kota-kota di Indonesia sudah banyak dilakukan. Kajian itu pada umumnya dilakukan terhadap kota-kota besar dengan mengambil periode tertentu dan menampilkan aspek-aspek peristiwa sejarah tertentu pula (Smail, 1964; Frederick, 1989; Cribb, 1990; dan Sumardjan, 1991). Studi antropologi yang melihat entitas kota di sebuah kecamatan atau kabupaten suatu daerah sebagai unit analisis juga cukup memperkaya kajian tentang sejarah kota (Geertz, 1986).

Khusus mengenai kajian sejarah kota-kota di Jawa Barat pada tahun 1970-an ada fenomena yang menarik. Kajian itu mengikuti kecenderungan untuk mencari dan menemukan Hari Jadi kota yang bersangkutan. Ada semacam kebanggaan bahwa semakin tua usia sebuah kota, semakin berwibawa dan hebat (?) kehadirannya dalam panggung sejarah Indonesia.

Sejarah kota Subang, misalnya, dinyatakan berdiri pada abad 19 M betapapun dalam kenyataannya baru setelah Proklamasi Kemerdekaan RI – dengan demikian tahun 1950-an dan bahkan 1960-an – nama kota dan pemerintahannya mulai berjalan sebagai pusat administratif sebuah kabupaten (Azhari et al., 1975).

Pada tahun 2000 terbit sebuah buku yang berjudul Sejarah Kota-kota Lama di Jawa Barat. Dengan pendekatan multidimensional dan interdisipliner, buku ini mengkaji sejarah kota-kota yang ada di Jawa Barat seperti: Ciamis, Cirebon, Banten, Sumedang, Tasikmalaya, Bandung, Cianjur, Bogor, dan Garut dengan struktur dan kultur yang melingkupinya (Herlina Lubis et al., 2000). Betapapun secara kronologis dan tematis beberapa kajian dalam buku ini masih bersifat terbatas dan fragmentaris, namun sebuah kisah tentang sejarah kota/daerah tertentu telah ditemukan (Abdullah, 2000).

Adalah sebuah keberuntungan pula bahwa pada tahun 2001 terbit sebuah buku yang sekarang sedang kita perbincangkan, yaitu Garoet Kota Intan: Sejarah Lokal Kota Garut Sejak Zaman Kolonial Belanda hingga Masa Kemerdekaan.

Buku ini bisa dijadikan model penulisan bagi sejarah kota di kabupaten-kabupaten lain di Jawa Barat karena sifat kajiannya yang akademis, komprehensif, dan bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Untuk kepentingan pendidikan di tingkat persekolahan – terutama dalam hal kelangkaan buku sumber untuk mengajarkan sejarah dalam muatan lokal – buku ini amat berguna dan fungsional.

Dalam perspektif paedagogis, kalaupun ada kelemahan dalam buku ini maka hal itu bersifat teknis-metodologis. Buku ini memang lebih menekankan perubahan struktural daripada peran aktor dalam sejarah Garut (Sofianto, 2001). Maka kalau kita ingin mencari peran tokoh-tokoh dalam kurun waktu tertentu – sebagai sumber inspirasi dan keteladanan dalam pengajaran sejarah – maka kita harus mencarinya secara tekun di tengah-tengah dominasi perubahan struktur – keadaan fisik kota, jumlah penduduk, pemerintahan, kehidupan sosial-ekonomi, pendidikan, dan kebudayaan – dari waktu ke waktu.

Sebagaimana kecenderungan penulisan sejarah modern yang bersifat multidimensional dan interdisipliner maka buku ini sesungguhnya mengingatkan kepada siapa saja yang akan menjadi “juru khabar” tentang sejarah Garut bahwa kedudukan dan peran seorang tokoh sejarah itu tidak bisa dilepaskan dari realitas sosial yang mengitarinya (Kartodirdjo, 1982).

Akhirul Kalam

Sebagaimana lazimnya sebuah buku yang merupakan teks, maka ia tidak bisa dilepaskan dari konteksnya. Buku Sejarah Lokal Kota Garut telah hadir di tengah-tengah kebutuhan untuk mengajarkan sejarah dalam muatan lokal yang menarik dan inspiratif.

Kehadiran sebuah teks akan diperkaya dan disempurnakan oleh teks-teks berikutnya. Maka untuk masa-masa mendatang dirasa perlu untuk terus mengkaji Sejarah Lokal Kota Garut dalam dimensi ruang dan waktu yang lebih luas lagi. Hal ini penting agar warga dan masyarakat Garut tidak kehilangan identitas dirinya di tengah-tengah arus perubahan sosial yang semakin deras dan mengglobal.

Daftar Rujukan:

Azhari, R.M. Eddy et al. (1975). Sejarah Subang. Bandung: Pemda Tk.II Kabupaten Subang dan Jurusan Pendidikan Sejarah FKIS IKIP Bandung.

Cribb, Robert. (1990). Gejolak Revolusi di Jakarta, 1945-1949: Pergulatan antara Otonomi dan Hegemoni. Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti, Terjemahan.

Frederick, Willliam H. (1989). Pandangan dan Gejolak: Masyarakat Kota dan Lahirnya Revolusi Indonesia (Surabaya 1926-1946). Jakarta: PT Gramedia, Terjemahan.

Geertz, Clifford. (1986). Mojokuto: Dinamika Sosial sebuah Kota di Jawa. Jakarta: PT Pustaka Grafitipers, Terjemahan.

Herlina Lubis, Nina et al. (2000). Sejarah Kota-kota Lama di Jawa Barat. Bandung: Alqaprint Jatinagor.

Kartodirdjo, Sartono. (1982). Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia: Suatu Alternatif. Jakarta: PT Gramedia.

Naisbit, John. (1994). The Global Paradox. New York: Warner Books, Inc.

Smail, John R.W. (1964). Bandung in the Early Revolution 1945-1946: A Study in the Social History of the Indonesian Revolution. Ithaca, New York: Cornell University Modern Indonesia Project.

Sofianto, Kunto. (2001). Garoet Kota Intan: Sejarah Lokal Kota Garut Sejak Zaman Kolonial Belanda hingga Masa Kemerdekaan. Bandung: Alqaprint Jatinangor.

Sumardjan, Selo. (1991). Perubahan Sosial di Yogyakarta. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, Terjemahan, cetakan ketiga.

===

Catatan: Tulisan ini pernah disajikan dan didiskusikan dalam Seminar Sejarah Lokal Kota Garut di Pendopo Kabupaten Garut, Jawa Barat, Indonesia, pada tanggal 28 Juni 2001.

Andi Suwirta, M.Hum. adalah Dosen Senior di Jurusan Pendidikan Sejarah FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung. Menulis buku Suara dari Dua Kota: Revolusi Indonesia dalam Pandangan Surat Kabar Merdeka (Jakarta) dan Kedaulatan Rakjat (Yogyakarta) 1945-47 (Jakarta: PT Balai Pustaka, 2000). Pernah menjabat sebagai Ketua Jurusan Pendidikan Sejarah FPIPS UPI Periode 2001-2004 dan 2004-2007.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here