Buka Puasa Bersama di Rumah Haji Didin Saripudin, Ph.D.

2
161

Acara buka puasa bersama nampaknya menjadi salah satu ciri dan tradisi umat Islam di Indonesia. Menjelang berbuka puasa, umat Islam berkumpul di suatu tempat – biasanya rumah seseorang – sambil berbincang-bincang dan atau mendengarkan ceramah singkat dari seorang ustadz atau ulama. Ketika saat berbuka tiba, yang ditandai oleh adzan Maghrib, maka yang hadir turut menikmati makanan dan minuman yang dihidangkan oleh tuan rumah dan dilanjutkan dengan shalat Maghrib bersama. Bahkan ada juga yang terus berlanjut hingga shalat Isya dan Tarawih bersama.

Salah satu acara buka puasa bersama di bulan Ramadhan tahun 2012 ini dilaksanakan di rumah Haji Didin Saripudin, Ph.D., yang beralamat di Wing Opal D No.36, Komp Setiabudhi Regency, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Indonesia. Acara yang dilaksanakan pada hari Minggu, 5 Agustus 2012, jam 16.00 – 19.00 ini dihadiri oleh sekitar 60 orang undangan yang terdiri dari para Dosen dan Mahasiswa dari berbagai Jurusan dan Program Studi di UPI (Universitas Pendidikan Indonesia).

“Selaku tuan rumah, saya dan istri saya, Dr. Hajah Kokom Komalasari, mengucapkan terima kasih kepada bapak/ibu dan saudara/i karena sudi hadir dalam acara ini, mudah-mudahan ibadah puasa kita dalam rangka habluminallah dan silaturahim kita dalam rangka habluminannas diterima oleh Allah SWT”, ujar Didin yang juga merupakan Dosen Senior di Jurusan Pendidikan Sejarah UPI dan Sekretaris Jenderal ASPENSI (Asosiasi Sarjana Pendidikan Sejarah Indonesia) di Bandung saat memberi sambutan pembuka.

Menjelang berbuka, acara diisi oleh ceramah keagamaan yang kali ini disampaikan oleh ustadz Khalid A. Harras. Dalam ceramahnya, ustadz yang juga Dosen Senior di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI itu meluruskan kembali beberapa istilah yang salah kaprah dalam ajaran Islam, seperti kata “silaturahim”, “tausiyah”, dan “almarhum”.

“Jadi, bukan silaturahmi tapi yang benar adalah silaturahim, bermakna menghubungkan kasih-sayang. Kata tausiyah juga lebih cocok diberikan kepada orang yang akan meninggal dunia; jadi, untuk konteks acara buka puasa bersama dan silaturahim ini, istilah nasihat adalah lebih sesuai, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Asr”, kata ustadz Khalid menambahkan.

Berkenaan dengan istilah “almarhum” kepada orang yang sudah meninggal, ustadz Khalid menegaskan bahwa sebenarnya yang lebih sesuai adalah perkataan “Allah yarham”, yang artinya semoga Allah menerima atau mengampuninya.

Banyak hikmah yang bisa diambil dari nasihat menjelang berbuka puasa yang disampaikan oleh ustadz Khalid tersebut, diantaranya makna “taqwa” dan implikasinya dalam kehidupan, baik di dunia kini maupun di akhirat kelak.

Turut hadir dalam acara tersebut juga para alumni HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Cabang Bandung, seperti: Prof. Dr. H. Aim Abdulkarim, Dr. H. Kamin Sumardi, Dr. Pupung Purnawarman, Dr. Muhammad Nahadi, Fachrus Zaman Fadhly, Dedy Suryadi, M.Pd., Kusnandar, M.Pd., dan sebagainya.

Sementara itu pengurus ASPENSI yang turut hadir adalah: Andi Suwirta, M.Hum. (Ketua Umum ASPENSI), Dr. Encep Supriatna (Wakil Sekjen ASPENSI), Farida Sarimaya, M.Si. (Bendahara Umum ASPENSI), dan Sri R. Rosdianti, S.Pd. (Wakil Bendahara ASPENSI).

Selamat dan terima kasih kepada Haji Didin Saripudin, Ph.D. dan keluarga, semoga amal baiknya sebagai tuan rumah dalam acara buka puasa bersama mendapat ridha dari Allah SWT. Amin. [MAS]

SHARE

2 COMMENTS

  1. He3. Pak Khalid memang layak mendapat gelar baru “ustadz” karena beliau adalah orang GOLKAR (Golongan Keturunan Arab).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here