Kalau Jalan-jalan ke Brunei, Jangan Lupa ke Kampong Ayer

0
145

Kampong Ayer telah menjadi ikon pariwisata di Negara Brunei Darussalam. Sebelum pusat pemerintahan pindah ke daratan pada awal abad ke-20, Kampung Ayer adalah pusat pemerintahan sejak kesultanan Brunei Darussalam didirikan pada abad ke-16 Masehi.

wisata.kp.ayer.bruneiDemikian penjelasan yang diberikan oleh Prof. Madya Dr. Haji Awang Asbol bin Haji Mail, ketika menemani Pengurus ASPENSI (Asosiasi Sarjana Pendidikan Sejarah Indonesia) menyusuri dan melakukan wisata sungai di Kampong Ayer, pada akhir bulan September 2013 yang lalu.

Menurut Haji Asbol, yang juga Dosen Senior di Jurusan Sejarah UBD (Universitas Brunei Darussalam), pemerintah Inggris – dengan sistem Residen – melakukan modernisasi pada masyarakat Brunei, termasuk memindahkan pusat kerajaan dari Kampong Ayer ke Bandar Seri Begawan di daratan sekarang. Pemerintah Inggris berpandangan kalau pusat pemerintahan di Kampong Ayer, maka Brunei tidak akan maju dan berkembang di masa depan.

Sementara itu, Andi Suwirta sebagai Ketua Umum ASPENSI menyatakan bahwa berwisata sungai di Kampong Ayer mengingatkan kita pada pusat-pusat kerajaan di Asia Tenggara, seperti Bangkok di Thailand atau Palembang di Indonesia. Hanya saja situs Kampong Ayer memang lebih bersih dan asri pemandangannya, mungkin karena penduduk Brunei tidak padat sehigga kurang ramai pengunjung; berbeda sekali dengan wisata sungai di Bangkok atau di Palembang.

Selama menyusuri sungai di Kampong Ayer itu, Pengurus ASPENSI juga melintasi Istana Nurul Iman, tempat tinggal Sultan Hassanal Bolkian sebagai Raja dan Kepala Pemerintahan Negara Brunei Darussalam. Menurut Haji Asbol, Negara Brunei Darussalam memang menganut ideologi IMB (Islam Melayu Beraja), semacam ideologi Pancasila di Indonesia atau Rukun Negara di Malaysia.

Pengurus ASPENSI mengunjungi Negara Brunei Darussalam, dan berwisata sungai di Kampong Ayer, adalah dalam rangka penandatanganan MoA (Memorandum of Agreement) dalam penerbitan SUSURGALUR: Jurnal Kajian Sejarah & Pendidikan Sejarah. Kunjungan dilakukan dari tanggal 26-29 September 2013 dan turut serta dalam rombongan itu, selain Ketua Umum ASPENSI, adalah Sekretaris Jenderal ASPENSI, Dr. Anzar Abdullah; dan Bendahara ASPENSI, Sri Redjeki Rosdianti, M.M.Pd.

Brunei adalah negara yang kecil tapi kaya dengan minyak, karena itu penduduknya sangat makmur dan sejahtera. Pembangunan infrastrukturnya, seperti jalan, jembatan, dan bangunan, juga sangat baik. Kota, lingkungan sekitar, dan pemandangan bersih, asri, dan tertata dengan baik. Memang, salah satu keunggulan negara-negara bekas jajahan Inggris di Asia Tenggara, termasuk Malaysia, adalah terletak pada “pengurusan dan pentadbiran” atau manajemen yang baik, termasuk memenej pembangunan infrastruktur dan pemerintahan.

Tapi yang juga penting, “Kalau Anda jalan-jalan ke Brunei jangan lupa ke Kampong Ayer” demikian Andi SUWIRTA, Ketua Umum ASPENSI dan juga Dosen Senior di Jurusan Pendidikan Sejarah UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) di Bandung, menyampaikan pesan singkat dan mengakhiri pembicaraan. [MAS].

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here