ASPENSI Paling Siap Menyambut Kebijakan Ditjen Dikti tentang Publikasi Karya Ilmiah

2
127

Dalam surat kabar Pikiran Rakyat di Bandung, Senin, 6 Februari 2012, diberitakan bahwa dengan keluarnya Surat Keputusan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Nomor 152/ET/T/2012 tentang Publikasi Karya Ilmiah bagi Lulusan S1/S2/S3 sebagai syarat kelulusan Sarjana/Magister/Doktor, mencerminkan semangat mengejar ketertinggalan frekuensi karya ilmiah yang diterbitkan oleh para akademisi di Indonesia.

Seperti dimaklumi bahwa produktivitas dan kualitas para Guru, Dosen, dan Akademisi di Indonesia dalam melakukan penelitian dan penulisan memang masih rendah bila dibandingkan dengan negara-negara lain, termasuk dengan negara tetangga di Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand. Ditambah lagi, kelangkaan media berupa jurnal ilmiah yang berwibawa, tempat mendiseminasikan hasil-hasil penelitian dan pemikiran, merupakan faktor lain yang menyebabkan karya-karya ilmiah dari Indonesia kurang dikenal oleh masyarakat dunia.

Maka wajar pula kalau kebijakan dari Ditjen Dikti Kemdikbud RI tersebut mendapat respons yang beragam dari berbagai kalangan. Ketua APTISI (Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia), Prof Dr Edy Suandi Hamid, misalnya, menyatakan bahwa kebijakan tersebut sebaiknya dilakukan secara bertahap, mengingat dosen-dosen di PTS (Perguruan Tinggi Swasta) kurang siap dan persyaratan itu masih terlalu berat.

“Kalau ini diterapkan secara otomatis, pasti timbul keresahan. Jika calon Sarjana tidak bisa diwisuda karena karya ilmiahnya tidak ada yang dimuat di jurnal, ini bisa mengundang kerawanan sosial”, tutur Edy, yang juga sebagai Rektor UII (Universitas Islam Indonesia) di Yogyakarta.

ASPENSI Justru Paling Siap dan Mau Membantu

Sementara itu Pengurus ASPENSI (Asosiasi Sarjana Pendidikan Sejarah Indonesia) di Bandung yang membidangi masalah Penelitian, Publikasi, dan Seminar, Anzar Abdullah, M.Pd., menyatakan justru kebijakan dari Ditjen Dikti tersebut harus desambut dengan positif dan inovatif. Menurut Anzar, yang juga sebagai Dosen Jurusan Pendidikan Sejarah UVRI (Universitas Veteran Republik Indonesia) di Makassar, Sulawesi Selatan, ASPENSI sejak didirikan tahun 2006 sudah mengantisipasi kebijakan yang seperti ini.

“Kami paling siap menyambut kebijakan Ditjen Dikti tersebut. Kami juga siap membantu para Guru, Dosen, dan Akademisi yang mau menerbitkan hasil-hasil penelitian dan pemikiran yang orisinal di jurnal-jurnal ilmiah yang kami terbitkan”, kata Anzar menegaskan.

Seperti diketahui bahwa sejak tahun 2008, ASPENSI telah menerbitkan jurnal-jurnal ilmiah yang berwibawa dan dirujuk oleh para akademisi di Asia Tenggara, bahkan dunia. ASPENSI telah menerbitkan dua buah jurnal yang bertaraf internasional, yaitu EDUCARE: International Journal for Educational Studies dan TAWARIKH: International Journal for Historical Studies; serta dua buah jurnal nasional yang bertaraf regional Asia Tenggara, yaitu SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan dan ATIKAN: Jurnal Kajian Pendidikan.

“Jadi”, kata Anzar, “bukan masalah kelangkaan jurnal ilmiah yang berkualitas, tapi para Guru, Dosen, dan Akademisi di Indonesia memang kurang produktif dalam melakukan penelitian dan menuliskannya di media yang bisa dibaca dan diakses oleh banyak kalangan”.

Anzar mencontohkan bahwa dari empat jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh ASPENSI, para penulis jarang yang berasal dari lembaga di Indonesia. Universitas-universitas dari Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Philipina, dan bahkan dari Australia, Canada, dan Afrika yang justru bersemangat mengirimkan hasil-hasil penelitian dan pemikiran mereka untuk diterbitkan di jurnal ASPENSI.

“Memang, agar jurnal tersebut masuk kategori baik dan terujuk tidak hanya harus terbit secara berkala dan para penulis dan mitra bebestarinya dari berbagai negara, tapi juga harus memiliki website yang bisa dibaca dan diakses secara bebas dan gratis oleh siapa saja yang memerlukannya”, Anzar menambahkan.

Sebuah jurnal ilmiah yang berwibawa, sebagaimana jurnal-jurnal ilmiah lain di luar negeri, memang selalu memiliki portal tersendiri. Hal ini dimaksudkan juga untuk mehindari fenomena flagiarisme yang akhir-akhir ini merebak di Indonesia dan menjadi perhatian utama juga dari Ditjen Dikti Kemdikbud RI.

“Dalam dunia akademik itu ada istilah asketisme intelektual, dimana para Dosen, misalnya, harus jujur dalam melakukan penelitian dan menemukan kebenaran. Kalau dia mengutip pendapat, harus jelas sumber rujukannya. Kalau dia melakukan penelitian dan membuat tulisan, juga harus jujur dan teliti, jangan sampai karya orang lain di-klaim seolah-olah itu karya sendiri”, kata Anzar menjelaskan panjang-lebar melalui telefon genggamnya dari Makassar.

Anzar akhirnya menghimbau kepada para Guru, Dosen, dan Akademisi untuk mengunjungi portal-portal jurnal yang diterbitkan oleh ASPENSI secara online dan gratis di: www.aspensi.com

Sementara yang ingin mengirimkan hasil-hasil penelitian dan pemikirannya untuk diterbitkan di jurnal-jurnal milik ASPENSI, bisa langsung di emelkan ke: [email protected]

We are really professional managers of the scientific journals”, tegas Anzar menutup pembicaraan. [MAS]

SHARE

2 COMMENTS

  1. ASPENSI memang hebat. Punya empat jurnal, punya pula empat portal jurnalnya. Himpunan profesi lain, sudah tak punya portal, tak punya pula jurnal. Maju terus ASPENSI.

  2. Yth Pengasuh Jurnal ASPENSI Group

    Mohon informasi:
    1. Apakah jurnal EDUCARE bisa digunakan untuk KUM kenaikan pangkat dosen?
    2. Apakah EDUCARE sudah terakreditasi oleh DIKTI ?

    Terimakasih

    Wassalam,

    Waspodo Tjipto Subroto
    Unesa Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here