ASPENSI Jalin Kerjasama dengan UNSUR

1
133

ASPENSI (Asosiasi Sarjana Pendidikan Sejarah Indonesia) di Bandung akan menjalin kerjasama dengan UNSUR (Universitas Suryakancana) di Cianjur, Jawa Barat, Indonesia. Kerjasama ini diwujudkan dalam bentuk penandatangan MoA (Memorandum of Agreement) antara Ketua Umum ASPENSI dengan Rektor UNSUR.

Dr. Siti Maryam, salah seorang Dosen UNSUR, menyatakan bahwa acara MoA akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 25 Februari 2012, bertempat di Kampus UNSUR. Kerjasama ini dalam bentuk penerbitan bersama berkala ilmiah ATIKAN: Jurnal Kajian Pendidikan.

“Kami menyadari bahwa UNSUR kurang pengalaman dan belum memiliki SDM (Sumber Daya Manusia) yang handal dan profesional dalam pengelolaan jurnal ilmiah”, kata Siti melalui telefon seleluarnya dari Cianjur.

Siti menambahkan bahwa ASPENSI merupakan organisasi profesional yang memiliki banyak pengalaman dalam mengelola jurnal ilmiah. Karena itu kerjasama ini sangat dinantikan untuk membantu UNSUR dalam memiliki dan mengelola jurnal ilmiah.

“Hal ini juga sejalan dengan kebijakan dari Dirjendikti Kemdikbud RI (Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Republik Indonesia) bahwa untuk menerbitkan jurnal ilmiah dianjurkan untuk bekerjasama dengan Himpro (Himpunan Profesi) yang kompeten serta memiliki portal organisasi dan jurnal agar bisa diakses oleh banyak kalangan”, Siti menegaskan.

Sementara itu, Wakil Bendahara ASPENSI, Sri R. Rosdianti, S.Pd., menyatakan bahwa dengan kerjasama ini maka jurnal-jurnal yang diterbitkan oleh ASPENSI hampir semuanya telah berkolaborasi dengan perguruan tinggi di Indonesia.

“Kami telah bekerjasama dengan UMP (Universitas Muhammadiyah Purwokerto) dalam penerbitan EDUCARE: International Journal for Educational Studies; dan dengan UVRI (Universitas Veteran Republik Indonesia) di Makassar dalam penerbitan TAWARIKH: International Journal for Historical Studies”, kata Sri dengan bangga menegaskan.

“Kami juga tengah menunggu tindak-lanjut kerjasama dalam penerbitan SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan dengan pihak USU (Universitas Sumatera Utara) di Medan”, Sri menambahkan.

Memang, menerbitkan jurnal ilmiah bagi sebuah lembaga akademik di Indonesia adalah sebuah keniscayaan. Hal ini sejalan dengan kebijakan Dirjendikti Kemdikbud RI bahwa semua Guru, Dosen, dan Guru Besar – dan bahkan calon Sarjana, Magister, dan Doktor di Indonesia – harus menulis hasil pemikiran dan penelitian di jurnal ilmiah yang memiliki portal agar bisa diakses oleh banyak pihak.

Akhirnya, Sri menambahkan bahwa jika di Malaysia ada sebutan “Profesor Kangkung” maka di Indonesia juga dikenal istilah GBHN (Guru Besar Hanya Nama), yaitu Profesor yang hanya namanya saja hebat dengan gelar yang mentereng, tapi tidak pernah berkarya dan nol tulisannya, baik dalam bentuk buku maupun artikel yang diterbitkan di jurnal ilmiah. [MAS]

SHARE

1 COMMENT

  1. Tah, di UPI mah rada seueur Profesor anu GBHN teh. Salamina teras-terasan ngajabat, kenging tunjangan jabatan sareng Guru Besar, tapi karya ilmiahna — boh buku atanapi seratan di jurnal ilmiah — alhamdulillah “ngahiyang” alias leungit ilang tanpa karana, teu aya di kieuna.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here