Geunjleung News & Views ASPENSI di Alam Maya

17
279

Portal ASPENSI (Asosiasi Sarjana Pendidikan Sejarah Indonesia) ayeuna nuju diadu-reyomkeun ku masyarakat, khususna mah ku civitas akademika UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) di Bandung. Ari nu jadi kasang-tukang, margi eta portal teh ngamuat seratan Andi Suwirta, Pupuhu ASPENSI, anu judulna “Cecep Darmawan: Sang Plagiator?”.

Numutkeun Andi Suwirta, anu oge Dosen di Jurusan Pendidikan Sejarah UPI, saatosna eta seratan teh dipajang dina portal ASPENSI, anjeunna seueur kenging SMS anu eusina aya nu ngadukung, aya nu mang hanjakalkeun, malihan aya oge anu mangkahade-hade supados henteu gagabah ngamuat hiji seratan dina alam maya.

Andi oge negeskeun, yen anjeunna parantos masihan pamadegan naon margina dugi ka ngaguar eta seratan. Dina bag-bagan ngomentaran eta seratan, Andi kangtos nandeskeun deui sikepna sapertos kieu (urang cutat langsung dina Bahasa Indonesia):

Saya sama sekali tidak menduga bahwa tulisan saya di dunia maya ini akan mendapat respons yang luar biasa. Bagi saya, ini adalah pengalaman pertama bahwa tulisan yang saya anggap biasa-biasa saja itu – dibuat setelah mendapat inspirasi dari bukunya Cindy Adams (1966 dan 1974), Sartono Kartodirdjo (1982 dan 1992), Ben Anderson (1988), dan Taufik Abdullah (2001) – kini ditanggapi secara beragam: ada yang pro dan kontra, bahkan ada yang mengirim SMS segala dengan nada memperingati dan menakut-nakuti.

Padahal niatan awal saya menulis ini adalah untuk menunjukkan bagaimana cara menuliskan sejarah orang-orang biasa, di luar arus utama sejarah orang-orang besar. Kebetulan yang saya ambil sebagai contoh adalah seorang Dosen, namanya CD, adik saya yang sama-sama satu Fakultas, sama-sama satu daerah (Subang), dan sama-sama juga alumni HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Yang tidak kebetulan – dan ini barangkali sumber kontroversinya – karena adik saya ini tengah didera kasus plagiarisme di UPI.

Namun saya ingin menegaskan bahwa tidak ada maksud sedikit pun, dalam hati saya, untuk menyerang pribadi, apalagi menjelek-jelekan lembaga UPI. Judul tulisan saya itu, walaupun menyebut nama, toh masih menggunakan Tanda Tanya. Bagi saya, CD adalah Dosen Muda yang potensial dan harapan masa depan UPI. Dan bagi saya pula, UPI adalah almamater tercinta, tempat saya dididik dan dibesarkan hingga seperti sekarang. Bahkan saya selalu membawa nama baik UPI, sebab kalau saya mengadakan kunjungan dan melakukan kerjasama untuk penerbitan jurnal ilmiah ke beberapa universitas, termasuk ke Malaysia, saya selalu dipandang sebagai Dosen UPI, bukan sebagai Ketua Umum ASPENSI.

Dari sekian banyak komentar, yang paling menyentuh dan menggugah rasa primordial saya adalah dari Prof Bunyamin Maftuh. Betul Prof, kita memang orang dari daerah Pantura, yang beda kabupaten, hanya dipisahkan oleh sungai Cilamaya. Kampung saya (Sengon) selalu menggunakan Bahasa Jawa, sementara Desa Prof (Gempol) memakai Bahasa Sunda. Tidak terasa, nampaknya, bahwa sejak kecil kita terbiasa dengan perbedaan bahasa, budaya, dan bahkan pandangan, tapi kita tetap saling memahami dan menghargai.

Walau bagaimanapun, saya mengucapkan terima kasih atas nasihat-nasihat sufistik Prof yang sarat makna. Kearifan lokal di kampung saya juga selalu mengajarkan, wong becik ketitik, wong bener ketenger, lan wong ala ketara, bahwa baik-buruknya perilaku seseorang itu pada akhirnya akan ketahuan juga dan ditanggung sendiri akibatnya.

Terima kasih Prof sekali lagi, segara adoh pinggire, sun rasa wis semene bae”.

Sagedengeun ti eta, numutkeun informasi anu dipaluruh ku Didin Saripudin, Ph.D. (Sekretaris Jenderal ASPENSI, oge Dosen Jurusan Pendidikan Sejarah UPI), seratan Andi dina alam maya eta dipoto kopi teras disebar-sebarkeun di UPI, kalebet di Fakultas sareng di Jurusan tempat Andi ngawulang.

Iya kang, tulisan akang disebarkan oleh Iik kepada Dosen-dosen serta mahasiswa di Jurusan pun pada tahu dan rame membicarakan tulisan akang”, saur Didin ngalangkungan telepon selulerna, ngawartosan ka Andi.

Numutkeun Andi, anjeunna oge kangtos kenging telepon langsung ti alumni UPI, namina Yatun Romdonah Awaliah. Ieu alumni Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah UPI teh kangtos nyerat oge opini anu judulna “Karena Dosen Setitik, Rusak UPI Sebelanga”, sareng kangtos dimuat dina surat kabar Tribun Jabar di Bandung, 5 Maret 2012. Rupina ku pihak Redaksi ASPENSI in News & Views eta seratan teh diajul teras dipajang oge dina portal ASPENSI (6 Maret 2012).

Yatun rupina kaabotan seratan anjeunna dipajang di portal ASPENSI. Kumargi kitu Yatun nelepon langsung ka Andi, salaku Pupuhu ASPENSI, kanggo disirnakeun bae eta seratan tina portal ASPENSI.

Ya, saya dapat telepon langsung dari neng Yatun. Katanya keberatan tulisannya diunggah di web ASPENSI, karena selain pihak Redaksi tidak meminta izin dulu kepadanya, juga karena masalah plagiarisme ini merupakan isu yang sedang panas di UPI”, saur Andi.

Saleresna mah boh portal ASPENSI, oge kalebet portal-portal jurnal anu diterbitkeun ku ASPENSI, ngagem kawijakan “Open Access Media”, anu hartosna sing saha-saha bae anu bade maca, ngala, sareng ngagunakeun sagala rupi informasi, mangga teh teuing, bebas kalayan haratis. Asal, numutkeun Andi, pami kanggo kapentingan nyerat karya ilmiah mah kedah disebatkeun sumberna timana, ngalana iraha sareng dimana.

Kanggo ASPENSI mah ieu teh cocog sareng kawijakan DOAJ (Directory Open Access Journals) anu pusatna di Eropa. Oge selari sareng pamadegan SCOPUS di Singapura. Tapi margi anu nyeratna ku anjeun, nya eta Yatun, kaabotan seratanana di pajang, nya ku pihak Redaksi ASPENSI in News & Views langsung dipupus bae.

Rupina mah ASPENSI tos ngawitan dipikawanoh ku balarea, khususna mah ku para akademisi di Indonesia sareng di Nagara-nagara di Asia Tenggara, kualatan nerbitkeun jurnal-jurnal ilmiah anu oge gaduh portal sewang-sewangan eta jurnal teh.

Atuh ari portal ASPENSI dipikawanoh ku civitas akademika UPI na teh margi ngungkabkeun hiji seratan anu nuju geunjleung diadu-reyomkeun, nya eta kasus plagiarismeu anu tuniba ka tilu calon Guru Besar UPI. Salah sawiosna, anu dipedar ku Andi, nya eta Cecep Darmawan [MAS].

SHARE

17 COMMENTS

  1. YBhg. Urusetia News & Views ASPENSI.

    Saya cikgu daripada Sekolah Menengah Kebangsaan di Malaysia. Saya kerap melayari laman web ASPENSI, termasuk jurnal-jurnal akademiknya, memandangkan banyak maklumat yang berharga bagi saya selaku cikgu.

    Tapi kalau boleh saya membagi saranan dan cadangan, harap semua maklumat yang didedahkan dan diuar-uarkan oleh laman web ASPENSI setakat mengguna-pakai Bahasa Inggeris, Bahasa Melayu, dan Bahasa Indonesia sahaja.

    Di luar bahasa-bahasa bersabit, saya tak faham. Jadi membazir masa bila saya membaca maklumat yang saya persendirian tak faham maksudnya.

    Sekian dan salam muhibah.

  2. Yth. Cikgu Hasan.

    Terima kasih karena Anda selalu menyambangi portal ASPENSI. Terima kasih juga atas masukan dan saran-sarannya.

    Insya Allah pihak Redaksi News & Views ASPENSI akan mempertimbangkan saran Anda. Karena itu kami juga menghimbau kepada para pengunjung dan pembaca portal ASPENSI, kalau mau memberi komentar mohon menggunakan: Bahasa Indonesia, Bahasa Melayu, atau Bahasa Inggris saja.

    Sekian dan terima kasih.

  3. Salam, urusetia ASPENSI.

    Saya akur dengan pandangan cikgu Hasan. Tak payahlah media online ASPENSI ni guna bahasa selain Bahasa Inggeris, Bahasa Melayu, dan Bahasa Indonesia. Saya pun macam malas dan serik nanti bila Pengerusi ASPENSI tak menukar dasar ini.

    Saya difahamkan oleh ramai rakan pelajar Indonesia di Malaysia bahawa ayat “haram jadah” ini bermaksud “gampang” dalam Bahasa Melayu. Saya teringat tahun 2009 masa encik Andi, Pengetua ASPENSI, datang melawat ke Malaysia. Beliau kata bahawa jurnal-jurnal akademik yang ditadbir oleh ASPENSI ni dilabel “haram jadah” alias “gampang”. Yang cakap macam tu ialah sorang Profesor dan menjawat selaku Dekan Fakulti Pendidikan Sains Sosial UPI. Dia orang masih menjawat Dekan ke sekarang ni encik Andi?

    Tapi masa tu saya membagi nasihat kepada encik Andi agar sabar dan tawakal sahaja. Jurnal-jurnal akademik ASPENSI bukanlah jurnal “gampang”, tapi ianya adalah “jurnal-jurnal yang cemerlang dan terbilang”.

    Harap2 Profesor yang cakap tu bukan pulak “Profesor Kangkung”, yang setakat punya gelaran haibat, cakap besar pulak, tapi tidak menulis apa pun, sama ada dalam jurnal akademik mahupun buku yang bekualiti.

    Di atas pemerhatian yang baik, saya merakamkan berbanyak terima kasih.

  4. Saya mendukung tulisan-tulisan dan berita yang dimuat oleh web ASPENSI untuk memberantas praktek plagiat dan para plagiator. Soalnya pihak UPI juga sudah mencanangkan Deklarasi Anti Plagiat dan Anti Nyontek. Jadi harus konsisten. Tapi waktu ada acara Deklarasi Anti Plagiat dan Anti Nyontek di FPIPS UPI, saya tidak melihat Dosen yang namanya Cecep Darmawan. Jadi dia memang tidak mendukung Deklarasi tersebut dan konsisten menjadi plagiator.

  5. Oh, “Profesor Kangkung” di Malaysia itu maksudnya seperti itu? Kalau begitu di Indonesia juga banyak, namanya Profesor GBHN (Guru Besar Hanya Nama), atau sekarang lebih poluper dengan plesetan “Guru Besar Hasil Nyontek” alias jadi Plagiator.

  6. Aneh, ya. Rektor UPI “cool banget”, tidak ada suaranya sedikit pun menyikapi kasus plagiarisme di lembaga yang dipimpinnya. Beda dengan Rektor lain yang lantang, tegas, dan berusaha membersihkan citra lembaga terhadap kasus plagiarisme yang menerpanya. “Sesuatu banget” deh Pimpinan UPI, benar-benar “adem, ayem, tentrem, kartadinata, repeh, rapih, dan ripuh”.

  7. Pihak Redaksi News & Views ASPENSI telah menghapus artikelnya Yatun di web, dengan alasan karena tidak mendapat izin dari penulisnya. Waduh bingun deh saya ini. Masalahnya kalau saya mau mengutip pendapatnya Socrates, Mahatma Gandi, Sukarno, dan Muhammad Yamin, saya harus minta izin ke siapa? Mungkin saya harus melakukan dialog imajiner dengan arwah mereka di alam kubur ya?

  8. Ada logika yang janggal dengan kebijakan ASPENSI sehubungan dengan telepon saya yang meminta tulisan saya dicabut dari portal ASPENSI. Merujuk pada uacapan Andi:

    “Saleresna mah boh portal ASPENSI, oge kalebet portal-portal jurnal anu diterbitkeun ku ASPENSI, ngagem kawijakan “Open Access Media”, anu hartosna sing saha-saha bae anu bade maca, ngala, sareng ngagunakeun sagala rupi informasi, mangga teh teuing, bebas kalayan haratis. Asal, numutkeun Andi, pami kanggo kapentingan nyerat karya ilmiah mah kedah disebatkeun sumberna timana, ngalana iraha sareng dimana..”

    Bahwa ASPENSI mempunyai kebijakan seperti itu, yakni siapa pun mau membaca, menggunakan, mengunduh segala informasi, dipersilakan dengan cuma-cuma alias gratis, itu adalah kebijakan internal ASPENSI. Kebijakan ini harus dimakna bahwa publik dipersilakan untuk memanfaatkan informasi yang ada di ASPENSI.

    Tapi bahwa ASPENSI mengambil seluruhnya atau sebagian tulisan, baik karya ilmiah maupun populer karya orang lain, seperti karya saya yang pernah dimuat di Tribun Jabar, sepatutnya ASPENSI memperhatikan etika. Sebab antara kebijakan ASPENSI mempersilakan publik memanfaatkan informasi yang ada di portal ASPENSI dengan ASPENSI mencomot tulisan orang lain, dua hal yang berbeda.

    Benar bahwa tulisan yang sudah dipublikasikan menjadi milik publik, boleh dimuat di mana pun asal mencantumkan nama penulis dan sumbernya. Tetapi hak kepengarangan seperti diatur dalam UU Hak Kekayaan Intelektual merupakan hak yang melekat, jadi sepatutnya pengarang dimintai ijin jika sebuah lembaga/media/portal akan ikut menyebarluaskan. Mengapa harus meminta ijin? Hal ini terkait dengan kredibilitas lembaga/portal yang akan ikut menyebarluaskannya. Bisa saja seorang penulis yang karyanya sudah dimuat di koran, tidak setuju dimuat di sebuah portal karena si penulis meragukan kredibilitas pengeloa portal tersebut. Dalam konteks inilah maka lembaga atau seseorang yang ingin ikut menyebarkan karya orang lain perlu ijin penulisnya.

  9. Sebutkan Sumber untuk Menghidari Plagiat

    Pikiran Rakyat, Minggu, 04/03/2012 – 13:49 di: http://www.pikiran-rakyat.com

    BANDUNG, (PRLM).- Gelar atau titel akademik yang masih lebih dipandang dan dihargai ketimbang ilmu itu sendiri membuat akademisi mengambil jalan pintas dengan melakukan aksi plagiarisme. Padahal sebenarnya untuk menghindari plagiat cukup simpel, hanya dengan mencantumkan sumber maka seseorang terhindar dari tuduhan jiplak menjiplak.

    “Iya sebetulnya sangat simpel. Hanya dengan mencantumkan nama penulis aslinya. Sebab sebuah karya itu harus original, dan semua hak kekayaan intelektual harus dihargai. Dengan menjiplak tanpa menyebutkan sumbernya maka itu adalah pelanggaran,” kata Dosen Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran yang juga Kepala Unit Pelaksana Teknis Hak Kekayaan Intelektual Unpad, Miranda Risang Ayu saat dihubungi, Minggu (4/3).

    Miranda menjelaskan, ada dua UU terkait plagiarisme ini. Pertama UU Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta dan yang kedua adalah UU Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Dalam UU ini, kejahatan akademik tersebut disebut dengan istilah pelanggaran hak moral.

    “Disebutkan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan itu harus berdasar pada HKI. Hak cipta adalah bagian dari HKI, paten juga. Dan prinsip-prinsip HKI itu harus diindahkan. Konteks disini, hak cipta terkait hak moral dan originalitas. Hak moral adalah hak seorang pencipta untuk selalu disebut sebagai pencipta. Ini terkait integritas dari si pencipta. Sementara prinsip originalitas itu harus asli, tidak menjiplak yang berarti semua referensi harus dicantumkan,” ungkapnya.

    Menurut Miranda, semakin banyak sumber dan bahan referensi dari sebuah karya maka akan semakin bagus. Sebab ilmu pengetahuan diibaratkan sebuah bangunan yang tidak bisa berdiri sendiri. “Seperti bangunan yang terdiri dari banyak batu bata. Nah ketika kita berdiri di atas bangunan ini untuk menciptakan satu analisa yang baru, maka batu bata di bawahnya yang menyusun itu harus disebutkan. Itu adalah etika akademis, dan ketika kita tidak menyebutkan itu berarti kejahatan akademik. Sama saja dengan pencuri, jahat, dan tidak etis,” ungkapnya.

    Menurut Miranda, selain sebagai bentuk penghargaan terhadap karya dan jerih payah orang lain dalam menghasilkan sesuatu, dengan menuliskan semua sumber yang menjadi referensi maka itu juga merupakan bentuk tanggung jawab terhadap ilmu itu sendiri.

    “Dunia akademis bukan dunia ekonomi. Dan seringkali hak ekonomi dikesampingkan. Tetapi tidak dengan hak moral. Ketika kita mengutip dan mencatumkan sumber, kita tidak harus bayar kepada si penulis. Berapapun sumber dari karya kita, 100 sumber pun tidak perlu bayar. Kecuali kalau kita beli bukunya. Cukup dengan menuliskan sumber. Karena sebuah karya yang bagus adalah gabungan dari berbagai pemikiran. Kita yang menganalisa dan bandingkan dengan pemikir lain,” tuturnya.

    Miranda menjelaskan, potensi plagiat di semua lembaga akademis pasti selalu ada. Apalagi di kalangan mahasiswa. Tetapi kalau disebutkan sumbernya dan menggabungkan dengan pemikir lain tidak menjadi masalah. “Biasanya setiap institusi sudah punya aturan dalam penegakan hukum plagiarisme ini. Pasti merujuk ke dua UU tadi. Jadi pasti ada sanksi akademik di dalam lembaga itu sendiri,” ucapnya. (A-157/A-147)***

  10. Pertanyaan buat Sdri Yatun. Tulisan dan karya-karya ilmiah saya, tanpa sepengetahuan dan izin dari saya, tiba-tiba kok nongol dan dipajang di Google.com Apakah lembaga ini plagiator?

    Banyak juga web-web yang dibuat secara pribadi sering mencomot artikel atau karya ilmiah orang lain dengan tetap menyebutkan nama pengarang, sumber media, kapan dan dimana diakses, tanpa minta izin juga ke penulisnya langsung. Apakah web-web pribadi itu juga melakukan tindakan plagiat?

    Surat-surat kabar di Indonesia sering mencomot berita dari lembaga berita ANTARA, dengan tetap menyebutkan bahwa sumber berita tersebut dari ANTARA. Apakah surat-surat kabar ini plagiator semua?

    Menurut saya, kalau karyanya tidak ingin dikutip atau diunduh oleh orang lain, dengan tetap menghargai secara jujur nama penulis, tahun penerbitan, halaman, serta di Daftar Pustaka juga dicantumkan lengkap, ya mbok jangan menulis di media massa atau media yang bisa diakses oleh publik.

    Nulis naskah kuno saja, dengan huruf Pegon, terus disimpan yang rapih di Museum Sri Baduga, dan kalau ada orang yang mau melihat dan mengutip naskahnya, baru minta izin, bahkan harus bayar. Habis perkara.

    • @ Ilmu Amaliyah: Anda seperti kurang “surti” atau tidak faham maksud Yatun. Intinya dia meragukan kredibilitas portal ASPENSI. Jadi dia adalah sama dengan Prof di UPI yang menyebut “haram jadah” kepada jurnal-jurnal yang diterbitkan oleh ASPENSI. Dan Prof tersebut ada kesan melindungi plagiator di UPI sekarang ini.

  11. Untuk Tarik Jabrik dan Ilmu Amaliah , saya ingin menejaskan beberapa poin, mudah-mudahan penjelasan ini jadi bahan diskusi dan pemikiran, syukur-syukur jadi bahan kajian secara akademis oleh para ilmuwan di UPI.

    Pertama saya ingin menjelaskan, bahwa mengutip sebuah tulisan untuk keperluan ilmiah dan ikut menyebarluaskan tulisan oleh sebuah media adahal dua hal yang berbeda.

    Mengutip pendapat atau teori untuk keperluan ilmiah, tujuannya jelas, yakni untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Pendapat atau teori tersebut tentu disebutkan penulis dan sumbernya, lalu dikaji secara mendalam. Jadi Tarik Jabrik tak usah khawatir untuk mengutip pendapat penulis mana pun sepanjang menyebut penulis dan sumbernya.

    Sedangkan ikut menyebarluaskan tulisan oleh sebuah lembaga media, seperti tulisan saya diposting oleh ASPENSI, meskipun tulisan saya sudah dimuat di Tribun Jabar, tentu punya tujuan tertentu dari pengelolanya. Saya percaya tujuannya sekadar untuk menyebarluaskan gagasan saya. Tapi tidak tertutup kemungkinan ada tujuan lain, misalnya politis, karena ketidaksukaan terhadap seseorang yang diduga dituduh melakukan plagiarisme. Nah ini yang saya khawatirkan, tulisan saya itu dimanfaatkan dalam pertarungan politis yang dilandasi ketidaksukaan atau persaingan, yang saya sendiri tak paham namun dari tulisan Pak Andi yang berjudul “Cecep Darmawan, sang Plagiator? saya menangkap kesan seperti itu. Boleh dong saya memaknai tulisan Pak Andi seperti itu, kan…

    Untuk Ilmu Amaliah, kalau surat kabar mengutip berita seperti dari Antara, sepertinya Anda harus memahami dunia media massa. Antara adalah kantor berita, dimana berita-beritanya itu secara komersial dijual ke berbagai media. Jadi kalau ada koran memuat berita Antara, itu sudah dipastikan koran itu menjalin kontrak kerja sama dengan Antara, artinya koran itu membeli berita-berita atau foto dari Antara.

    Kalau soal google.com, tentu saja google.com dengan web itu berbeda. Google.com adalah mesin pencari, dimana teks atau foto yang sudah dicemplungkan ke internet biasanya bisa muncul begitu saja. Karena google.com layanan jasanya memang mesin pencari, tentu tidak menerapkan kriteria dalam menyajikan materinya.

    Sementara web atau portal, apalagi web jurnal ilmiah, setahu saya menerapkan kriteria-kriteria tertentu untuk menyajikan materinya. Jadi ketika portal itu memposting tulisan atau foto sudah dengan kriteria tertentu yang disyaratkan oleh pengelolanya, sesuai dengan visi, misi dan kepentingannya. Jadi Ilmu Amaliah tidak relevan membandingkan web dengan google.com.

    Mengenai web pribadi yang banyak memposting tulisan orang lain tanpa ijin penulisnya, meskipun menyebut penulis dan sumbernya, saya sendiri menilai itu melanggar etika. Tapi pengalaman saya, tak sedikit teman yang saya kenal yang punya web web atau blog, ketika memposting tulisan seseorang, minta ijin dulu ke penulisnya. Masalahnya, ketika diposting dan tak disebut bahwa tulisan itu diposting atas seijin penulisnya, kita tidak tahu kalau tulisan itu diposting sebetulnya sudah seijin penulisnya. Bila kita membaca tulisan seseorang di web atau blog-blog pribadi, hanya ada dua kemungkinan, sudah seijin atau tanpa seijin penulisnya.
    Tapi sebagai bahan referensi untuk memperkaya wawasan, ada baiknya membaca buku PLAGIARISME: Pelanggaran Hak Cipta dan Etika karya Dr. Henry Soelistyo, SH. LLM. di situ diuraikan jenis-jenis plagiarisme dan pelanggaran hak cipta . Dan saya memiliki keyakinan diluar pemuatan tulisan saya kemarin portal Aspensi mudah-mudahan sudah mengikuti aturan yang ada sehingga tidak akan terjerat undang-undang hak cipta.

    Hatur Nuhun.
    Cag.

  12. Yth. para pengunjung web ASPENSI.

    Pihak Redaksi “News & Views ASPENSI” akan membatasai komentar, baik terhadap “News” maupun “Views”, sebanyak 15 (lima belas) saja.

    Mohon juga komentar-komentar yang diberikan, baik pro dan kontra maupun netral, tetap menggunakan bahasa yang santun, logis, dan rasional. Komentar yang diberikan oleh Sdri. Yatun adalah contoh yang baik.

    Tunjukkan bahwa para pengunjung web ASPENSI adalah para Sarjana yang mampu berhujah dengan bahasa yang baik dan benar. “Hati boleh panas, tapi kepala tetap dingin”.

    Terima kasih.

  13. Kang Bunyamin yang Saya hormati.

    Kenapa nasiha-nasihat akang itu tidak disampaikan juga, dulu ketika Cecep dkk dengan FPMD nya mengkritik, menghujat – campur fitnah (karena sebagian tidak terbukti) kepada pimpinan UPI? Dan media massa, baik lokal maupun nasional, memberitakannya lebih dari 1 bulan.

    Sekarang saya jadi tahu, kalau selama ini saya anggap kang Bunyamin itu obyektif sebagai akademisi, ternyata anak buah Idrus juga. Alias saguru saelmu dengan Cecep.

  14. Pa Bunyamin mah “Kura-kura dalam perahu”. Kan Pa Andi, dkk di “black list” di UPI. Jurnal nu dikelolana ge ku Dekan FPIPS nu ayeuna jadi PR II dina rapat disebut jurnal “Haram Jadah”.

  15. Saya pikir pak Andi Suwirta punya kepentingan-kepentingan politik dan dendam politik serta memanfaatkan situasi diatas musibah yang terjadi. Semoga Allah bisa menyadarkan segala dendam pak Andi Suwirta … dan tulisan2 di atas bukan mencerminkan seorang akademisi, tapi polisi opini. Ngarti teu? Pikiran we ku sia … ha ha ha.

  16. Para pengunjung web ASPENSI yang budiman.

    Redaksi “ASPENSI in News & Views” mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi atas komentar-komentar yang diberikan. Baik yang pro dan kontra maupun yang netral adalah biasa dan sama baiknya di era Reformasi dan Demokrasi ini dalam memandang satu masalah.

    Mengingat keterbatasan ruang dan waktu, maka komentar-komentar Anda terhadap “News” yang berjudul “Geunjleung News & Views ASPENSI di Alam Maya”, kami batasi sampai di sini. Silahkan Anda memberikan komentar kepada “News” dan Views” lain di web ASPENSI.

    Tujuan utama web ASPENSI sebenarnya bukan memberikan wadah kepada para pengunjung untuk menulis komentar-komentar singkat, tapi memberikan kesempatan untuk menulis yang bersifat opini analisis dan kritis. Kami adalah pengelola jurnal-jurnal ilmiah dan tulisan yang ilmiah pulalah yang kami harapkan (antara 15-25 halaman), dan silahkan langsung dikirim ke emel: [email protected] untuk dipertimbangkan oleh pihak Redaksi.

    Bagaimanapun, komentar-komentar Anda telah memenuhi harapan Ketua Umum ASPENSI bahwa kami hanya menyajikan, terserah Anda untuk menilai “asin, manis, pahit, enak, dan tak sedapnya” itu sajian. Sesungguhnya ASPENSI ada, juga karena mendapat perhatian Anda.

    Terima kasih sekali lagi dan salam “merdeka bicara, bebas berpikir, dan independen bersikap” adalah ciri manusia Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here