Ketua Umum ASPENSI: “Presiden Indonesia Sebaiknya Orang Muda”

2
125

Analisis terhadap profil Presiden Indonesia menunjukkan bahwa dari 6 Presiden itu, dilihat dari segi usia, maka Soekarno adalah yang termuda, dengan usia 44 tahun saat jadi Presiden tahun 1945. Usia tertua disandang oleh B.J. Habibie, yakni 62 tahun saat dilantik jadi Presiden tahun 1998. Indonesia ke depan nampaknya memerlukan sosok Presiden yang berusia muda, sebab Soekarno yang kita pandang “muda” sekarang pun, pada masa awal revolusi Indonesia sudah dikategorikan sebagai “golongan tua” oleh para pemuda pada waktu itu.

Demikian ditegaskan oleh Andi Suwirta, M.Hum., Ketua Umum ASPENSI (Asosiasi Sarjana Pendidikan Sejarah Indonesia) dalam acara Pelatihan OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah), LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan), dan Motivasi Spiritual yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, bertempat di Hotel Grand Tryas, Cirebon, pada hari Senin, 21 Mei 2012. Menurut Suwirta, yang juga Dosen di Jurusan Pendidikan Sejarah UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) di Bandung, sosok Presiden yang berusia dan berjiwa muda itu sangat penting agar Indonesia bisa lebih maju, sejahtera, dan merdeka dalam pengertian yang sebenarnya di masa yang akan datang.

Seperti diketahui bahwa sejak Indonesia merdeka hingga sekarang, Indonesia memiliki 6 Presiden yang merupakan “primus inter pares” atau putra-putri terbaik pada zamannya. Keenam Presiden tersebut adalah: (1) Presiden Soekarno, 1945-1966; (2) Presiden Soeharto, 1966-1998; (3) Presiden B.J. Habibie, 1998-1999; (4) Presiden Abdurahman Wahid, 1999-2001; (5) Presiden Megawati Soekarno Putri, 2001-2004; dan (6) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 2004-2014.

Suwirta kemudian menjelaskan bahwa dilihat dari segi etnik, 5 Presiden adalah dari Jawa dan 1 Presiden dari Bugis. Dari 5 Presiden yang Jawa pun, tiga Presiden berasal dari Jawa Timur bila dilihat dari tempat kelahirannya (Soekarno, Abdurahman Wahid, dan Susilo Bambang Yudhoyono); manakala dua Presiden dari Yogyakarta (Soeharto dan Megawati Soekarno Putri).

“Adalah menarik bahwa orang Sunda, yang merupakan etnik kedua terbesar setelah Jawa, belum pernah ada yang menjadi Presiden Indonesia”, kata Suwirta, seraya menambahkan perlu dikaji dari berbagai segi sebab-sebabnya.

Dari segi pendidikan, Presiden Indonesia mengenyam pendidikan mulai dari tingkat SMA (Sekolah Menengah Atas) hingga Perguruan Tinggi. Presiden dengan pendidikan setingkat SMA adalah Soeharto, Abdurahman Wahid, dan Megawati Soekarno Putri. Manakala Presiden dengan ijazah pendidikan dari Perguruan Tinggi adalah Soekarno, B.J. Habibie, dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Semua Presiden Indonesia adalah Muslim, apa pun tingkat dan corak pemahaman agama Islam mereka, kata Suwirta menegaskan. Dari segi gender, baru 1 orang Presiden wanita di Indonesia, yakni Megawati Soekarno Putri. Ini agak mengherankan, sebab jumlah populasi wanita yang dominan di Indonesia nampaknya lebih memilih Presiden yang laki-laki daripada Presiden yang wanita.

Dilihat dari segi profesi, 4 orang Presiden Indonesia adalah sipil (Soekarno, B.J. Habibie, Abdurahman Wahid, dan Megawati Soekarno Putri); sedangkan 2 orang Presiden adalah militer (Soeharto dan Susilo Bambang Yudhoyono).

Akhirnya Suwirta menegaskan bahwa masing-masing Presiden itu telah berjasa bagi pembangunan negara-bangsa Indonesia. Presiden Soekarno berjasa dalam membangun kebanggaan tentang apa artinya menjadi bangsa Indonesia (gagasan nation and character building); Presiden Soeharto berjasa dalam pembangunan ekonomi dan modernisasi masyarakat Indonesia (konsep trilogi pembangunan); Presiden B.J. Habibie berjasa dalam membuka keran demokratisasi di Indonesia (kebebasan pers, termasuk memberi opsi kepada rakyat Timor Timur apakah mau tetap berintegrasi dengan Indonesia atau ingin merdeka).

Manakala Presiden Abdurahman Wahid berjasa dalam proses depolitisasi dwifungsi ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) agar militer Indonesia lebih profesional dan tidak terlalu jauh terlibat dalam bidang politik; Megawati Soekarno Putri berjasa dalam proses reformasi birokrasi dan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) agar lebih efisien dan berdaya saing di era global; dan Susilo Bambang Yudhoyono berjasa dalam usahanya memberantas korupsi yang sudah menjadi budaya pada masyarakat Indonesia, walaupun belum sepenuhnya berhasil.

“Ke depan, kita memerlukan figur seorang Presiden Indonesia yang tidak hanya muda, tetapi juga punya visi dan program yang jelas. Misalnya, Indonesia di tahun 2020 dan 2025 itu akan menjadi masyarakat modern yang seperti apa?”, Suwirta bertanya secara retoris kepada para peserta Pelatihan yang terdiri dari para Guru SMP (Sekolah Menengah Pertama) bidang kesiswaan di seluruh Jawa Barat itu. [MAS]

SHARE

2 COMMENTS

  1. Betul pak. Kita butuh pemimpin muda. Yang tua-tua minggir saja, lebih baik mereka mengurus cucu, tinggal di rumah, dan perbanyak ibadah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here