Penataan Program Doktor dan Publikasi Karya Ilmiah

2
115

Program Pendidikan Doktor di Indonesia nampaknya akan ditata-ulang. Hal ini sejalan dengan Peraturan Presiden No. 8 Tahun 2012 tentang KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia). Dalam Perpres (Peraturan Predisen) tersebut dinyatakan, antara lain, bahwa Jenjang Doktor (S3) berada pada tingkat (level) 9 dengan “learning outcome” paling tidak memiliki 4 kompetensi sebagai berikut.

Pertama, mampu mengembangkan pengetahuan, teknologi, dan/atau seni baru didalam bidang keilmuannya atau praktek profesionalnya melalui riset, hingga menghasilkan karya kreatif, original, dan teruji.

Kedua, mampu memecahkan permasalahan ilmu pengetahuan, teknologi, dan atau seni di dalam bidang keilmuannya melalui pendekatan inter, multi, dan transdisipliner.

Ketiga, mampu mengelola, memimpin, dan mengembangkan Riset dan Pengembangan yang bermanfaat bagi ilmu pengetahuan dan kemaslahatan umat manusia.

Keempat, mampu mendapat pengakuan nasional dan internasional.

Sekaitan dengan itu, Dirjendikti Kemdikbud RI (Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia) dalam suratnya nomor: 1483/E/T/2012, tertanggal 23 November 2012, dan ditujukan kepada: (1) Rektor Perguruan Tinggi Negeru, (2) Koordinator KOPERTIS Wilayah I – XII, dan (3) Direktur/Dekan/Kepala Sekolah Pascasarjana, menyatakan tentang perlunya menata-ulang Program Doktor sehingga memenuhi ketentuan perundangan.

Surat yang ditandatangani oleh Dirjen Dikti, Prof. Dr. Djoko Santoso, menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “memenuhi ketentuan perundangan” itu diantaranya adalah:

Pertama, Edaran Dirjendikti Nomor 152/E/T/2012 tanggal 27 Januari 2012 perihal Publikasi Karya Ilmiah, merupakan salah satu bentuk ketegasan komitmen untuk mematuhi ketentuan perundangan dimaksud di atas.

Kedua, mulai tahun 2013 Ditjen Dikti hanya akan memberikan beasiswa kepada Dosen dan Calon Dosen yang melanjutkan pendidikan Doktor di Program Studi yang terbukti mampu menghasilkan publikasi sebagaimana Edaran Dirjendikti Nomor 152/E/T/2012 tanggal 27 Januari 2012 tentang Publikasi Karya Ilmiah.

Ketiga, Ditjen Dikti sedang mempertimbangkan untuk meninjau ulang ijin Program Studi Doktor yang tidak mampu menghasilkan publikasi.

Menanggapi berita tersebut, Haji Didin Saripudin, Ph.D. menyatakan sangat gembira dan mendukung kebijakan Dikti tersebut. Menurut Didin, yang merupakan Sekretaris Jenderal ASPENSI (Asosiasi Sarjana Pendidikan Sejarah Indonesia) dan Dosen Senior UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) di Bandung, kebijakan Ditjen Dikti itu dalam kerangka mendorong produktivitas civitas akademika, khususnya para Doktor dan Profesor, agar hasil-hasil penelitian dan pemikirannya dipublikasikan, sehingga dapat dibaca dan menjadi rujukan oleh banyak orang.

“Sudah menjadi rahasia umum di Indonesia sekarang ini tentang adanya fenomena GBHN (Guru Besar Hanya Nama), yang bermakna tidak adanya karya-karya ilmiah yang dipublikasikan dari para Doktor dan Profesor tersebut, karena terlalu sibuk dengan urusan jabatan dan kekuasaan di Perguruan Tingginya masing-masing”, ujar Didin seraya menegaskan bahwa tugas utama Doktor dan Profesor adalah melakukan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni meneliti, mendidik, dan mengabdi; bukan menjadi pejabat terus-menerus di lembaganya.

Sementara itu Pengurus ASPENSI yang lain, Dr. Priyanto Wibowo, juga menyatakan dukungannya terhadap kebijakan Ditjen Dikti. Menurut Priyanto, yang juga Dosen Senior di Departemen Ilmu Sejarah UI (Universitas Indonesia) di Depok, kebijakan itu merupakan suatu keniscayaan dan harus dilaksanakan secara sungguh-sungguh oleh civitas akademika di Indonesia.

“Terlalu banyak Doktor di Indonesia ini, tapi terlalu sedikit karya-karya ilmiah yang dipublikasikan”, kata Priyanto, seraya mengharapkan bahwa dengan kebijakan ini maka para akademisi di Indonesia juga akan dikenal oleh masyarakat ilmiah, tidak hanya di lingkup nasional tetapi juga lingkup regional Asia Tenggara dan Internasional. [MAS]

SHARE

2 COMMENTS

  1. Selamat atas terakreditasinya jurnal internasional.., tapi kapan selamatan doktor ketua redaksinya karena itu lebih penting…hahaha

    • Salam Balad Dewa. Hatur nuhun kana komen sareng doana. Insya Allah jurnal internasional TAWARIKH baris terakreditasi ku Ditjendikti Depdikbud RI. Oge jurnal-jurnal sanesna anu diterbitkeun ku ASPENSI, oge insya Allah tiasa terakreditasi.

      BTW Ketua Redaksi Jurnal TAWARIKH mah tos Doktor. Kantun didoakeun supados enggal janten Profesor. Anu teu acan Doktor mah nyaeta Pupuhu ASPENSI, margi sibuk teuing nguruskeun jurnal. He3.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here