Andi Suwirta Bicara tentang Atang Ruswita, Pikiran Rakyat, dan Kritik Sosial

0
135

Andi Suwirta, Ketua Umum ASPENSI (Asosiasi Sarjana Pendidikan Sejarah Indonesia), ikut berpartisipasi dalam kegiatan KIBS (Konferensi Internasional Budaya Sunda) yang ke-2. Kegiatan yang diselenggarakan di Gedung Merdeka, Jalan Asia-Afrika Bandung, Jawa Barat tersebut berlangsung sejak hari Senin hingga Kamis, 19-22 Desember 2011.

Banyak pemakalah yang hadir dalam kegiatan KIBS II tersebut, baik dari dalam maupun luar negeri. Andi Suwirta dalam konferensi tersebut membawakan makalah, sebagai hasil penelitian, yang berjudul “Atang Ruswita, Pikiran Rakyat, dan Kritik Sosial”.

Menurut Andi, visi sebuah pers di Indonesia, khususnya surat kabar, biasanya sangat ditentukan oleh kebijakan dan kepentingan Pemimpin Umum dan atau Pemimpin Redaksinya. Apa saja yang dikemukakan oleh pers itu – sebagaimana nampak dalam sajian berita (news) dan pandangan-pandangannya (views) – bagaimanapun tidak bisa dilepaskan dari policy dan visi yang dimiliki oleh Pemimpin Umum dan atau Pemimpin Redaksinya.

Makalah ini mengkaji surat kabar Pikiran Rakyat (PR) di Bandung, terutama ketika dipimpin oleh Atang Ruswita, dari tahun 1980-an hingga 2000-an. Dengan menganalisis tulisan-tulisan Atang Ruswita (AR), makalah ini menunjukkan bahwa dalam menyampaikan kritik-kritik sosialnya, PR di bawah AR bersikap siniger tengah, yakni suatu pandangan dan sikap yang moderat, halus, dan sopan.

Pilihan sikap AR itu bukannya tanpa rujukan dalam nilai-nilai keislaman dan kesundaan. Menurut AR, Islam mengajarkan tabayyun atau check and re-check serta berkata dan bersikap baik pada orang lain; manakala dalam konteks budaya Sunda, prinsip silih asuh, silih asih, dan silih asah mesti diimplementasikan dalam sebuah struktur nilai kekeluargaan dimana para anggotanya saling membina dan mengingatkan atas dasar kasih sayang.

Makalah Andi Suwirta disajikan dan didiskusikan dalam sesi parallel pada hari Rabu, 21 Desember 2011. Banyak tanggapan dan pertanyaan yang berkenaan dengan pembentangan makalah tersebut. Diantaranya adalah Karno Kartadibrata, wartawan dan budayawan Sunda senior, yang mengkritik sikap dan pandangan Atang Ruswita sebagai nilai yang tidak perlu diwarisi oleh orang-orang Sunda.

Bahkan Elin Syamsuri, dosen senior Jurusan Pendidikan Bahasa Sunda UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), menilai Atang Ruswita sebagai pribadi yang pandai “mihapekeun maneh” (menitipkan diri sendiri pada orang lain).

Dalam menjawab pertanyaan dan tanggapan dari para peserta, Andi Suwirta menyatakan bahwa sikap Atang Ruswita yang moderat adalah masalah pilihan hidup dengan berbagai konsekuensinya. Namun dengan sikap seperti itu Atang Ruswita menjadi tokoh pers yang berhasil dan sukses tidak hanya pada tingkat Jawa Barat tetapi juga pada level nasional. [MAS]

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here